Pemkot Yogyakarta Bangun Drainase Ramah Lingkungan, Ribuan Sumur Resapan Sudah Beroperasi

Bagikan :
Ilustrasi Pemkot Yogyakarta Bangun Drainase Ramah Lingkungan, Ribuan Sumur Resapan Sudah Beroperasi/Dok. Pemkot Yogyakarta

TUGUJOGJA – Pemkot Yogyakarta membangun drainase modern di Kotagede yang terintegrasi dengan sumur resapan air hujan untuk mengurangi genangan dan menjaga cadangan air tanah.

Pemerintah Kota Yogyakarta tidak hanya membangun saluran air hujan (SAH) di kawasan Kotagede untuk mengurangi genangan saat musim hujan. Proyek yang tengah berjalan pada 2026 itu juga dirancang sebagai bagian dari upaya konservasi air tanah melalui integrasi dengan Sistem Penampungan Air Hujan (SPAH), sehingga sebagian air hujan dapat kembali meresap ke dalam tanah.

Konsep tersebut diterapkan agar air hujan tidak seluruhnya dialirkan ke sungai. Sebagian limpasan lebih dahulu ditampung dan diresapkan kembali ke dalam lapisan tanah untuk membantu menjaga cadangan air tanah di kawasan perkotaan yang terus berkembang.

Menurut Kepala Bidang terkait di Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPKP) Kota Yogyakarta, Rahmawan, sistem drainase modern kini tidak hanya berorientasi pada percepatan aliran air, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan sumber daya air.

“Melalui sistem ini, sebagian air hujan yang mengalir di saluran tidak langsung dibuang ke hilir, melainkan ditampung dan diresapkan kembali ke dalam tanah. Jadi hanya limpasan air saja yang ke sungai,” jelas Rahmawan.

Drainase dan Konservasi Air Berjalan Bersamaan

Integrasi antara SAH dan SPAH menjadi salah satu pendekatan yang mulai diterapkan Pemerintah Kota Yogyakarta dalam pembangunan infrastruktur drainase.

Baca juga  Nyaris Tembus 11 Juta Wisatawan, Pemkot Yogyakarta Akui Tantangan Berat dalam Pengelolaan Pariwisata

Melalui sistem tersebut, air hujan yang sebelumnya langsung mengalir menuju sungai kini dimanfaatkan untuk mengisi kembali cadangan air tanah. Cara ini dinilai mampu mengurangi beban saluran drainase sekaligus mendukung keberlanjutan sumber air bawah tanah.

Pendekatan tersebut juga menjadi salah satu strategi adaptasi terhadap perubahan tata guna lahan di kawasan perkotaan yang semakin didominasi permukaan kedap air seperti jalan dan bangunan.

Lebih dari 4.000 Sumur Resapan Telah Dibangun

Hingga pembaruan terbaru, Dinas PUPKP Kota Yogyakarta mencatat telah membangun 4.159 titik Sistem Penampungan Air Hujan (SPAH) di berbagai wilayah.

Jumlah tersebut akan terus bertambah sepanjang 2026. Pemerintah menargetkan pembangunan sekitar 350 titik SPAH baru yang akan diintegrasikan dengan proyek pembangunan maupun peningkatan saluran air hujan.

Program ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk:

  • Mengurangi potensi genangan saat hujan deras.
  • Menambah daerah resapan air di kawasan perkotaan.
  • Menjaga ketersediaan cadangan air tanah.
  • Mendukung sistem drainase yang lebih berkelanjutan.

Proyek Drainase Baru Juga Berjalan di Rejowinangun

Selain proyek di Kotagede, Pemkot Yogyakarta juga memulai pembangunan saluran air hujan di wilayah Kelurahan Rejowinangun.

Baca juga  Ratusan Petugas Kebersihan Gunungkidul Jalani Skrining Kesehatan dan Terima Kacamata Gratis, Bukti Nyata Peduli Pahlawan Sampah

Pekerjaan difokuskan pada akses menuju Kampung Karangsari sebagai lanjutan pembangunan drainase yang telah dikerjakan pada tahun sebelumnya.

Proyek tersebut menggunakan anggaran sekitar Rp3 miliar yang bersumber dari APBD Kota Yogyakarta 2026.

Saluran baru nantinya akan dihubungkan dengan jaringan drainase yang telah tersedia sehingga kapasitas pengaliran air hujan menjadi lebih optimal, terutama pada kawasan yang selama ini rawan terjadi genangan.***

Berita Terbaru

setu sinau 2
Setu Sinau Malioboro Tarik Antusiasme Wisatawan, Cucu Sultan HB X Turun Langsung Mengajar Aksara Jawa
images (13)
Maestro Lukis Nasirun Meninggal Sakit Apa? Ini Penyebab, Profil, dan Perjalanan Kariernya
167625436_133883862014416_3790561212049279873_n
Panduan Rute Wisata Sungai Mudal Kulon Progo dari Pusat Kota Yogyakarta, Paling Mudah Lewat Mana?
Sejarah Monumen Kecelakaan Kulon Progo
Bukan Pajangan Biasa, Ini Kisah Pilu di Balik Monumen Kecelakaan Kulon Progo
jlfr
Critical Mass JLFR Juli 2026 Diikuti Ribuan Pesepeda dengan Kondusif, Evaluasi Arus dan Titik Kemacetan untuk Gelaran Berikutnya Disiapkan

Sedang Banyak Dibaca

solo-jogja

Jadwal Lengkap KRL Soloโ€“Jogja Terbaru: Rute, Tarif, dan Waktu Keberangkatan dari Semua Stasiun

Penyebab Nasirun Meninggal

Apa Penyebab Nasirun Meninggal Dunia? Kabar Duka Maestro Seni Jogja Tutup Usia

falaq-lazuardi-o1RFviW3km4-unsplash (1)

Jadwal Lengkap KRL Jogjaโ€“Solo Semua Stasiun: Update Terbaru untuk Perjalanan Harian

pinho-yjXAtMCPdGs-unsplash

Apakah Nonton Film di Loklok Itu Aman dan Resmi? Simak Penjelasannya Berikut Ini

Sejarah Monumen Kecelakaan Kulon Progo

Bukan Pajangan Biasa, Ini Kisah Pilu di Balik Monumen Kecelakaan Kulon Progo