
TUGUJOGJA — Aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih menunjukkan dinamika tinggi. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan bahwa sepanjang periode pengamatan Senin (19/5/2025) hingga Selasa pagi (20/5/2025), telah terjadi 14 kali guguran lava pijar.
Dalam laporan BPPTKG, tercatat 12 kali guguran lava terpantau pada Senin mengarah ke Kali Krasak sejauh 1.500 meter dan ke Kali Bebeng hingga jarak 1.900 meter.
Selanjutnya, pada periode pengamatan dini hari Selasa pukul 00.00–06.00 WIB, teramati dua kali guguran lava ke arah Kali Bebeng sejauh 1.000 meter serta satu kali ke arah hulu Kali Krasak sejauh 800 meter.
Kepala BPPTKG, melalui laporan resminya, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya terhadap potensi bahaya lahar dingin saat terjadi hujan deras di kawasan puncak Merapi. Curah hujan yang tercatat pada Senin mencapai 28 mm/hari.
“Lahar dapat terbentuk secara tiba-tiba dan membawa material vulkanik dalam jumlah besar, berisiko mengancam pemukiman serta aktivitas di bantaran sungai yang berhulu di Merapi,” tulis BPPTKG dalam laporannya.
Gunung Merapi masih berada pada Status Level III atau Siaga. Potensi bahaya berupa guguran lava dan awan panas terutama ke arah sektor selatan-barat daya.
- Sungai Boyong, Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 km
- Sektor tenggara (Sungai Woro sejauh 3 km dan Sungai Gendol sejauh 5 km)
Data seismik menunjukkan aktivitas kegempaan yang signifikan.
- 119 kali gempa guguran
- 122 kali gempa hybrid pada Senin
- 13 gempa guguran pada Selasa dini hari
BPPTKG menegaskan bahwa suplai magma masih berlangsung dan dapat memicu awan panas guguran sewaktu-waktu. Masyarakat diimbau tidak beraktivitas di zona potensi bahaya, dan selalu mengikuti perkembangan informasi dari kanal resmi BPPTKG dan PVMBG. (ef linangkung)