
TUGU JOGJA – Dalam perjalanan spiritual, tidak jarang seseorang merasa berada di titik nadir, jauh dari tuntunan Tuhan, dan justru akrab dengan kemaksiatan. Namun, sebuah paradoks sering kali muncul: mengapa saat ibadah mengendur dan dosa bertambah, pintu rezeki serta kenyamanan duniawi justru seolah terbuka makin lebar? Fenomena inilah yang dibahas secara mendalam oleh M. Nur Kholis Setiawan melalui bedah kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah.
M. Nur Kholis Setiawan menekankan pentingnya meningkatkan kewaspadaan atau khauf ketika seseorang menerima limpahan kebaikan dari Allah SWT di tengah kondisi spiritual yang memburuk. Mengutip hikmah ke-68 dari Syarah Asy-Syarqawi, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga ini menjelaskan bahwa kondisi tersebut berpotensi menjadi istidraj, sebuah bentuk pembiaran yang berujung pada konsekuensi fatal di kemudian hari.
Memahami Konsep Istidraj sebagai Bentuk ‘Ngelulu’
Secara leksikal, istidraj sering kali disalahpahami hanya sebagai tipu daya. Namun, M. Nur Kholis Setiawan menggunakan pendekatan yang lebih mudah dipahami masyarakat awam, khususnya dalam budaya Jawa, dengan istilah “ngelulu”. Istilah ini merujuk pada tindakan membiarkan seseorang terus melakukan kesalahan dengan cara memberikan apa yang mereka inginkan hingga mereka lupa diri.
“Istidraj itu ngelu-ngelu (ngelulu). Artinya adalah membiarkan kemudian sampai kita tidak sadar bahwa nanti suatu saat anugerah yang diberikan itu akan dicabut dan kita akan mendapatkan banyak sekali akibat yang kita dapatkan,” ujar M. Nur Kholis Setiawan dalam pemaparannya.
Pembiaran ini, menurut M. Nur Kholis Setiawan, bukanlah tanda kasih sayang yang positif dalam jangka panjang jika sang hamba justru semakin menjauh. Dalam perspektif sufistik, ini adalah alarm keras agar manusia segera melakukan introspeksi diri atau mencurigai kondisi kenyamanan yang ia miliki.
Paradoks Logika Manusia dan Ketentuan Tuhan
M. Nur Kholis Setiawan mengajak audiens untuk melihat kontradiksi ini dengan logika sehari-hari. Dalam dunia kerja, seorang karyawan biasanya mendapatkan bonus atau penghargaan karena prestasi dan ketaatannya kepada atasan. Sangat tidak masuk akal jika seorang pekerja yang terus-menerus melawan atasan justru mendapatkan kenaikan fasilitas.
Namun, dalam hubungan antara hamba dan Pencipta, sering kali terjadi situasi di mana maksiat dilakukan tetapi anugerah tetap membanjiri. “Kita diminta untuk merasa khawatir akan banyaknya kebaikan-kebaikan yang diberikan Allah kepada kita pada saat kita ini banyak sekali berbuat tidak baik bahkan berbuat yang tidak terpuji,” kata M. Nur Kholis Setiawan saat membacakan petikan hikmah ke-68.
Situasi inilah yang disebut sebagai istidraj. Allah terus memberikan kenikmatan sedikit demi sedikit (saian fa saian) hingga tiba masanya kenikmatan tersebut diambil secara mendadak atau baghtatan.
Istidraj sebagai Jalan Pulang bagi yang Merasa Jauh
Meskipun terdengar menakutkan, pemahaman tentang istidraj justru dapat menjadi alat bantu yang kuat bagi seseorang yang merasa jauh dari Tuhan. Dengan menyadari bahwa kenyamanan yang ada mungkin merupakan istidraj, seseorang akan terdorong untuk kembali ke jalan ketaatan. Ketakutan akan pencabutan nikmat secara tiba-tiba dapat memicu kesadaran spiritual untuk segera bertaubat.
Menurut M. Nur Kholis Setiawan, dimensi sufistik memang lebih banyak berkecimpung dalam “olah rasa”. Ketika seseorang merasa tidak taat namun tetap diberikan anugerah, rasa curiga terhadap diri sendiri harus dimunculkan sebagai bentuk pertahanan iman.
“Rasa kita sebagai hamba ini ketika dalam posisi yang justru tidak banyak taat kepada Allah tapi terus-menerus mendapatkan anugerah maka kita disarankan untuk mencurigai, bahkan merasa khawatir, segeralah memohon ampun kepada Allah jangan-jangan ini adalah istidraj,” tegas M. Nur Kholis Setiawan dalam video tersebut.
Kesadaran akan istidraj mengarahkan seseorang untuk tidak terbuai dengan kesehatan atau kekayaan yang tetap terjaga di tengah kemaksiatan. Sering kali, peringatan Tuhan datang tanpa tanda-tanda, seperti sakit yang mendadak atau kehilangan harta yang tidak terduga. Oleh karena itu, bagi mereka yang merasa jauh dari Tuhan, konsep istidraj adalah pengingat bahwa pintu ampunan harus segera diketuk sebelum “ngelulu” tersebut berakhir pada penyesalan yang terlambat.