Pemkot Yogyakarta Siapkan Pengembangan Jalan Mataram sebagai Kampung Wisata Urban Berbasis Komunitas

Bagikan :
Wakil Wali Kota Yogyakarta memaparkan konsep wisata berbasis komunitas dalam forum diskusi pengembangan kota. (Ist)

TUGUJOGJA – Di tengah perkembangan pariwisata Kota Yogyakarta, Pemerintah Kota Yogyakarta mulai menatap satu kawasan yang selama ini kerap dilewati tetapi belum digarap optimal sebagai magnet wisata: Jalan Mataram.

Kawasan yang berada tidak jauh dari Malioboro itu kembali menjadi perhatian setelah Pemkot menyiapkan konsep pengembangan wisata baru yang melibatkan masyarakat secara langsung.

Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, mengatakan bahwa Pemkot kini menggerakkan pembentukan ekosistem wisata berbasis masyarakat melalui program One Village One Sister University.

Program ini menempatkan masyarakat sebagai pusat pengembangan pariwisata, sekaligus menghubungkan mereka dengan perguruan tinggi, akademisi, dan sektor swasta untuk membangun potensi kampung secara berkelanjutan.

“Kami mengembangkan kolaborasi masyarakat, akademisi, kampus, dan sektor swasta untuk memperkuat desa atau kampung agar tumbuh menjadi destinasi wisata baru yang hidup dan mandiri,” jelas Wawan.

Jalan Mataram: Kawasan Lama dengan Wajah Wisata Baru

Sebagai bagian dari program tersebut, Pemkot mulai menjajaki kawasan Jalan Mataram sebagai lokasi yang dinilai layak dikembangkan. Kawasan ini memiliki karakter permukiman khas perkotaan Yogyakarta dengan aktivitas warga yang dinamis.

Baca juga  Mau Foto di Plang Jalan Malioboro? Ternyata Ada 4 Titik yang Bisa Kamu Datangi

Wawan menyampaikan bahwa pemerintah melihat peluang membangun ekosistem homestay terpadu di kawasan itu. Setidaknya terdapat sekitar 20 rumah warga yang berpotensi ditata dan dikelola sebagai unit hunian wisata.

“Sekitar 20 rumah di kawasan tersebut berpotensi ditata dan dikelola bersama. Jika dikembangkan, ini tidak hanya mempercantik kawasan tetapi juga menambah destinasi wisata baru dan menggerakkan ekonomi warga,” ujarnya.

Homestay Terpadu: Konsep Wisata Urban Baru

Konsep homestay terpadu menawarkan pengalaman wisata yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Wisatawan tidak hanya menginap, tetapi juga berinteraksi langsung dengan lingkungan kampung.

Pengembangan ini diharapkan menghidupkan potensi ekonomi warga, menata lingkungan permukiman agar lebih ramah wisata, menghadirkan alternatif destinasi selain Malioboro, dan menjaga budaya kampung di tengah modernisasi.

Dengan desain terintegrasi dan pengelolaan bersama, kawasan itu diharapkan dapat berkembang sebagai “kampung wisata urban” yang memadukan budaya lokal dengan kenyamanan kota modern.

Masyarakat sebagai Kunci Penggerak Wisata Baru

Program One Village One Sister University menempatkan masyarakat sebagai pemilik dan pengelola. Perguruan tinggi menyediakan pendampingan, riset, dan strategi pengembangan, sementara sektor swasta memberikan dukungan investasi.

Baca juga  Kunjungan Wisata DIY Diprediksi Tembus 1,7 Juta saat Libur Sekolah 2026, Gunungkidul Destinasi Favorit, Malioboro Magnet Terakhir Wisatawan

Kolaborasi ini diharapkan menciptakan ekosistem wisata yang tidak hanya menarik wisatawan tetapi juga memberdayakan warga.

Pemkot menekankan bahwa pembangunan wisata tidak boleh hanya fokus pada estetika. Pembangunan harus memberikan manfaat ekonomi jangka panjang tanpa menghilangkan identitas kampung.

Jalan Mataram dinilai sebagai contoh bagaimana pengembangan kota dapat dilakukan tanpa melepaskan akar budaya dan kehidupan sosial masyarakat.

Menuju Destinasi Wisata Baru yang Lebih Hidup

Dengan rencana pengembangan yang semakin matang, Jalan Mataram bersiap menghadapi babak baru sebagai destinasi wisata urban berbasis komunitas.

Jika program berjalan sesuai rencana, kawasan ini tidak hanya menjadi wajah baru pariwisata Yogyakarta, tetapi juga bukti kolaborasi warga, pemerintah, dan dunia pendidikan dalam menciptakan perubahan.

Yogyakarta pun kembali menegaskan diri sebagai kota yang terus berinovasi sekaligus menjaga denyut kehidupan masyarakatnya.

togel online

bandar togel

situs toto

situs togel

bandar togel

togel online

situs toto

link slot

situs toto

situs slot

slot gacor

situs togel

situs slot

situs toto

bandar togel

Baca juga  Libur Panjang Jogja Diserbu Wisatawan, Sewa Motor Ludes di Banyak Tempat, Mahasiswa Rela Keliling Demi Dapat Kendaraan

slot gacor

slot resmi

situs gacor

situs slot

link slot

situs togel

slot online

slot resmi

situs gacor

situs toto

toto togel

link gacor

toto slot

togel 4d

situs toto

slot gacor hari ini

link slot

Berita Terbaru

Alasan Pohon Beringin Dianggap Mistis
Kenapa Pohon Beringin Dianggap Angker? Ini Asal Usul Mitos yang Populer di Jawa
Sejarah Wisma Kaliurang Jogja
Sejarah Wisma Kaliurang, Bangunan Cagar Budaya Bersejarah Pasca-Kemerdekaan di Jogja
inna-safa-oGtv1T0zZyw-unsplash (3)
Rekayasa Lalu Lintas Jogja Agustus 2026: Jalan Kweni-Druwo Ditutup hingga Flyover Jombor Menyempit, Ini Lokasi dan Jalur Alternatif
WhatsApp Image 2026-08-06 at 09.48
Cara ke Bukit Pengilon dari Jogja, Simak Rute, Jalur Trekking, Harga Tiket, dan Tips Perjalanan
angka-k
Kemiskinan DIY Turun ke 9,70 Persen pada Maret 2026, BPS: Tren Penurunan Berlanjut Sejak 2023

Sedang Banyak Dibaca

solo-jogja

Jadwal Lengkap KRL Solo–Jogja Terbaru: Rute, Tarif, dan Waktu Keberangkatan dari Semua Stasiun

falaq-lazuardi-o1RFviW3km4-unsplash (1)

Jadwal Lengkap KRL Jogja–Solo Semua Stasiun: Update Terbaru untuk Perjalanan Harian

angka-k

Kemiskinan DIY Turun ke 9,70 Persen pada Maret 2026, BPS: Tren Penurunan Berlanjut Sejak 2023

iman-adiansyah-q1bxjmZYwvM-unsplash

Keutamaan Menyantuni Anak Yatim di Bulan Muharram, Benarkah Doanya Mustajab?

kulinarea-1

Kulinarea 2026 Hadir di GIK UGM, Festival Kuliner yang Satukan Pelaku Industri hingga Pecinta Kuliner