
TUGUJOGJA— Kasus dugaan kekerasan di sebuah penitipan anak (daycare) di wilayah Umbulharjo, Kota Yogyakarta, mengguncang publik setelah sejumlah orang tua mengungkap pengalaman memilukan yang dialami anak-anak mereka.
Peristiwa ini mencuat pada Sabtu pagi (25/4/2026), saat rombongan wali murid mendatangi Mapolresta Yogyakarta. Mereka datang untuk menuntut kejelasan atas dugaan penyiksaan anak selama di daycare Little Aresha.
Dugaan Penyiksaan Anak di Daycare Yogyakarta
Kasus ini bermula dari kecurigaan orang tua terhadap perubahan kondisi fisik dan perilaku anak mereka. Salah satu orang tua, Choirunisa (34), mengaku baru menyadari ada yang tidak beres saat menjemput anaknya pada Jumat sore.
Saat itu, lokasi daycare sudah dipasangi garis polisi. Ia langsung merasa cemas. Kondisi anaknya yang baru berusia 1,5 tahun menunjukkan tanda-tanda tidak biasa.
Anaknya mengalami penurunan berat badan drastis, dari hampir 9 kilogram menjadi sekitar 8 kilogram. Tidak hanya itu, sang anak juga terus-menerus mengalami pilek dan batuk parah hingga muntah.
“Dia pilek sampai sekarang belum sembuh. Terus batuk, biasanya tidak pernah batuk. Batuknya sampai muntah terus,” ujar Choirunisa dengan mata berkaca-kaca.
Kecurigaan semakin menguat saat Choirunisa menemukan luka melepuh di tangan anaknya. Pihak daycare sebelumnya menyebut luka tersebut sebagai cacar air. Namun, ia menilai penjelasan itu tidak masuk akal.
“Kalau cacar air, biasanya hanya di bagian tertentu. Ini dua tangan melepuh seperti terbakar,” jelasnya.
Luka tersebut muncul sejak dua minggu sebelumnya, tetapi tidak pernah dijelaskan secara transparan oleh pihak pengelola.
Trauma yang Terbawa Pulang
Yang lebih menyayat hati, dampak dari dugaan kekerasan ini tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga trauma psikologis.
Choirunisa mengungkapkan bahwa anaknya kini mengalami perubahan perilaku saat tidur. Sang anak justru menangis dan meminta tidur di lantai.
“Dia menangis minta tidur di bawah. Ternyata di daycare dia dibiasakan tidur di lantai tanpa alas,” katanya.
Perubahan perilaku ini menjadi sinyal kuat bahwa ada perlakuan tidak layak pada anak selama berada di daycare.
Cerita serupa juga datang dari orang tua lain, termasuk Noorman, yang telah menitipkan dua anaknya sejak 2022 hingga 2025. Ia mengaku terkejut setelah melihat bukti video yang beredar dari lokasi kejadian.
Ia menduga terjadi perlakuan tidak manusiawi terhadap anak-anak, termasuk tindakan mengikat dan membiarkan anak tanpa busana.
“Dari video memang tidak terlalu jelas siapa anaknya, tapi pola perlakuannya terlihat,” ujarnya.
Lebih mengejutkan lagi, ia menemukan bahwa luka anaknya memiliki pola yang sama dengan luka anak-anak lain.
“Ada luka di bagian tubuh anak saya, dan ternyata sama dengan luka anak lain. Dari situ kami sadar, ini bukan kejadian tunggal,” ungkapnya.
Dugaan Manipulasi dari Pengelola
Noorman juga mencurigai adanya upaya manipulasi informasi oleh pihak daycare. Ia mengaku pernah mendapat penjelasan bahwa luka pada anaknya berasal dari rumah.
“Padahal sebelum berangkat, anak saya dalam kondisi sehat. Saya mandikan sendiri,” tegasnya.
Klaim sepihak tersebut justru semakin memperkuat dugaan adanya upaya menutupi kejadian sebenarnya. Tidak hanya luka dan trauma, sejumlah anak juga mengalami gangguan kesehatan serius. Beberapa di antaranya bahkan didiagnosis menderita pneumonia.
Ironisnya, para orang tua harus mengeluarkan biaya tambahan untuk pengobatan, di luar biaya penitipan yang mencapai Rp900 ribu hingga lebih dari Rp1 juta per bulan.
“Ternyata bukan hanya anak saya yang kena pneumonia. Ada beberapa anak lain juga,” kata Noorman dengan nada lelah.
Kasus ini terungkap setelah aparat kepolisian melakukan penggerebekan di lokasi daycare. Polisi langsung memasang garis polisi dan menutup operasional tempat tersebut.
Saat ini, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan terkait dugaan penganiayaan dan tindakan tidak manusiawi oleh pegawai daycare.
Kasus ini menjadi tamparan keras bagi para orang tua yang selama ini mempercayakan keselamatan anak mereka kepada lembaga penitipan.
Alih-alih mendapatkan perawatan dan kasih sayang, anak-anak justru mungkin mengalami perlakuan yang menyakitkan, baik secara fisik maupun mental.
Peristiwa ini juga membuka kembali diskusi publik mengenai pengawasan terhadap layanan penitipan anak serta pentingnya standar keamanan dan kesejahteraan anak yang lebih ketat.
Kini, para orang tua hanya berharap keadilan ditegakkan dan tidak ada lagi anak yang harus mengalami penderitaan serupa di tempat yang seharusnya menjadi ruang aman. (ef linangkung)