
TUGUJOGJA- Hujan turun perlahan ketika mobil jenazah berhenti di depan rumah sederhana di Padukuhan Gedangan 1, Kalurahan Karangmojo, Kapanewon Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, Selasa (3/2/2026) malam.
Waktu menunjukkan pukul 21.34 WIB. Malam yang seharusnya menjadi waktu istirahat berubah menjadi malam paling panjang bagi keluarga Fajar Reza Sapitra (30).
Fajar pulang tanpa napas. Harapan yang ia bawa ke Malaysia runtuh bersama tubuhnya yang terbujur kaku di dalam peti jenazah.
Isak tangis langsung pecah ketika peti jenazah diturunkan dari mobil. Ibu Fajar hampir roboh saat melihat nama anak sulungnya tertera di badan peti. Ayahnya berdiri terpaku, menahan air mata, sementara ratusan pelayat memadati halaman rumah duka.
Keluarga langsung menyiapkan prosesi pemakaman malam itu juga. Mereka membawa jenazah Fajar ke kompleks pemakaman Ndelu, Kalurahan Gedangrejo, Kapanewon Karangmojo.
Tidak ada penundaan. Keluarga memilih mengantar Fajar segera ke peristirahatan terakhir, sebagaimana adat dan keyakinan yang mereka pegang.
Mengenal Sosok Fajar Reza
Fajar merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Ia tumbuh sebagai pemuda sederhana yang tekun dan mandiri. Di kampung halamannya, Fajar bekerja sebagai teknisi handphone.
Banyak warga mengenalnya sebagai sosok pendiam yang lebih sering menghabiskan waktu membetulkan ponsel ketimbang nongkrong tanpa tujuan.
Namun, penghasilan sebagai teknisi tidak selalu cukup. Fajar menyimpan keinginan besar untuk mengubah nasib. Ia memutuskan berangkat ke Malaysia dengan satu tujuan: mencari pekerjaan yang lebih baik demi masa depannya dan keluarga.
Keberangkatan itu terjadi beberapa hari sebelum tragedi. Secara administratif, dokumen perjalanan Fajar tercatat sebagai wisatawan. Namun, niat utamanya bukan berlibur.
โAwalnya hanya untuk wawancara kerja. Agen menyarankan pakai visa wisata karena prosesnya lebih cepat. Katanya nanti bisa diubah ke visa kerja,โ ujar salah satu kerabat Fajar berinisial A.
Di Malaysia, Fajar berharap bisa bekerja di bidang elektronik. Keahlian memperbaiki perangkat seluler menjadi modal utama yang ia bawa. Ia percaya keterampilannya cukup untuk bersaing di negeri orang.
Selama sekitar tujuh hari di Malaysia, Fajar terus berupaya mencari pekerjaan. Ia mendatangi sejumlah tempat, mengajukan lamaran, dan menunggu panggilan yang tak kunjung datang. Waktu berjalan, uang menipis, dan kecemasan mulai menghimpit.
Fajar tidak tinggal diam. Ia bahkan mendatangi kantor imigrasi setempat untuk mengurus perubahan status visa dari wisata menjadi visa kerja.
Namun, petugas menolak permohonan tersebut karena aturan yang berlaku tidak memungkinkan perubahan status di dalam wilayah Malaysia.
Penolakan itu menjadi pukulan berat. Harapan yang selama ini ia genggam mulai retak. Sementara itu, tiket kepulangan ke Indonesia sebenarnya sudah berada di tangannya. Fajar dijadwalkan pulang pada 27 Januari 2026.ย Namun, hari itu berlalu tanpa kabar.
Keluarga yang menunggu di Gunungkidul mulai diliputi kecemasan. Telepon tak terjawab. Pesan tak terkirim. Kekhawatiran berubah menjadi ketakutan. Keluarga akhirnya melaporkan kehilangan Fajar ke Polres setempat di Gunungkidul.
Kabar Duka dari Negeri Jiran
Sekitar 10 hari setelah keberangkatan, kabar yang paling ditakuti akhirnya datang. Kepolisian Malaysia menghubungi keluarga Fajar. Polisi di wilayah Raja, Selangor, menyampaikan bahwa Fajar meninggal dunia setelah terjatuh di area bandara.
Salah satu tetangga Fajar mengungkapkan kisah yang lebih memilukan. Pada hari ketujuh di Malaysia, seseorang membawa Fajar ke bandara dengan rencana kembali ke Indonesia.
โKatanya mau pulang. Tapi di bandara itu kemungkinan dia sudah sangat frustrasi. Dia loncat dari terowongan pesawat, jembatan penghubung ke pesawat,โ ungkap tetangga tersebut dengan suara lirih.
Pihak rumah sakit di Malaysia telah menyampaikan hasil pemeriksaan awal kepada keluarga. Karena Fajar masuk menggunakan visa wisata dan tidak tercatat sebagai pekerja migran resmi, otoritas setempat mengklasifikasikan peristiwa itu sebagai kecelakaan saat kunjungan.
Status keberangkatan Fajar yang nonprosedural membuat pendampingan negara menjadi terbatas. Perwakilan Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Yogyakarta, Syahrul, menjelaskan bahwa pihaknya belum menerima laporan resmi dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) terkait kasus tersebut.
โBiasanya KBRI menerima laporan dari kepolisian setempat, lalu berkoordinasi dengan kami untuk menghubungi keluarga dan mengurus pemulangan jenazah,โ jelas Syahrul.
Meski begitu, proses pemulangan jenazah tetap berjalan. Agen yang sebelumnya mengurus keberangkatan Fajar disebut ikut membantu hingga jenazah bisa kembali ke tanah air dan diserahkan kepada keluarga.
Pesawat yang membawa jenazah Fajar mendarat di Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) sekitar pukul 18.14 WIB. Dari sana, mobil jenazah langsung melaju menuju Gunungkidul, menembus hujan dan malam.
Kepergian Fajar Reza Sapitra menyisakan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi warga sekitar. Kisahnya menjadi pengingat keras tentang risiko bekerja ke luar negeri tanpa prosedur jelas dan perlindungan memadai. (ef linangkung)
https://frankspizzapalace.com/menu