
TUGUJOGJA- Kota Yogyakarta menghadapi lonjakan signifikan kasus leptospirosis sepanjang 2025. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta mencatat peningkatan hampir tiga kali lipat.
Kondisi ini memicu kewaspadaan tinggi dari jajaran puskesmas dan menjadi peringatan serius bagi masyarakat.
Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular (P2M) dan Imunisasi Dinkes Kota Yogyakarta, Endang Sri Rahayu, mengungkapkan temuan di lapangan.
Kasus Leptospirosis Yogyakarta
Pihaknya menemukan 10 kasus leptospirosis sepanjang 2024. Namun, pada 2025 jumlah tersebut melonjak drastis menjadi 34 kasus.
Endang menegaskan bahwa peningkatan ini tidak terjadi tanpa sebab. Ia menjelaskan bahwa puskesmas kini menerapkan kewaspadaan yang jauh lebih ketat terhadap pasien dengan keluhan demam.
“Peningkatan ini dipengaruhi kewaspadaan puskesmas yang lebih tinggi. Saat ini, setiap pasien demam yang memiliki faktor risiko langsung kami pertimbangkan sebagai kemungkinan leptospirosis,” ujar Endang.
Langkah tersebut membuat tenaga kesehatan mampu mendeteksi lebih banyak kasus yang sebelumnya berpotensi terlewat. Dinkes Kota Yogyakarta menempatkan deteksi dini sebagai strategi utama untuk menekan angka kesakitan dan mencegah komplikasi berat.
Sementara itu, Epidemiolog Kesehatan Ahli Muda Dinkes Kota Yogyakarta, Anandi Iedha Retnani, menjelaskan bahwa leptospirosis merupakan penyakit menular karena bakteri Leptospira. Penyakit ini bersifat zoonosis, yang berarti menular dari hewan ke manusia.
Anandi menyebutkan bahwa masyarakat selama ini mengenal leptospirosis sebagai flu tikus karena tikus menjadi sumber penularan paling sering.
“Penularannya paling sering berasal dari tikus. Namun, bakteri Leptospira juga dapat berasal dari hewan lain seperti babi, kuda, dan kambing,” jelas Anandi.
Bakteri tersebut masuk ke tubuh manusia melalui kulit yang terluka atau terbuka, serta melalui selaput lendir seperti hidung, mulut, dan mata.
Penularan umumnya terjadi ketika seseorang bersentuhan dengan air, tanah, atau lingkungan yang tercemar urine hewan terinfeksi, terutama saat musim hujan atau banjir.
Gejala yang Timbul
Anandi menegaskan bahwa tidak semua orang memiliki tingkat risiko yang sama. Ia menyebutkan bahwa risiko sangat bergantung pada intensitas paparan, yang sering kali berkaitan dengan pekerjaan dan aktivitas sehari-hari.
“Kelompok berisiko tinggi meliputi pekerja sawah, perkebunan, peternakan, rumah potong hewan, petugas kebersihan, serta masyarakat yang sering beraktivitas di lingkungan berisiko seperti genangan air hujan, banjir, area peternakan, lingkungan dengan populasi tikus tinggi, dan sanitasi yang buruk,” terangnya.
Ia juga mengingatkan bahwa gejala awal leptospirosis tampak ringan sehingga banyak pasien datang terlambat untuk mendapatkan penanganan medis.
“Gejala awalnya berupa demam, nyeri otot, dan rasa lemas. Banyak pasien mengira hanya kelelahan atau masuk angin. Padahal, jika tidak segera ditangani, penyakit ini dapat berkembang menjadi gagal ginjal hingga mengharuskan pasien menjalani cuci darah,” kata Anandi.
Menghadapi ancaman tersebut, Dinkes Kota Yogyakarta memperkuat sistem deteksi dini. Puskesmas kini melakukan skrining lebih ketat terhadap pasien demam yang memiliki riwayat paparan lingkungan berisiko.
Anandi menjelaskan bahwa tenaga kesehatan menggunakan beberapa metode pemeriksaan laboratorium untuk memastikan diagnosis.
“Pemeriksaan PCR efektif mendeteksi infeksi pada fase awal. RDT lebih optimal setelah tujuh hari demam, sedangkan MAT kami gunakan sebagai pemeriksaan konfirmasi. Puskesmas dapat mengirimkan sampel pasien ke laboratorium rujukan, termasuk Balai Besar Laboratorium Kesehatan,” ujarnya.
Meski leptospirosis berpotensi menimbulkan komplikasi serius, Anandi menegaskan bahwa masyarakat dapat mencegah penularan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan melindungi diri saat beraktivitas.
Ia mengimbau masyarakat untuk mencuci tangan dan kaki menggunakan sabun setelah beraktivitas di luar rumah, menggunakan alas kaki dan sarung tangan saat kerja bakti atau membersihkan lingkungan, serta menghindari kontak langsung dengan air banjir atau genangan tanpa pelindung.
Selain itu, masyarakat perlu menjaga kebersihan rumah dan lingkungan serta mengendalikan populasi tikus sebagai langkah pencegahan utama.
Dinkes Kota Yogyakarta juga meminta warga agar tidak mengabaikan gejala demam yang disertai nyeri otot, terutama setelah terpapar lingkungan kotor atau genangan air.
“Semakin cepat masyarakat memeriksakan diri ke puskesmas, semakin besar peluang kami mencegah komplikasi berat,” pungkas Anandi. (ef linangkung)