
TUGUJOGJA – Belakangan ini, jagat media sosial khususnya TikTok ramai oleh perdebatan seputar gaya hidup go vegan. Perbincangan itu mencuat setelah sebuah akun bernama @bahagia.vegan8 mengunggah serangkaian video yang berisi ajakan berhenti mengonsumsi produk hewani.
Narasi yang dibangun cukup kuat, makan daging dinilai sama dengan menyakiti dan merampas nyawa makhluk hidup lain.
Di balik akun tersebut, publik kemudian mengenal sosok Nico Hernawan, seorang konten kreator yang secara konsisten menyuarakan gaya hidup vegan. Video-videonya bukan hanya memicu reaksi emosional, tetapi juga memancing diskusi luas soal etika, lingkungan, dan masa depan bumi.
Lantas, siapa Nico Hernawan sebenarnya dan mengapa ajakan go vegan miliknya bisa menjadi viral?
Siapa Sosok Nico Hernawan?
Nama Nico Hernawan mulai banyak dibicarakan setelah beberapa videonya di TikTok menyebar luas. Melalui akun @bahagia.vegan8, Nico menyampaikan pesan bahwa manusia seharusnya berhenti mengonsumsi hewan demi kemanusiaan dan keberlanjutan lingkungan.
Salah satu ucapannya yang paling banyak dikutip berbunyi: “Nggak ada yang ikhlas diambil nyawanya secara paksa, Go Vegan!”
Kalimat tersebut dinilai menggugah, sekaligus memicu kontroversi. Sebagian warganet merasa tersentuh, namun tidak sedikit pula yang menganggap pernyataan itu terlalu ekstrem.
Bagi Nico, menjadi vegan bukan sekadar pilihan makanan, melainkan sebuah gerakan moral dan ekologis. Ia meyakini bahwa menghapus konsumsi produk hewani adalah salah satu langkah paling efektif untuk menyelamatkan bumi dari krisis iklim.
Ia memiliki akun TikTok dengan nama @nico.hernawan6. Sedangkan, akun IG @nico_xauudscalper. Sementara itu, ia merupakan lulusan Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
Profil yang ditulis pada blog pribadinya, saat menjadi mahasiswa yang menuliskan informasi bahwa terlibat mengikuti organisasi-organisasi di luar kuliah seperti INLA (International Loving Nature Association) dan IVS (Indonesia Vegetarian Society). Alasannya, karena ia adalah salah satu orang yang bervegetarian di universitas tersebut.
Go Vegan dan Lingkungan: Apa Kata Riset?
Ajakan Nico ternyata tidak berdiri tanpa dasar. Sejumlah penelitian dan laporan media internasional memang menunjukkan bahwa pola makan berbasis nabati memiliki dampak lingkungan yang jauh lebih rendah.
Laporan The Guardian pada 22 Desember 2025 menyebutkan bahwa mengurangi konsumsi daging dan produk susu dapat membantu menekan beban lingkungan secara signifikan. Namun, laporan itu juga menegaskan bahwa tidak semua orang harus langsung menjadi vegan dalam waktu singkat, karena perubahan pola makan memerlukan adaptasi sosial, ekonomi, dan kesehatan.
Sebuah studi besar menunjukkan bahwa pola makan vegan mampu menghasilkan hingga 75 persen lebih sedikit emisi gas rumah kaca dibandingkan pola makan berbasis hewani. Dampak positifnya meliputi:
- Penurunan risiko pemanasan global
- Berkurangnya pencemaran air
- Lebih sedikit penggunaan lahan
- Tekanan yang lebih rendah terhadap sumber daya alam
Tak hanya itu, diet vegan juga disebut mampu mengurangi kerusakan ekosistem satwa liar hingga 66 persen dan menghemat penggunaan air sebesar 54 persen.
Mengapa Konsumsi Daging Dianggap Bermasalah?
Sistem pangan global saat ini memberi tekanan besar terhadap bumi. Produksi makanan khususnya daging dan produk susu berkontribusi besar terhadap berbagai masalah lingkungan.
