
TUGU JOGJA – Musim kemarau mulai memicu kekhawatiran krisis air di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dari total 359 telaga yang tersebar di 18 kapanewon, hanya sekitar 5 hingga 10 telaga yang masih menyimpan cadangan air dan dapat dimanfaatkan masyarakat.
Sementara sebagian besar telaga lainnya telah mengering akibat kemarau panjang yang melanda hampir seluruh wilayah Gunungkidul.
Kondisi tersebut terlihat dari dasar sejumlah telaga yang kini berubah menjadi tanah retak, lumpur mengering, serta hamparan batuan karst dan rerumputan liar yang tumbuh di bekas permukaan air.
Telaga yang selama ini menjadi salah satu sumber air bagi masyarakat saat musim kemarau kini tidak lagi mampu menyediakan cadangan air seperti tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini menjadi sinyal meningkatnya ancaman krisis air bersih di wilayah Gunungkidul.
Musim Kemarau 2026: Penyusutan Debit Air Cepat
Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat, dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Kabupaten Gunungkidul, Sigit Swastono, mengatakan musim kemarau tahun ini memberikan dampak yang sangat besar terhadap ketersediaan air permukaan.
Menurutnya, bukan hanya mata air yang mengalami penyusutan debit, tetapi sebagian besar telaga yang selama ini menjadi tumpuan masyarakat juga kehilangan cadangan air.
“Sebagian besar telaga di Gunungkidul mengering pada musim kemarau ini sehingga tidak dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Hanya sekitar lima sampai sepuluh telaga saja yang saat kemarau ini masih tetap ada airnya dan dapat digunakan oleh warga,” kata Sigit.
Keberadaan telaga memiliki peran yang sangat penting bagi masyarakat Gunungkidul. Selama bertahun-tahun, telaga menjadi sumber air alternatif untuk mengairi lahan pertanian, memenuhi kebutuhan ternak, hingga menunjang berbagai aktivitas masyarakat ketika musim penghujan telah berlalu.
Berdasarkan Surat Keputusan Bupati Gunungkidul Nomor 345/KPTS/2022 tentang Penetapan Daftar Telaga, terdapat sedikitnya 359 telaga yang tersebar di berbagai wilayah.
Namun, tidak semua telaga memiliki kemampuan yang sama dalam menyimpan air. Sebagian telaga hanya mampu menampung air ketika musim hujan dan cepat kehilangan cadangan air saat kemarau datang.
Penyebab Pengeringan Telaga
Fenomena tersebut tidak terjadi tanpa sebab. Sigit menjelaskan bahwa ada sejumlah faktor yang mempercepat proses pengeringan telaga. Musim kemarau yang panjang berpadu dengan rendahnya curah hujan membuat pasokan air baru hampir tidak tersedia. Di sisi lain, tingginya tingkat penguapan secara alami terus mengurangi volume air yang tersisa.
Kondisi geologi Gunungkidul yang didominasi kawasan karst juga menjadi tantangan tersendiri. Karakter batuan kapur yang berpori membuat air lebih mudah meresap ke dalam tanah dibanding bertahan di permukaan. Selain itu, sedimentasi yang terus terjadi menyebabkan kapasitas tampung telaga semakin berkurang dari tahun ke tahun.
Ketika hujan turun, air yang masuk ke telaga tidak lagi mampu bertahan lama karena ruang tampungnya semakin menyempit akibat endapan lumpur. Akibatnya, cadangan air cepat habis saat kemarau mulai berlangsung.
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul sebenarnya terus berupaya mempertahankan fungsi telaga sebagai penyimpan air. Salah satu langkah yang ditempuh yakni mengusulkan program pengerukan sedimen kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak agar kapasitas tampung telaga dapat kembali meningkat.
Namun, keterbatasan anggaran membuat pelaksanaan program tersebut belum dapat berjalan secara menyeluruh. Hingga saat ini, proses pengerukan masih dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan pembiayaan.
“Untuk tahun ini belum ada informasi tindak lanjut pengerukan telaga,” ujar Sigit.
Meski demikian, pemerintah daerah memastikan upaya revitalisasi telaga tetap menjadi perhatian. Berbagai langkah sederhana dinilai dapat memberikan dampak besar apabila dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat.
Salah satu upaya yang terus didorong adalah penghijauan di kawasan sekitar telaga. Vegetasi dinilai mampu meningkatkan kemampuan tanah menyerap sekaligus menyimpan air sehingga proses pengisian kembali cadangan air dapat berlangsung lebih baik saat musim hujan tiba.
“Kami mendorong partisipasi masyarakat melakukan penghijauan di kawasan sekitar telaga serta aksi-aksi lainnya untuk dapat mengembalikan telaga ke fungsi semula dan tidak mudah mengering,” ungkap Sigit.
Di tengah ancaman krisis air yang terus berulang setiap musim kemarau, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul juga mulai menyiapkan langkah berbasis ilmu pengetahuan. Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Gunungkidul, Sugeng Prihartanto, mengungkapkan bahwa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sedang menjajaki kolaborasi dengan pemerintah daerah.
Kolaborasi tersebut akan berfokus pada pengembangan sistem pemantauan ketersediaan air telaga karst menggunakan teknologi remote sensing atau penginderaan jauh. Melalui penelitian tersebut, BRIN akan memetakan lokasi telaga sekaligus mendata kondisi air permukaan di kawasan Karst Gunung Sewu UNESCO Global Geopark.
Pemerintah daerah tidak hanya berharap penelitian itu menghasilkan peta kondisi telaga, tetapi juga mampu mengungkap kemampuan setiap kawasan dalam menangkap, menyimpan, dan mempertahankan cadangan air.
Sugeng mengatakan pihaknya meminta BRIN melakukan analisis secara lebih mendalam terhadap wilayah tangkapan air, kapasitas tampung telaga, hingga kemampuan kawasan karst menyimpan air pada musim kemarau.
“Kami juga meminta BRIN meneliti metode yang paling tepat untuk merehabilitasi telaga-telaga di Gunungkidul agar tidak mudah mengering ketika musim kemarau datang,” ujarnya.
Bagi masyarakat Gunungkidul, telaga bukan sekadar bentang alam yang menghiasi kawasan perbukitan karst. Telaga merupakan sumber kehidupan yang menopang aktivitas pertanian, terutama tanaman hortikultura, sekaligus menjadi cadangan air saat sumber-sumber lain mulai mengering.
Karena itu, hasil penelitian BRIN nantinya diharapkan menjadi dasar penyusunan kebijakan jangka panjang dalam pengelolaan sumber daya air. Pemerintah berharap rekomendasi ilmiah tersebut mampu memperkuat strategi menghadapi ancaman kekeringan, memperluas layanan penyediaan air bersih, sekaligus menjaga keberlanjutan sektor pertanian yang menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat Gunungkidul. (ef linangkung)