
TUGUJOGJA– PT Kereta Api Indonesia (Persero) melalui Daerah Operasi 6 Yogyakarta (Daop 6) menunjukkan komitmen kuat dalam mendukung uji coba penggunaan biodiesel B50 di sektor perkeretaapian.
Dukungan ini menjadi bagian penting dari langkah strategis pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendorong transisi menuju energi bersih yang berkelanjutan.
Program biodiesel dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral terus mengalami perkembangan signifikan sejak pertama kali diperkenalkan pada 2008. Pemerintah secara konsisten meningkatkan kadar campuran biodiesel, mulai dari B2,5 hingga mencapai B40 pada 2025.
Uji Coba B50
Kini, Indonesia bersiap melangkah lebih jauh dengan implementasi B50 yang akan berlaku serentak di seluruh sektor mulai 1 Juli 2026.
Langkah ini bukan sekadar kebijakan energi biasa. Pemerintah menargetkan pengurangan ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak sekaligus meningkatkan pemanfaatan sumber daya domestik berbasis nabati.
Di tengah tekanan global terhadap isu perubahan iklim, kebijakan ini juga menjadi jawaban konkret Indonesia dalam menekan emisi karbon.
Pada 2025, penggunaan biodiesel B40 pada layanan Kereta Api Jarak Jauh secara nasional mencatat total emisi karbon sebesar 127.315.192 kg CO₂e atau sekitar 127,3 ribu ton dari 47,4 juta pelanggan.
Memasuki 2026, tren keberlanjutan tersebut terus berlanjut. Pada Senin (27/4), uji coba B50 resmi dimulai di sektor transportasi kereta api, menandai babak baru dalam transformasi energi nasional.
Direktur Pengelolaan Sarana dan Prasarana KAI, Heru Kuswanto, menegaskan bahwa uji coba ini menjadi bagian dari proses besar untuk memastikan kesiapan implementasi B50 secara nasional.
Pengujian berjalan secara komprehensif di berbagai sektor, termasuk otomotif, alat mesin pertanian, alat berat pertambangan, angkutan laut, hingga pembangkit listrik.
“Uji coba ini mencakup pengujian kualitas bahan bakar, mutu pelumas, serta kinerja dan ketahanan mesin, baik pada genset maupun lokomotif,” tegas Heru dalam keterangannya.
Ia juga menekankan bahwa keterlibatan KAI bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk komitmen nyata dalam mendukung kebijakan pemerintah.
Hasil Awal Pengujian
KAI memastikan setiap tahapan uji coba berjalan terukur, berbasis data, dan diawasi secara ketat tanpa mengganggu pelayanan kepada pelanggan.
Pengujian berlangsung dalam kondisi operasional nyata, sehingga hasilnya benar-benar merepresentasikan penggunaan sehari-hari.
Untuk skema ketahanan dinamis, genset diuji hingga sekitar 2.400 jam pada lintas Jakarta–Yogyakarta. Sementara itu, lokomotif menjalani pengujian selama kurang lebih enam bulan di lintas Jakarta–Surabaya.
Dari sisi operasional daerah, Manager Humas Daop 6 Yogyakarta, Feni Novida Saragih, menyatakan kesiapan penuh pihaknya dalam mendukung program tersebut.
Daop 6 tidak hanya menyediakan sarana uji, tetapi juga melakukan pengawasan operasional serta koordinasi intensif dengan seluruh pemangku kepentingan.
“Kami memastikan seluruh proses berjalan sesuai prosedur dan tidak mengganggu pelayanan kepada pelanggan kereta api,” jelas Feni.
Lebih jauh, Feni mengungkapkan bahwa hasil awal pengujian menunjukkan performa yang menggembirakan. Temuan ini memunculkan optimisme besar terhadap kesiapan implementasi B50 secara luas, khususnya di sektor transportasi kereta api.
Biodiesel B50 sendiri merupakan campuran 50 persen bahan bakar minyak jenis solar (B0) dan 50 persen biodiesel (B100) berbasis minyak nabati.
Selain memperkuat ketahanan energi, penggunaan B50 menawarkan berbagai manfaat strategis, mulai dari penghematan devisa negara, peningkatan nilai tambah sumber daya lokal, penciptaan lapangan kerja, hingga penurunan emisi gas rumah kaca.
Di tengah dinamika global yang semakin menuntut efisiensi energi dan keberlanjutan lingkungan, langkah ini menjadi sangat krusial. KAI Daop 6 menegaskan bahwa keselamatan dan keandalan operasional tetap menjadi prioritas utama dalam setiap tahap uji coba.
Dengan dukungan lintas sektor dan pengawasan ketat, implementasi B50 akan berjalan optimal, aman, dan berkelanjutan.
Partisipasi aktif KAI Daop 6 dalam program ini sekaligus memperkuat posisi kereta api sebagai moda transportasi massal yang efisien, modern, dan ramah lingkungan. (ef linangkung)