
TUGUJOGJA – Kota Yogyakarta memasuki fase penting dalam perawatan infrastruktur bersejarahnya. Pemerintah memastikan Jembatan Kewek akan memasuki masa akhir usia pakainya pada 2026 setelah lebih dari satu abad melayani mobilitas warga.
Berbagai kajian teknis menunjukkan jembatan berusia 101 tahun tersebut tidak lagi mampu menahan beban lalu lintas modern.
Pemerintah Pastikan Pembongkaran Mulai 2026
Kepala DPUPKP Kota Yogyakarta, Umi Akhsanti, memastikan pemerintah akan membongkar total Jembatan Kewek dan membangunnya kembali dengan dukungan pendanaan APBN. Kementerian PUPR akan menangani keseluruhan tahapan pekerjaan.
“Pembangunan diperkirakan dimulai April 2026. Januari masih review DED, kemudian proses tender. Durasi pembangunan kurang lebih sembilan bulan,” jelas Umi.
Kajian struktural menunjukkan kerusakan jembatan terjadi secara progresif. Material lama tidak lagi mampu menanggung tekanan kendaraan, terutama pada jam padat maupun periode liburan.
“Memang harus direvitalisasi, dibongkar, dan dibangun kembali,” tegasnya.
Penyesuaian Fasad di Kawasan Sumbu Filosofi
Meskipun tidak berstatus cagar budaya, Jembatan Kewek berada di kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta sehingga desain baru harus memperhatikan aspek estetika.
“Kami masih konsultasi dengan Dinas Kebudayaan dan para ahli untuk penyesuaian desainnya,” kata Umi.
Rencana awal menunjukkan konstruksi jembatan menggunakan beton, namun fasad akan disesuaikan agar harmonis dengan karakter kawasan. Proyek diperkirakan menelan anggaran sekitar Rp19 miliar.
Rekayasa Lalu Lintas Mulai Diterapkan
Sebelum proses pembongkaran, kondisi jembatan yang semakin rentan memaksa Pemerintah Kota Yogyakarta menerapkan Manajemen Rekayasa Lalu Lintas (MRLL). Kebijakan ini resmi diberlakukan sejak Rabu (10/12/2025) di Jalan Kleringan menuju Jembatan Kewek.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, memastikan kebijakan tersebut sesuai arahan Gubernur DIY.
“Ya sudah seperti skenario yang direncanakan semula dan sudah kita presentasikan juga di depan Ngarsa Dalem. Sudah mendapatkan arahan dari Pak Gubernur untuk kemudian ditutup secara parsial,” ujarnya.
Hasto menyatakan bahwa kendaraan kecil, termasuk sepeda motor, masih dapat melintas secara terbatas. Pembatasan dilakukan untuk mencegah risiko struktur jembatan yang semakin melemah.
“Kalau over capacity, misalnya saat malam Tahun Baru dan Natal, bisa kita kondisikan. Jembatan sebelah sana jelas tanggulnya sudah ringkih, sehingga pemanfaatan harus minimal,” tuturnya.
Antisipasi Kemacetan karena Pengalihan Arus
Hasto mengakui rekayasa lalu lintas berpotensi menimbulkan kemacetan. Pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah antisipatif, termasuk pemasangan portal di kawasan Kridosono.
“Kita sudah memasang portal-portal di Kridosono supaya kendaraan tinggi dan besar tidak masuk ke sini. Kemudian di depan Gramedia juga mulai kita atur agar alur lalu lintas tidak terlalu membebani kawasan ini,” jelasnya.
Pada masa libur Natal dan Tahun Baru, Lapangan Kridosono disiapkan sebagai kantong parkir tambahan untuk mengurangi kepadatan di kawasan Malioboro.
“Itu menjadi salah satu skenario ketika keadaan overload terjadi,” ujarnya.
Dishub Minta Maaf dan Tegaskan Keselamatan Pengguna Jalan
Kepala Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta, Agus Arif Nugroho, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan yang timbul akibat pengalihan arus.
“Ini langkah yang harus kita lakukan untuk menjamin keselamatan masyarakat, khususnya yang melewati Jembatan Kewek,” tegas Agus.
Dishub memprediksi pola perjalanan warga akan menyesuaikan dalam beberapa hari ke depan.
“Sekarang masyarakat masih berharap jalur terdekat menuju Malioboro bisa lewat sini. Tapi 1–2 hari lagi, potensi peningkatan arus justru terjadi di Simpang Kridosono dan simpang Gramedia,” jelasnya.
Dishub juga memantau koridor Sudirman–Galeria serta menyiapkan intervensi lalu lintas di Jalan Bausasran jika diperlukan.
“Jaringan jalan itu seperti organ tubuh, semua saling mengait. Pasti ada masalah, tapi insyaallah kami akan lakukan yang terbaik,” tambahnya.