
TUGUJOGJA — Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, menegaskan bahwa industri tekstil bukan sekadar urusan ekonomi, melainkan simbol peradaban manusia. Tekstil menjadi saksi perjalanan panjang kreativitas, kebudayaan, dan kemanusiaan.
Pernyataan itu ia sampaikan dalam Welcome Dinner The International Textile Manufacturers Federation (ITMF) dan International Apparel Federation (IAF) Annual Meeting 2025.
Tekstil sebagai Cermin Peradaban dan Tantangan Keberlanjutan
Sri Sultan mengingatkan bahwa sejak awal sejarah manusia, tekstil telah menjadi penanda kemajuan zaman. Dari lembaran kain tenun sederhana hingga material canggih yang dipadu dengan teknologi nano, tekstil merekam jejak evolusi manusia.
“Esensi dari peradaban tekstil adalah industri yang tumbuh dengan merespons setiap kebutuhan dasar umat manusia,” ucap Sultan.
Namun, di balik kemajuan tersebut, Sultan menilai ada “badai besar” yang kini menghadang industri tekstil dunia. Ia menyebut tantangan itu sebagai bentuk peradaban baru yang tak hanya menguji kreativitas manusia, tetapi juga kepeduliannya terhadap bumi dan sesama.
“Tantangan pertama adalah tekanan keberlanjutan yang multidimensi,” tegas Sri Sultan.
Ia menggambarkan bagaimana perubahan iklim telah memaksa industri bertransformasi dari ekonomi linear menuju ekonomi sirkular yang regeneratif.
Menurutnya, isu keberlanjutan tak sekadar tentang pengurangan limbah atau pembuatan produk ramah lingkungan, tetapi juga mencakup upaya menekan konsumsi air yang masif, mengurangi polusi mikroplastik, serta memangkas emisi karbon di setiap rantai produksi.
“Ini bukan sekadar reformasi teknis, tetapi revolusi kesadaran. Dunia menuntut industri tekstil untuk tidak hanya memproduksi kain, tetapi juga harapan bagi bumi yang lestari,” ujar Sultan.
Disrupsi Digital, Jurang Teknologi, dan Rantai Pasok Global
Tantangan berikutnya, kata Sultan, muncul dari derasnya arus digitalisasi. Revolusi Industri 4.0 membawa otomasi, kecerdasan buatan (AI), dan blockchain yang mengubah lanskap produksi secara besar-besaran. Namun, di balik kemajuan itu, terdapat jurang lebar antara korporasi besar dan pelaku UMKM tradisional.
“Ketika pabrik raksasa melaju dengan robot dan data, banyak pengrajin tenun masih berjuang dengan alat sederhana,” tutur Sultan.
Ia menegaskan bahwa kesenjangan tersebut bisa menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan industri tradisional yang selama ini menjaga nilai-nilai kearifan lokal.
Selain itu, Sultan menyoroti kompleksitas rantai pasok global yang semakin rumit. Sistem distribusi lintas negara memang menciptakan efisiensi, tetapi juga menimbulkan kerentanan besar terhadap guncangan global, mulai dari pandemi, konflik geopolitik, hingga fluktuasi harga bahan baku.
“Dalam dunia yang saling terhubung ini, satu gangguan di satu titik bisa menjalar menjadi krisis di seluruh rantai produksi,” kata Sultan.
Menuju Era “Textile 5.0” dan Evolusi Kebutuhan Sandang
Berangkat dari beragam tantangan tersebut, Sri Sultan menyerukan visi baru: berpikir dalam ekosistem, bukan sekadar sektor. Menurutnya, kolaborasi lintas disiplin merupakan kunci masa depan industri tekstil.
“Industri tekstil masa depan harus menjadi ruang kolaborasi antara data saintifik dan maestro tenun, antara insinyur bioteknologi dan perajin tradisional, antara regulator yang visioner dan pelaku industri yang gesit,” ujarnya.
Sultan mengajak seluruh pihak untuk membangun peta jalan menuju “Textile 5.0”, sebuah era di mana industri tekstil menjadi pionir keberlanjutan, inklusivitas, dan kecerdasan buatan tanpa kehilangan jati diri dan nilai budaya.
Dalam kesempatan yang sama, Sri Sultan menyinggung pula perubahan fungsi sandang. Menurutnya, kebutuhan dasar manusia terhadap sandang tidak pernah surut, melainkan terus berevolusi mengikuti perkembangan zaman.
“Seiring pertumbuhan populasi dan meningkatnya kelas menengah dunia, kebutuhan ini tak hanya bertambah dari sisi kuantitas, tapi juga kualitas, keberlanjutan, dan functionality,” ujar Sultan.
Kini, kain tidak lagi hanya berfungsi sebagai pelindung tubuh, tetapi telah berevolusi menjadi smart fabrics yang mampu memantau kesehatan, bio-textiles yang ramah lingkungan, hingga material hasil rekayasa nano yang revolusioner.
350 Delegasi Dunia Hadiri Forum Tekstil di Yogyakarta
Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Jemmy Kartiwa Sastratmaja, menyatakan bahwa ITMF dan IAF Annual Meeting 2025 dihadiri sekitar 350 tamu, terdiri dari 268 delegasi mancanegara dan 89 peserta dari dalam negeri.
Menurutnya, ajang ini menjadi momentum strategis untuk bertukar pengetahuan serta membangun kesepahaman global menuju industri tekstil yang berkelanjutan.
“Pelaku tekstil DIY merayakan semangat kolaborasi lintas batas, demi masa depan tekstil yang lebih hijau dan manusiawi,” ujar Jemmy.
Tema pertemuan tahun ini, “Menavigasi Ketidakpastian dan Mengadopsi Teknologi: Jalan Menuju Kekuatan Berkelanjutan dalam Industri Tekstil dan Pakaian Jadi,” menegaskan pentingnya inovasi di tengah perubahan global yang cepat.
Yogyakarta dipilih sebagai tuan rumah karena dinilai memiliki kekayaan warisan seni, kerajinan, dan kreativitas yang selaras dengan semangat industri tekstil dunia.
Batik dan Fashion Lokal Warnai Forum Dunia
Selama dua hari penyelenggaraan, 24–25 Oktober 2025, pertemuan internasional ini juga dimeriahkan oleh Eksibisi “Batik dalam Daur Hidup” karya Afif Syakur, serta fashion show dari API DIY.
Panggung kain batik, tenun, dan busana kontemporer berpadu indah, mencerminkan semangat Yogyakarta sebagai jantung kebudayaan dan inovasi tekstil Nusantara.