
TUGU JOGJA – Setelah sukses besar dengan Saranjana: Kota Gaib yang mencetak 1,2 juta penonton, semesta sinema horor Indonesia bersiap menyambut prequel resminya, Kuyank. Film ini berhasil mencuri perhatian dan diputar dalam Special Screening Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-20 pada 6 Desember 2025, sebelum dijadwalkan rilis secara nasional mulai 29 Januari 2026.
Kuyank menjanjikan kisah yang lebih gelap, mendalam, dan berakar pada kekayaan budaya Kalimantan, menggali teror urban legend Kuyang. Film ini diarahkan oleh Johansyah Jumberan, seorang sutradara yang merupakan talenta asli Kalimantan Selatan, yang menjamin autentisitas cerita yang diangkat.
Penayangan Kuyank dalam JAFF ke-20 menjadi validasi kualitas karya yang berani mengangkat narasi lokal dengan standar produksi tinggi.
Konflik Budaya dan Tekanan Adat Melahirkan Teror
Inti dari Kuyank bukan sekadar melulu tentang penampakan, melainkan perjuangan emosional dan moral seorang perempuan yang terhimpit oleh tekanan adat dan ramalan. Film ini mengambil latar waktu tujuh tahun sebelum gerbang Saranjana terbuka.
Kisah dimulai dengan Rusmiati, gadis kampung sederhana, dan Badri, lelaki terpandang, yang nekat menikah meski ramalan menyebut pernikahan mereka akan membawa kesialan. Ketika mereka tak kunjung dikaruniai anak, tekanan memuncak dari ibu mertua yang mendesak Badri untuk menikah lagi.
Terhimpit rasa takut kehilangan suami dan martabatnya, Rusmiati mengambil jalan gelap: mempelajari ajian Kuyang, ilmu hitam kuno yang diyakini memberinya kecantikan dan keabadian. Keputusan tragis ini justru memicu rangkaian teror, di mana bayi dan perempuan hamil di kampung tersebut menjadi korban misterius.
Perpaduan antara horor, drama keluarga, dan budaya inilah yang membuat Kuyank menjadi pengalaman sinema yang kaya, menghadirkan teror yang lahir dari kengerian sanksi sosial dan adat.
Otentisitas: 100% Kalimantan dan Bahasa Banjar
Untuk memastikan narasi horor ini disampaikan dengan tingkat otentisitas tertinggi, proses produksi Kuyank dilakukan secara total di Kalimantan. Film ini sepenuhnya mengambil lokasi shooting di berbagai wilayah di Kalimantan.
Komitmen terhadap budaya lokal diwujudkan melalui penggunaan 50 persen Bahasa Banjar. Keberanian ini patut diapresiasi, mengingat penggunaan bahasa daerah yang dominan jarang terjadi dalam film horor berskala nasional.
Selain itu, keterlibatan talenta lokal Kalimantan, termasuk musisi Jeff Banjar yang kembali menciptakan soundtrack dalam Bahasa Banjar menjadi kunci sukses dalam menghadirkan atmosfer yang benar-benar mencekam.
Peningkatan Skala Produksi dan Star Power
Dibandingkan dengan Saranjana, film Kuyank diproduksi dengan skala yang lebih besar, terutama dalam pengerjaan visual dan efek gaib. Kuyank berupaya mengangkat standar film horor lokal ke level yang lebih premium.
Efek Computer Generated Imagery (CGI) film ini dipercayakan kepada LMN Studio, salah satu studio VFX terbaik di Indonesia. Pengerjaan CGI premium ini diharapkan mampu menghadirkan sosok Kuyang yang lebih nyata dan berkualitas tinggi.
Film ini didukung oleh jajaran aktor papan atas, termasuk Rio Dewanto, Barry Prima, Jollene Marie, Ochi Rosdiana, Dayu Wijanto, Ananda George, dan Hazman Al Idrus, yang berkolaborasi dengan talenta lokal Kalimantan.
Di akhir cerita, saat jati diri Rusmiati terbongkar, Badri dihadapkan pada pilihan paling pahit: melindungi perempuan yang ia cintai yang terperangkap dalam kutukan, atau menyerah pada tekanan masyarakat yang menuntut amuk massa.
Kuyank adalah drama horor yang menguji batas cinta melawan kutukan. Setelah sukses tampil di JAFF ke-20, film ini siap menjadi tontonan wajib pada 29 Januari 2026.***