
TUGUJOGJA– Di bawah langit sore yang mulai meredup di kawasan Nawari Resto & Camping Ground, Kabupaten Gunungkidul, ratusan peserta berkaus hitam berlogo Brigas Ciblon lan Playon tampak bersiap.
Akhir pekan kemarin, semangat mereka meletup. Terlihat jelas di wajah-wajah muda hingga sepuh yang menyiapkan diri untuk berlari, menyelam, dan mengaji.
Itulah suasana pembukaan Brilyon Phase 2, sebuah kegiatan unik yang menyelaraskan hobi olahraga ekstrem dengan kajian keagamaan. Kegiatan ini diinisiasi oleh Yayasan Ngangsu Kawruh dan berlangsung selama dua hari, 25–26 Oktober 2025.
Mengaji dengan Cara yang Berbeda
Konsep Brilyon bukan sekadar pengajian biasa. Di sinilah para peserta akan memahami makna iman melalui gerakan fisik. Mereka berlari menembus rute sejauh lima kilometer di area berbukit Oya, lalu menuntaskan tantangan dengan ciblon, berenang di aliran jernih Kali Oyo.
“Biasanya teman-teman hanya aktif di kajian atau duduk di forum ngaji. Kali ini kita ingin menyeimbangkan antara rohani dan jasmani,” ujar Koordinator Humas Brilyon, Heri Bagus saat ditemui di lokasi kegiatan.
Menurut Heri, Brilyon merupakan singkatan dari Brigas Ciblon lan Playon, sebuah filosofi dari budaya Mataraman: bergerak, berjuang, dan tetap menjaga adab. Peserta tidak hanya mengaji namun bisa menyalurkan hobinya.
“Di sini peserta tidak hanya mengasah keimanan lewat ngaji gede bersama Ustadz Abul Aswad Al-Bayaty, tapi juga menguatkan raga. Karena dalam Islam, Rasulullah sendiri mencontohkan bahwa umat yang kuat lebih dicintai Allah,” tegasnya.
Selama dua hari, suasana kawasan Nawari tak jauh dari obyek wisata Goa Pindul berubah menjadi ruang spiritual sekaligus arena petualangan.
Tenda-tenda berderet rapi, lampu temaram menggantung di pepohonan, dan aroma kopi seduh memenuhi udara malam.
Para peserta yang datang dari berbagai daerah, dari Klaten, Cikarang, Bekasi, hingga Surabaya, menyatu dalam satu semangat: menuntut ilmu sambil berolahraga. Di mana pesertanya banyak dari komunitas ngaji luar pesantren.
“Mereka biasanya pekerja, anak motor, atau pecinta alam yang ingin belajar agama dengan cara yang lebih menyenangkan,” jelas Heri.
Ia menambahkan, konsep kegiatan ini memang lahir dari kebiasaan komunitas jalanan yang gemar bertualang.
Sejak 2018, komunitas Ngangsu Kawruh berupaya menanamkan nilai spiritual melalui pengalaman nyata, dari volcano ngaji (naik gunung sambil ngaji) hingga motor care dan camp spiritual.
“Semangatnya sederhana. Kami ingin ngaji tidak terasa berat. Karena kalau hanya duduk dan membaca kitab, lama-lama jenuh. Maka kita padukan dengan aktivitas outdoor yang bermanfaat,” katanya.
Brilyon Phase 2 di Gunungkidul
Sebelum kegiatan , seluruh peserta mengikuti briefing motivasi bertema Ksatrian Muslim. Mereka belajar memahami makna perjuangan, kedisiplinan, dan solidaritas.
Bagi panitia, kegiatan ini bukan sekadar olahraga, tetapi latihan mental untuk membentuk karakter tangguh.
“Ngaji bukan hanya soal membaca kitab, tapi juga soal melatih diri menjadi kuat, mandiri, dan beradab,” terang Heri.
Peserta termuda bahkan masih duduk di bangku SD, sedangkan yang tertua sudah berusia 75 tahun. Meski berbeda generasi, semangat mereka sama: meneguhkan keimanan sambil menjaga kebugaran.
“Melihat anak kecil berlari lalu nyemplung ke sungai bersama kakek berusia 70-an, itu luar biasa. Ada kebersamaan yang sulit dijelaskan,” ujar salah satu peserta asal Bekasi.
Gelaran Brilyon Phase 2 ini merupakan kelanjutan dari edisi perdana di Klaten, awal tahun 2025. Jika tahun pertama fokus pada dauroh kitab dan motor care, kali ini panitia menambah unsur lari-ciblon sebagai simbol ketahanan mental dan fisik.
Dengan total 220 peserta, acara ini menjadi bukti bahwa tren ngaji aktif kian diminati anak muda. Harapannya, ke depan Brilyon bisa jadi agenda tahunan.
Ia ingin peserta bukan hanya mengenal agama dari teori, tapi juga mempraktikkannya dalam kehidupan nyata.
Menjelang malam, seluruh peserta berkumpul di bawah langit Gunungkidul. Suara air Kali Oyo berpadu dengan lantunan ayat suci. Ustaz Abul Aswad Al-Bayaty membuka Ngaji Geden Mataraman dengan penuh wibawa.
Para peserta mendengarkan dengan khidmat. Di sela hawa sejuk pegunungan, dakwah malam itu terasa membumi. Tidak ada jarak antara pembicara dan jamaah. Yang ada hanya semangat untuk terus belajar dan menjadi pribadi yang lebih baik.
“Islam itu bukan hanya di masjid. Ia hidup di jalan, di alam, di tubuh yang sehat dan hati yang ikhlas,” tutur sang ustaz.
Brilyon Phase 2 di Gunungkidul bukan sekadar acara komunitas. Ia menjelma menjadi simbol gerakan baru. Ngaji kini bisa menyatu dengan gaya hidup sehat, petualangan, dan semangat kebersamaan.
“Orang Islam harus beriman, bertakwa, solid, dan kuat fisik. Itulah pesan yang ingin kami jaga,” pungkas Heri Bagus. (ef linangkung)