
TUGUJOGJA- Kota Yogyakarta terus menghadirkan inovasi layanan sosial yang menyentuh langsung kebutuhan warganya.
Salah satu langkah paling humanis kini hadir melalui program Sekolah Lansia yang Pemerintah Kota jalankan melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB).
Program ini tidak hanya mengajak lansia tetap aktif, namun juga menyusun pembelajaran terstruktur agar mereka mampu menjalani usia senja dengan bahagia, sehat, dan mandiri.
Sekolah Lansia di Kota Yogyakarta
Di berbagai sudut Kota Yogyakarta, tawa para lansia kini sering terdengar mengisi ruangan sederhana yang bertransformasi menjadi kelas.
Mereka menyanyi, bertepuk tangan, bergerak mengikuti instruksi, hingga berdiskusi tentang kesehatan.
Semua aktivitas itu bukan sekadar hiburan, tetapi bagian dari kurikulum resmi sekolah lansia yang pemerintah susun bersama Kemendikbudristek dan BKKBN.
Kepala DP3AP2KB Kota Yogyakarta, Retnaningtyas, menegaskan bahwa program sekolah lansia hadir untuk memperbaiki kualitas hidup para warga senior.
Ia menyampaikan bahwa pemerintah ingin mencegah penurunan fungsi kognitif, menjaga kebugaran tubuh, serta menguatkan kemandirian lansia dalam kehidupan sehari-hari.
โUntuk saat ini, di Kota Yogyakarta ada enam sekolah lansia. Masing-masing berada di Purbayan tiga titik, di Suryodiningratan dan Gedongkiwo, serta satu titik di Rejowinangun,โ ungkapnya.
Enam titik tersebut menjadi pusat aktivitas 300 peserta yang rutin mengikuti pembelajaran. Pemandangan itu mencerminkan semangat lansia Yogyakarta yang tidak ingin diam dan terus melatih ingatan, kekuatan, dan kemampuan bersosialisasi.
Kurikulum Tiga Standar
Retnaningtyas menjelaskan bahwa Pemerintah Kota akan melakukan perluasan besar-besaran dengan menambah sembilan sekolah lansia baru pada tahun depan.
Ekspansi itu akan meningkatkan jumlah sekolah menjadi 15 titik pada 2026, semuanya terbiayai APBD.
Ia menegaskan bahwa masyarakat atau kampus boleh membentuk sekolah lansia secara swadaya jika memiliki komitmen yang sama. Beberapa universitas seperti UII dan UGM/UNY bahkan sudah ikut terlibat dalam pendampingan.
โKami sangat terbuka bagi masyarakat, komunitas, atau pengusaha yang ingin membentuk sekolah lansia secara swadaya,โ ujarnya.
Sekolah lansia tidak berjalan asal-asalan. Pemerintah menerapkan kurikulum terstruktur yang terbagi ke dalam tiga standar: S1, S2, dan S3. Masing-masing jenjang berlangsung selama 10 hingga 12 bulan.
Retnaningtyas menjelaskan bahwa standar ini tidak mencerminkan strata akademik seperti di perguruan tinggi. Standar tersebut justru menggambarkan tingkat pembinaan lansia dalam menjalani hidup sehari-hari.
โStandar 1 itu bersifat dasar, ringan, dan menyenangkan. Kegiatannya berisi hiburan seperti bernyanyi, tepuk tangan, dan pembekalan kesehatan. Tidak ada PR juga, nanti tidak ada yang mau masuk,โ katanya.
Setelah menyelesaikan S1, para lansia bisa melanjutkan ke S2 dan S3 dengan aktivitas lanjutan yang lebih aplikatif.
S1 mendorong kemandirian diri, S2 memperkuat peran lansia dalam keluarga, dan S3 mendorong kemandirian berbasis pemberdayaan.
Kemandirian Menjadi Tujuan Utama
Retnaningtyas menegaskan bahwa sekolah lansia tidak menargetkan lansia menjadi produktif secara ekonomi.
Tujuan utamanya justru memperpanjang usia harapan hidup, menjaga kemandirian, dan meningkatkan kebahagiaan.
โKita tidak menargetkan lansia harus produktif atau menghasilkan. Yang penting mereka tetap mandiri, bisa beraktivitas sendiri, tidak menjadi beban keluarga. Ada yang usianya 90-an tahun masih datang ke sekolah lansia, itu sudah keren,โ tuturnya.
Meskipun begitu, beberapa kelas tetap mengajarkan aktivitas kreatif yang membantu mencegah kepikunan, seperti membuat pernak-pernik.
Jika ada lansia yang masih mampu menghasilkan karya atau menambah pemasukan, hal itu menjadi nilai tambah tetapi bukan tujuan utama.
โKalau mereka bisa membuat kerajinan atau menambah pemasukan itu bagus, tapi bukan target utama. Yang utama adalah mereka tetap sehat, tidak ndeprok, dan bisa mengurus diri sendiri,โ tegasnya.
Kehadiran sekolah lansia tidak hanya menggerakkan para peserta, tetapi juga memperbaiki cara keluarga dan lingkungan memandang masa lanjut usia.
Para lansia kini memiliki ruang aman untuk belajar, tertawa, bercerita, dan tetap merasa berdaya dalam lingkungannya.
โHarapannya, dengan adanya sekolah lansia, semakin banyak lansia yang mendapatkan dukungan untuk hidup lebih sehat, mandiri, aktif, dan bahagia melalui pembelajaran yang terstruktur dan berbasis keluarga,โ tambahnya.
Dengan kurikulum yang matang, lokasi terus bertambah, serta dukungan masyarakat dan dunia pendidikan, Sekolah Lansia di Kota Yogyakarta kini berdiri sebagai bukti bahwa usia senja bukan akhir perjalanan.
Namun, usia senja adalah fase baru untuk tumbuh dengan lebih banyak senyum, sehat, dan semangat dalam menjalani hari. (ef linangkung)