
TUGUJOGJA- Di tengah denyut Kota Yogyakarta yang terus bergerak cepat, Kampung Tukangan menyimpan irama yang berbeda. Gang-gang sempit di Kelurahan Tegal Panggung, Kemantren Danurejan, justru menghadirkan ketenangan setiap kali Tahun Baru Imlek mendekat.
Dari sebuah dapur sederhana di sudut kampung itu, aroma manis kue keranjang perlahan menyebar, menandai hidupnya sebuah tradisi lintas generasi.
Perayaan Tahun Baru Imlek 2026 jatuh pada 17 Februari. Seperti tahun-tahun sebelumnya, warga Tukangan kembali menyambutnya dengan kesibukan khas.
Mereka menyaksikan sebuah keluarga tetap setia menjaga warisan budaya kuliner Tionghoa: membuat kue keranjang secara tradisional, tanpa mesin modern, tanpa jalan pintas.
Kue keranjang bukan sekadar sajian perayaan. Masyarakat Tionghoa memaknainya sebagai simbol doa, harapan, dan penghormatan kepada leluhur. Teksturnya yang lengket dan rasanya yang manis merepresentasikan keinginan hidup yang rukun, harmonis, dan penuh keberkahan.
Pembuat Kue Keranjang Tukangan
Di balik proses panjang itu, berdirilah sosok Sianywati, generasi kedua pembuat kue keranjang di Kampung Tukangan. Ia meneruskan usaha yang telah dirintis oleh neneknya sejak masa sebelum Indonesia merdeka.
Saat ditemui di rumahnya pada Selasa (3/2/2026), Sianywati menyambut dengan senyum lembut. Tangannya terus bergerak mengaduk adonan, seolah hafal setiap detik dari ritual yang telah ia jalani seumur hidup.
โUsaha ini sudah ada sejak zaman nenek saya, jauh sebelum Indonesia merdeka. Sekarang saya yang meneruskan. Jadi sudah generasi kedua,โ ujar Sianywati dengan suara tenang.
Bagi Sianywati, kue keranjang memuat filosofi kehidupan yang dalam. Ia menjelaskan bahwa bahan dasar ketan melambangkan kelengketan hubungan keluarga, sementara rasa manis menjadi doa untuk kehidupan yang penuh kebaikan.
โKetan itu lengket. Maknanya supaya keluarga tetap lengket, rukun, saling merekat. Rasanya manis, harapannya hidup juga manis. Rezekinya manis, kariernya manis, hubungannya juga manis,โ tuturnya.
Nama kue keranjang pun lahir dari proses awal pembuatannya. Pada masa lalu, pembuat kue mencetak adonan di dalam keranjang yang dialasi daun pisang. Keranjang itulah yang kemudian melekat sebagai identitas kuliner khas Imlek ini.
โDulu benar-benar dicetak di keranjang yang dialasi daun pisang. Sekarang daun pisang sulit, jadi banyak yang pakai kertas kaca. Tapi namanya tetap kue keranjang,โ jelasnya.
Meski zaman terus berubah, Sianywati memilih bertahan pada cara lama. Ia menolak mengganti proses tradisional dengan teknologi modern. Ia meyakini bahwa rasa dan nilai sebuah warisan tidak boleh tergantikan.
Proses Pembuatan
Proses pembuatan kue keranjang di dapurnya dimulai dari mencuci beras ketan hingga bersih. Ia kemudian menggiling ketan sampai menjadi tepung halus.
Setelah itu, ia mengayak tepung untuk memastikan tidak ada gumpalan. Di sisi lain, ia merebus gula pasir dengan air hingga mendidih dan membentuk larutan manis pekat.
Sianywati mencampurkan larutan gula ke dalam tepung ketan secara perlahan. Ia mengaduk adonan hingga merata, lalu mendiamkannya selama kurang lebih satu hari penuh. Setelah adonan siap, ia mencetaknya ke dalam wadah dan mengukusnya selama sembilan jam tanpa henti.
Ia masih menggunakan kompor minyak tanah untuk proses pengukusan. Di tengah dominasi kompor gas dan listrik, pilihan ini menjadi simbol perlawanan terhadap lupa.
โKompor minyak tanah menghasilkan panas yang lebih merata. Selain itu, saya ingin mempertahankan cara nenek. Rasanya lebih legit dan khas,โ ungkapnya.
Setelah sembilan jam pengukusan, Sianywati mengangkat kue keranjang dan membiarkannya dingin secara alami sebelum mengemasnya. Meski tidak menggunakan bahan pengawet, kue keranjang buatannya mampu bertahan hingga satu tahun jika disimpan di lemari pendingin.
Kapasitas Produksi
Dalam sehari, Sianywati memproduksi sekitar 200 kilogram kue keranjang. Ia menyediakan lima variasi ukuran, dengan berat utama satu kilogram dan setengah kilogram. Ia juga menawarkan berbagai pilihan kemasan, mulai dari paket isi tiga, empat, hingga lima buah.
Sebagian besar produksi kue keranjang itu telah dipesan jauh sebelum Imlek tiba. Para pelanggan setia terus kembali dari tahun ke tahun. Dengan harga Rp55 ribu per buah, kue keranjang Sianywati tetap terjangkau sekaligus bernilai budaya tinggi.
โBiasanya pelanggan sudah pesan dari jauh hari. Saya tinggal menyesuaikan produksi,โ katanya.
Meski permintaan terus meningkat, Sianywati tidak tergoda untuk mempercepat proses atau mengubah resep. Ia memilih setia pada cara lama, karena di situlah letak jati diri kue keranjang warisan keluarganya.
โProsesnya dari dulu sama. Tidak ada yang berubah. Kalau diubah, rasanya bukan lagi warisan nenek,โ ucapnya lirih.
Dapur Sianywati tidak pernah benar-benar berhenti mengepul. Ketika musim kue keranjang berakhir, ia tetap memasak setiap hari. Ia mengisi waktu dengan membuat bakcang, makanan khas Tionghoa berbahan beras yang dibungkus daun bambu dan berisi daging serta kacang.
โKalau bukan Imlek, saya bikin bakcang. Itu juga sudah lama saya kerjakan,โ katanya.
Seperti kue keranjang, bakcang buatannya pun dibuat secara tradisional dan memiliki pelanggan tetap.
Bagi Sianywati, dapur bukan hanya ruang kerja. Dapur menjadi ruang hidup, ruang kenangan, dan ruang perjumpaan dengan masa lalu. Di sanalah ia mengenang sang nenek, belajar tentang kesabaran, dan menjaga warisan yang tak ternilai harganya.
Menjelang Imlek 2026, Sianywati tidak memasang harapan berlebihan. Ia hanya menginginkan kesehatan dan kelancaran agar ia bisa terus berdiri di dapur kecilnya.
โHarapan saya cuma sehat. Kalau sehat, saya bisa terus bikin kue dan meneruskan usaha ini,โ ujarnya pelan.ย (ef linangkung)
https://frankspizzapalace.com/menu