
TUGU JOGJA – Musim kemarau mulai berdampak pada pasokan air bersih di Kabupaten Gunungkidul. Debit air di Goa Keceme, yang menjadi sumber utama penyediaan air bersih bagi warga Kalurahan Girisekar, Kapanewon Panggang, dilaporkan turun drastis sehingga pengelola terpaksa mengurangi operasional pompa air.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran akan terjadinya krisis air bersih yang mengancam ribuan warga apabila penurunan debit terus berlanjut selama musim kemarau.
Penurunan debit di Goa Keceme menjadi indikator berkurangnya cadangan air bawah tanah di kawasan perbukitan karst Gunungkidul. Jika tidak segera diantisipasi, pasokan air bersih untuk kebutuhan rumah tangga masyarakat berpotensi terganggu seiring semakin panjangnya musim kemarau.
Situasi itu mendorong komunitas relawan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta turun langsung melakukan pemantauan ke dalam Goa Keceme.
Mereka tidak sekadar memeriksa kondisi sumber air, tetapi juga melakukan aksi gotong royong membersihkan endapan lumpur dan bebatuan yang menutup lubang mata air agar aliran air dapat kembali lancar.
Perjalanan menuju sumber air bukanlah pekerjaan mudah. Mata air berada sekitar 20 meter dari mulut goa, melewati lorong sepanjang kurang lebih 83 meter dengan kondisi ruang yang lembap dan gelap. Di balik lorong itulah sumber kehidupan bagi ratusan keluarga mengalir setiap hari.
Dasar Kolam Sumber Air Dipenuhi Lumpur
Hasil pemantauan memperlihatkan kondisi yang memprihatinkan. Permukaan air pada static tank di dalam goa turun hingga sekitar 140 sentimeter dibandingkan kondisi normal. Dasar kolam yang selama ini menjadi titik pengambilan air juga dipenuhi lumpur serta material batu yang diduga terbawa longsoran saat musim penghujan beberapa waktu lalu.
Material tersebut mempersempit jalur keluarnya air dari sumber utama sehingga relawan bersama petugas BPBD segera melakukan pembersihan. Mereka mengangkat batu satu per satu dan mengeruk lumpur agar lubang mata air kembali terbuka.
“Upaya tersebut diharapkan mampu memperlancar aliran air sekaligus mengoptimalkan kinerja pompa ketika debit kembali meningkat,” ujar Koordinator kegiatan, Agus Fitriyanto Hidayat.
Agus menjelaskan bahwa pemantauan dilakukan setelah pengelola melaporkan penurunan debit yang cukup signifikan. Kondisi itu mulai berdampak terhadap distribusi air bersih kepada masyarakat sehingga perlu penanganan cepat agar pasokan tidak terputus.
Goa Keceme selama ini menjadi urat nadi kehidupan warga di Kampung Ngurik, Padukuhan Waru, Kalurahan Girisekar. Air dari dalam perut bumi itu menghidupi sekitar 200 kepala keluarga atau hampir seribu jiwa. Selain memenuhi kebutuhan minum dan rumah tangga, air tersebut juga menjadi sumber utama untuk kebutuhan ternak yang menjadi mata pencaharian sebagian warga.
Namun kini, sumber kehidupan itu mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Menurut pengurus Mata Air Goa Keceme, Yunarno, debit air saat ini hanya berkisar 0,3 liter per detik. Angka tersebut turun jauh dibandingkan kondisi normal ketika musim penghujan masih menyuplai cadangan air bawah tanah.
Penurunan debit itu langsung terlihat dari kondisi kolam penampungan alami di dalam goa. Kedalaman air yang biasanya cukup untuk menopang operasional pompa kini hanya tersisa sekitar 30 sentimeter. Air yang semakin dangkal memaksa pengelola memiringkan posisi pompa agar tetap mampu mengisap air.
Jika sebelumnya empat unit pompa berkekuatan dua horse power dapat beroperasi secara normal, kini hanya dua pompa yang dijalankan secara bergantian. Pengelola harus menunggu kolam kembali terisi sebelum pompa berikutnya dinyalakan. Pola tersebut dilakukan agar sumber air tidak mengalami penyedotan berlebihan yang justru dapat mempercepat kekeringan.
Air yang berhasil dipompa kemudian dialirkan melalui jaringan pipa sepanjang 300 hingga 500 meter menuju reservoir yang berada di ketinggian sekitar 150 meter di atas permukaan laut. Medan yang menanjak membuat sistem distribusi membutuhkan tenaga listrik cukup besar.
Seluruh sistem pompa telah dirancang bekerja secara otomatis untuk menjaga kontinuitas distribusi. Daya listrik yang digunakan terbagi pada dua titik, yakni 5.500 watt di mulut goa dan 3.500 watt di bagian tengah jalur distribusi.
Meski menghadapi tekanan akibat kemarau, pengelola berupaya mempertahankan pelayanan kepada masyarakat. Distribusi air tetap dilakukan dengan tarif Rp6.000 per meter kubik agar seluruh warga tetap memperoleh akses air bersih di tengah kondisi yang semakin sulit.
Goa Keceme Bukan Sekadar Sumber Air
Bagi masyarakat Girisekar, Goa Keceme bukan sekadar sumber air. Goa itu menjadi penopang kehidupan yang menjaga aktivitas rumah tangga tetap berjalan setiap hari. Ketika debit air menurun, bukan hanya pompa yang bekerja lebih keras, tetapi juga harapan warga untuk melewati musim kemarau tanpa krisis air.
Setiap tetes air yang keluar dari lorong batu kapur kini memiliki arti yang jauh lebih besar. Air itu menjadi penentu keberlangsungan hidup ratusan keluarga yang selama bertahun-tahun menggantungkan kebutuhan mereka pada mata air alami tersebut.
Apabila kemarau berlangsung lebih panjang tanpa hujan yang mampu mengisi kembali cadangan air bawah tanah, tekanan terhadap sumber air diperkirakan akan semakin berat.
Karena itu, pemantauan berkala, pembersihan sumber mata air, serta pengelolaan distribusi secara efisien menjadi langkah penting agar pasokan air bersih bagi hampir seribu warga tetap terjaga hingga musim penghujan tiba.
Di tengah ancaman kekeringan yang terus membayangi Gunungkidul, Goa Keceme kembali mengingatkan bahwa air merupakan sumber kehidupan yang harus dijaga bersama.
Ketika debit mulai menyusut, gotong royong masyarakat menjadi benteng pertama untuk memastikan setiap rumah masih dapat menikmati aliran air bersih di tengah kemarau yang belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. (ef linangkung)