Beberapa fakta penting yang sering dikutip para peneliti antara lain:
- 70 persen air tawar dunia digunakan untuk sektor pertanian
- 80 persen pencemaran sungai dan danau berasal dari aktivitas pangan
- 75 persen lahan darat di bumi telah digunakan manusia, terutama untuk peternakan dan pertanian
Sebagian besar lahan ini dialokasikan untuk memproduksi pakan ternak dan peternakan. Akibatnya, hutan dibabat, habitat alami rusak, dan keanekaragaman hayati terancam punah.
Inilah yang kemudian dijadikan dasar oleh para aktivis vegan termasuk Nico Hernawan bahwa mengurangi konsumsi produk hewani adalah salah satu cara paling langsung untuk menyelamatkan alam.
Apakah Diet Rendah Daging Sudah Cukup?
Meskipun banyak pihak sepakat bahwa mengurangi konsumsi daging penting, tidak semua ilmuwan sepakat bahwa solusi terbaik adalah menjadi vegan sepenuhnya.
Richard Tiffin, profesor dari University of Reading, menyatakan bahwa pola makan vegan memang berpotensi menurunkan emisi, tetapi perubahan drastis dan mendadak tidak selalu realistis bagi semua orang.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa di negara maju, peralihan menuju diet yang jauh lebih rendah produk hewani dapat membuat sistem pangan global menjadi lebih berkelanjutan. Namun, proses ini membutuhkan kebijakan, edukasi, dan dukungan sosial.
Para peneliti juga menekankan bahwa teknologi baru dan pengurangan limbah makanan saja tidak cukup. Emisi gas rumah kaca dari peternakan sapi dan domba sangat besar, sehingga perubahan pola konsumsi tetap diperlukan.
Dalam sebuah kajian, bahkan disebutkan bahwa diet vegan mampu mengurangi dampak lingkungan hingga 93 persen dibandingkan pola makan rendah daging.
Apa yang Kita Makan Lebih Penting daripada Cara Produksinya
Sebuah studi besar yang melibatkan 55 ribu orang di Inggris serta data dari 38 ribu pertanian di 119 negara menghasilkan kesimpulan penting, yakni jenis makanan yang dikonsumsi lebih menentukan dampak lingkungan dibandingkan metode produksinya.
Bahkan daging babi organik yang diproduksi dengan cara paling ramah lingkungan pun tetap memiliki jejak karbon yang tinggi.
Karena itu, para peneliti mendorong pemerintah agar lebih berani mengatur jumlah konsumsi daging masyarakat. Meski demikian, pemerintah Inggris sejauh ini menolak mengintervensi pola makan warganya secara langsung.
Profesor Peter Scarborough dari Oxford University menegaskan bahwa pilihan diet masyarakat memiliki pengaruh besar terhadap kondisi bumi. Mengurangi produk hewani, menurutnya, dapat membawa perubahan signifikan terhadap jejak karbon global.
Kenapa Ajakan Nico Hernawan Jadi Viral?
Fenomena viral Nico Hernawan tidak bisa dilepaskan dari isu global tentang krisis iklim dan etika konsumsi. Ketika banyak orang mulai khawatir tentang masa depan bumi, pesan yang disampaikan Nico terasa relevan dan provokatif.
Gaya penyampaiannya yang tegas, emosional, dan langsung ke inti persoalan membuat banyak orang merasa tertantang untuk berpikir ulang tentang apa yang mereka makan setiap hari.
Di sisi lain, pendekatan yang cenderung frontal juga memicu perdebatan sengit di kolom komentar. Ada yang mendukung penuh, tetapi ada pula yang menilai ajakannya terlalu menyudutkan.
Namun justru dari kontroversi itulah, nama Nico Hernawan dan seruan go vegan semakin meluas di ruang publik digital.
Kisah viral Nico Hernawan menunjukkan bahwa isu makanan kini bukan lagi sekadar soal selera, melainkan juga menyentuh ranah etika, lingkungan, dan masa depan planet. Terlepas dari pro dan kontra, ajakan go vegan yang ia suarakan telah berhasil memantik diskusi penting sejauh mana pola makan kita berkontribusi terhadap krisis iklim?
Dan mungkin, dari perdebatan inilah kesadaran baru tentang konsumsi yang lebih bertanggung jawab akan mulai tumbuh.
***