
TUGUJOGJA– SMK Muhammadiyah Karangmojo menegaskan langkah besarnya sebagai Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pusat Keunggulan (PK). Mereka meresmikan gedung Ruang Praktik Siswa (RPS) Teknik Kendaraan Ringan sekaligus meluncurkan program Teaching Factory (TeFa), Selasa (19/5/2026).
Momentum penting ini menjadi tonggak baru bagi penguatan pendidikan vokasi di Kabupaten Gunungkidul. Ini juga menandai keseriusan sekolah dalam mencetak lulusan yang siap bersaing di dunia industri modern.
Suasana khidmat dan penuh semangat terasa sejak awal acara. Ratusan tamu undangan memenuhi area sekolah untuk menyaksikan peresmian fasilitas baru yang akan menjadi pusat pengembangan keterampilan berbasis industri tersebut.
Peresmian Gedung RPS SMK Muhammadiyah Karangmojo
Hadir dalam kesempatan itu Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih, jajaran pimpinan Muhammadiyah wilayah DIY, perwakilan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) DIY, guru, siswa, hingga mitra industri.
Peresmian gedung RPS dan peluncuran Teaching Factory SMK Muhammadiyah Karangmojo menunjukkan transformasi besar pendidikan vokasi. Pendidikan tidak lagi hanya berorientasi pada teori pembelajaran di kelas, melainkan menghadirkan suasana kerja nyata.
Kepala SMK Muhammadiyah Karangmojo, Tsulistianta Subhan Aziz, menyampaikan bahwa sekolahnya menerima amanah besar dari pemerintah pusat berupa bantuan senilai kurang lebih Rp5 miliar.
Penggunaan bantuan tersebut adalah sebagai berikut.
- Pembangunan gedung Ruang Praktik Siswa senilai Rp1,799 miliar
- Pengadaan peralatan praktik berstandar industri sebesar Rp2,7 miliar
- Penguatan pembelajaran senilai Rp433,5 juta.
Ia menegaskan bahwa fasilitas baru itu tidak hanya menjadi bangunan megah semata, tetapi juga akan menjadi ruang tumbuh lahirnya budaya kerja unggul bagi para siswa.
“Gedung dan fasilitas ini diharapkan menjadi pusat inovasi dan budaya kerja unggul, di mana siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga terlibat dalam proses produksi dan pelayanan profesional layaknya di dunia industri sesungguhnya,” ujarnya.
Pernyataan tersebut langsung mendapat sambutan antusias dari para tamu undangan. Kehadiran Teaching Factory memang menjadi salah satu strategi penting dalam pengembangan SMK modern.
Melalui konsep ini, siswa akan menjalani proses belajar berbasis produksi dan layanan nyata sehingga mereka mampu memahami ritme kerja industri sejak masih duduk di bangku sekolah.
Program Teaching Factory juga menjadi implementasi konkret dari kebijakan link and match yang selama ini terus didorong Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi.
Kolaborasi Lintas Sektor
Dunia pendidikan dan dunia industri kini tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Keduanya saling terhubung untuk menciptakan lulusan yang benar-benar sesuai kebutuhan lapangan kerja.
Bidang Pembinaan SMK Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga DIY, Wiwik Indriyani, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun pendidikan vokasi yang kuat dan berdaya saing tinggi.
Ia memperkenalkan konsep Kolaborasi Pentahelix atau 5K yang melibatkan Keraton atau pemerintah, kampus, komunitas, media sosial, serta kampung atau masyarakat.
Menurutnya, pendidikan vokasi tidak dapat berkembang secara maksimal apabila hanya bergantung pada sekolah semata. Semua elemen harus bergerak bersama agar siswa mendapatkan pengalaman belajar yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Salah satu langkah nyata kerja sama industri adalah bergabungnya sekolah dengan program ‘Pintar Bersama Daihatsu’ untuk mengawal kompetensi teknik dan karakter peserta didik agar sesuai dengan standar industri,” katanya.
Kerja sama dengan dunia industri itu membuka peluang besar bagi siswa SMK Muhammadiyah Karangmojo untuk mendapatkan pengalaman praktik yang lebih profesional.
Kehadiran standar industri sejak proses pembelajaran di sekolah diyakini mampu meningkatkan kualitas lulusan sekaligus memperbesar peluang kerja setelah lulus.
Namun, momen paling emosional hadir ketika Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, berdiri di hadapan para siswa dan guru. Kehadirannya terasa sangat spesial karena ia merupakan alumni SMK Muhammadiyah Karangmojo.
Kisah Bupati Endah
Dalam pidatonya, Endah berbicara sebagai sosok yang pernah menempuh perjuangan di sekolah yang sama. Dengan nada penuh haru, ia mengenang masa-masa sulit ketika masih menjadi pelajar.
Ia menceritakan bagaimana harus berjalan kaki demi menuntut ilmu hingga akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan sampai jenjang doktoral atau S3.
Cerita itu langsung menyentuh hati para siswa yang memenuhi ruangan. Banyak siswa tampak serius menyimak setiap pesan sang bupati.
“Jangan pernah berhenti bermimpi dan berjuang. Sesuatu yang tidak diperjuangkan tidak akan pernah dimenangkan,” tegas Endah.
Ia menekankan bahwa lulusan SMK memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan lulusan pendidikan lainnya. Bahkan, menurutnya, siswa SMK memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin hebat selama memiliki kemauan belajar, disiplin, dan semangat pantang menyerah.
Pidato tersebut seakan menjadi suntikan motivasi bagi para siswa untuk terus percaya diri menghadapi masa depan. Endah juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi yang semakin cepat harus berimbang dengan kesiapan sumber daya manusia yang unggul dan adaptif.
Di sisi lain, semangat kemajuan SMK Muhammadiyah Karangmojo juga tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman. Bendahara Majelis Dikdasmen PNF PWM DIY, Sarjono, menegaskan bahwa kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan pembentukan akhlakul karimah.
Menurutnya, pendidikan tidak hanya bertugas mencetak lulusan yang cerdas secara akademik dan terampil secara teknis. Namun, pendidikan juga harus mampu membangun karakter yang jujur, amanah, dan bertanggung jawab.
“Fasilitas baru ini diharapkan mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memiliki integritas dan menjadi pribadi yang amanah bagi nusa dan bangsa,” ujarnya.
Peresmian gedung RPS Teknik Kendaraan Ringan dan peluncuran Teaching Factory ini sekaligus memperlihatkan keseriusan SMK Muhammadiyah Karangmojo dalam menjawab tantangan pendidikan masa depan. (ef linangkung)