
TUGUJOGJA – Struktur Jembatan Jonge yang berada di Kelurahan Pacarejo, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul, mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan serius akibat usia bangunan dan korosi yang terus menggerus konstruksi utama.
Melihat kondisi Jembatan Jonge yang semakin mengkhawatirkan, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul langsung bergerak cepat melakukan rehabilitasi intensif.
Jembatan Jonge bukan sekadar penghubung biasa. Infrastruktur yang terakhir dibangun pada tahun 1976 itu menjadi urat nadi mobilitas masyarakat di wilayah Semanu dan sekitarnya.
Ribuan kendaraan melintas setiap hari untuk menghubungkan Kelurahan Pacarejo dengan pusat pemerintahan Kapanewon Semanu serta wilayah lain seperti Candirejo, Semanu, dan Ngeposari.
Lurah Pacarejo, Suhadi, menegaskan bahwa posisi jembatan tersebut sangat strategis karena menjadi akses penting bagi kendaraan dari arah Jawa Tengah maupun Jawa Timur. Selain itu, jalur tersebut juga menjadi pintu penghubung menuju sejumlah kawasan wisata di Gunungkidul.
“Selain mobilitas lokal, jembatan ini merupakan akses utama bagi kendaraan dari arah Jawa Tengah maupun Jawa Timur, serta menjadi jalur strategis menuju kawasan wisata,” ungkap Suhadi.
Kondisi Jembatan Jonge Gunungkidul
Selama puluhan tahun berdiri, Jembatan Jonge terus menghadapi tekanan alam yang tidak ringan. Fluktuasi debit air di saluran bawah jembatan atau kalen menyebabkan bagian struktur mengalami korosi secara perlahan.
Kondisi itu semakin parah ketika sejumlah lubang dan retakan mulai muncul di beberapa bagian jembatan. Kerusakan tersebut memicu kekhawatiran masyarakat karena dapat membahayakan pengendara yang melintas, terutama saat malam hari dan musim hujan.
Suhadi menjelaskan, pemerintah kelurahan segera melaporkan kondisi darurat itu kepada Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Gunungkidul agar penanganan bisa berjalan secepat mungkin.
“Kami langsung melaporkan kondisi ini kepada Dinas PU Gunungkidul. Alhamdulillah, responsnya sangat cepat,” ujar Suhadi.
Respons cepat pemerintah daerah terbukti mampu mencegah risiko yang lebih besar. Hingga proses rehabilitasi berjalan saat ini, belum terjadi kecelakaan maupun korban jiwa akibat kerusakan jembatan tersebut.
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, turun langsung meninjau proses rehabilitasi Jembatan Jonge pada Jumat (8/5/2026).
Dalam kunjungan itu, Bupati memastikan pengerjaan berjalan sesuai target karena jembatan tersebut memiliki peran penting bagi aktivitas ekonomi dan pelayanan publik masyarakat.
Menurut Endah, pemerintah daerah tidak ingin mengambil risiko terhadap keselamatan warga. Karena kerusakan bersifat mendesak dan berada di luar perencanaan awal anggaran, Pemkab Gunungkidul memutuskan menggunakan dana swakelola agar rehabilitasi bisa segera dieksekusi tanpa harus menunggu proses panjang.
“Proyek rehabilitasi ini diperkirakan menelan anggaran sekitar Rp180 juta. Dalam peninjauan lapangan terbaru, pengerjaan rehabilitasi dilaporkan telah mencapai progres 47 persen,” kata Bupati Endah.
Langkah percepatan itu sekaligus menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam menjaga konektivitas antarwilayah di Gunungkidul. Apalagi, Jembatan Jonge menjadi jalur penting yang mendukung aktivitas ekonomi masyarakat, distribusi barang, hingga akses menuju kawasan wisata.
Target Rehabilitasi Jembatan Jonge Gunungkidul
Awalnya, rehabilitasi Jembatan Jonge diperkirakan selesai pada September 2026. Namun, melihat tingkat urgensi dan kebutuhan masyarakat yang sangat tinggi, pemerintah memutuskan mempercepat target pengerjaan.
Kini, target proyek tersebut adalah rampung sepenuhnya pada Juni 2026 agar masyarakat dapat kembali melintas dengan aman dan nyaman.
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul juga menegaskan bahwa penanganan Jembatan Jonge menjadi prioritas utama dibanding sejumlah laporan infrastruktur lainnya.
Faktor kewenangan kabupaten dan tingginya risiko keselamatan masyarakat menjadi alasan utama percepatan rehabilitasi.
“Saya minta untuk menangani secepatnya. Saya takutnya kalau nanti semakin lama dia akan semakin lebar, orang tidak akan melintas dengan aman,” tegas Bupati Endah.
Selain fokus pada rehabilitasi jembatan, Bupati Endah juga terus menggalakkan budaya gotong royong bersama masyarakat dalam penanganan bencana dan perbaikan infrastruktur di berbagai wilayah Gunungkidul.
Semangat kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat tersebut menjadi kekuatan utama dalam menjaga keselamatan publik, terutama di tengah tantangan infrastruktur yang mulai menua.
Di balik proses rehabilitasi Jembatan Jonge, tersimpan harapan besar masyarakat agar akses vital itu kembali kokoh menopang aktivitas sehari-hari. Jembatan tersebut bukan hanya bangunan penghubung, melainkan penggerak roda ekonomi dan mobilitas antarwilayah di Gunungkidul.(ef linangkung)