
TUGUJOGJA – Gunungkidul menghadapi kendala dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menghentikan operasional sementara akibat dana operasional yang belum dicairkan.
Kondisi ini berpotensi mengganggu layanan pemenuhan gizi bagi ribuan penerima manfaat di wilayah tersebut.
Sedikitnya enam SPPG di Kabupaten Gunungkidul dilaporkan terdampak langsung. Sejumlah dapur layanan telah menghentikan aktivitas operasional, sementara beberapa lainnya dijadwalkan menghentikan layanan dalam waktu dekat.
Dampak lanjutan dari situasi ini mencakup terganggunya distribusi makanan bergizi serta dirumahkannya puluhan tenaga kerja lokal.
Pembemahan Sistem Administrasi BGN
Komandan Kodim 0730/Gunungkidul, Letkol Inf Roni Hermawan, menyatakan bahwa penghentian operasional bersifat sementara.
Ia menjelaskan kendala utama berasal dari sistem administrasi di Badan Gizi Nasional (BGN) yang masih dalam proses pembenahan.
“Penghentian ini hanya sementara karena ada perbaikan sistematis dari BGN. Setelah sistem administrasi selesai, pencairan dana ke SPPG kemungkinan bisa segera dilakukan,” ujar Roni saat memberikan keterangan, Selasa (16/12/2025).
Roni menegaskan tidak terdapat pelanggaran atau kesalahan dari pihak SPPG. Menurutnya, seluruh satuan layanan telah menjalankan operasional sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
“Kendalanya murni teknis dari internal BGN, bukan karena ada permasalahan atau pelanggaran di tingkat SPPG,” katanya.
Tenaga Kerja Terpakasa Dirumahkan
Berdasarkan data sementara, SPPG yang telah menghentikan operasional antara lain SPPG Playen Logandeng, SPPG Kepek 2 Wonosari, dan SPPG Sumbergiri Ponjong.
Sementara itu, SPPG Kemadang dan SPPG Hargomulyo Tanjungsari dijadwalkan menghentikan layanan mulai Rabu (17/12/2025).
Adapun SPPG Semanu direncanakan berhenti beroperasi pada 20 Desember 2025 jika dana operasional belum diterima.
Kepala SPPG Hargomulyo Gedangsari, Sulistyawan, membenarkan bahwa dapur layanan yang dipimpinnya akan menghentikan operasional mulai Rabu.
Ia menyebut hari Selasa menjadi hari terakhir pelayanan bagi penerima manfaat di wilayah tersebut.
“Besok sudah tidak beroperasi, dananya sudah habis,” kata Sulistyawan.
Menurutnya, penghentian operasional berdampak langsung pada tenaga kerja. Sekitar 50 karyawan terpaksa dirumahkan sementara karena tidak adanya kegiatan produksi dan distribusi makanan.
“Total ada sekitar 50 karyawan yang terdampak. Sementara jumlah penerima manfaat yang selama ini kami layani mencapai 3.212 orang,” ujarnya.
Sulistyawan menjelaskan bahwa secara administratif pengajuan anggaran telah disetujui. Namun, hingga kini dana operasional belum dicairkan.
Ia menyebut keterlambatan tersebut diduga berkaitan dengan proses penutupan tahun anggaran.
“Informasi yang saya terima, sisa anggaran kemungkinan akan kembali ke SPPG sekitar tanggal 28 Desember,” katanya.
SPPG Hargomulyo selama ini memberdayakan 47 tenaga kerja lokal yang terdiri atas koki, petugas pengemasan, dan tim distribusi.
Selain itu, terdapat tiga tenaga profesional, yakni kepala dapur, akuntan, dan ahli gizi, yang bertugas memastikan kualitas serta nilai gizi makanan.
Ia berharap kendala pencairan dana operasional dapat segera diselesaikan agar layanan kembali berjalan. Program Makan Bergizi Gratis dinilai berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi, terutama bagi anak-anak sekolah.
“Program MBG sangat membantu masyarakat. Kami berharap pencairan dana bisa segera dilakukan agar layanan kembali berjalan normal dan penerima manfaat tetap mendapatkan haknya,” ujar Sulistyawan.
Hingga saat ini, pihak terkait masih menunggu penyelesaian proses administrasi di tingkat pusat. Kejelasan pencairan dana diharapkan dapat memastikan keberlanjutan layanan SPPG di Gunungkidul dalam waktu dekat.