
TUGUJOGJA – Gunungkidul merayakan Hari Jadi ke-195 pada tahun 2025 dengan penuh makna. Kabupaten yang dikenal dengan bentang alam karst, pantai eksotis, dan kekayaan budaya ini tidak hanya memperingati sejarah, tetapi juga meneguhkan identitas sekaligus menatap masa depan.
Sekretaris Daerah (Sekda) Gunungkidul, Sri Suharyanta, menjelaskan bahwa logo peringatan tahun ini memiliki filosofi mendalam.
Logo tersebut memuat angka 195 sebagai simbol usia sekaligus dihiasi warna-warna yang menggambarkan perjalanan sejarah sejak awal berdirinya kabupaten.
“Dalam logo Hari Jadi Gunungkidul ke-195 tertulis falsafah Ngayomi, Ngayemi, dan Ngayani. Tiga kata ini menjadi pedoman hidup sekaligus arah pembangunan yang sudah tertuang dalam RPJMD dan ditetapkan melalui peraturan daerah. Filosofi ini bukan sekadar slogan, tetapi akan kami sosialisasikan hingga ke level desa dan dusun,” tegas Sri Suharyanta.
Makna dari ketiga falsafah tersebut adalah:
- Ngayomi: melindungi dan menjaga masyarakat agar merasa aman.
- Ngayemi: menciptakan ketentraman, rasa damai, dan kenyamanan dalam kehidupan sehari-hari.
- Ngayani: menggambarkan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pertumbuhan ekonomi, pembangunan berkelanjutan, dan pelestarian budaya lokal.
Ketiga nilai ini menjadi cerminan tekad pemerintah untuk menghadirkan kepemimpinan yang melindungi, menenangkan, sekaligus memberdayakan rakyatnya.
Rangkaian Acara Peringatan yang Semarak
Perayaan Hari Jadi Gunungkidul ke-195 berlangsung sejak akhir September hingga awal Oktober 2025 dengan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat dari berbagai kalangan.
- 25 September: Ziarah ke makam almarhum mantan bupati sebagai pembuka rangkaian acara, dihadiri Bupati dan Wakil Bupati.
- 26 September: Senam massal di Alun-Alun Wonosari, dilengkapi layanan kesehatan dari Posbindu Dinas Kesehatan. Kerja bakti di makam tokoh penting juga dilakukan sebagai bentuk penghormatan.
- 27–28 September: Kontes ternak sapi dan kambing yang diikuti para peternak se-Kabupaten Gunungkidul, menjadi ajang apresiasi sekaligus pengembangan sektor peternakan.
- 1 Oktober: Pengajian akbar di Bangsal dengan menghadirkan penceramah nasional, dihadiri ribuan jamaah untuk memanjatkan doa bersama.
- 2 Oktober: Pameran UMKM, fashion show batik, dan gerakan Ayo Membatik di Jalan Satria, menampilkan karya desainer muda dan batik khas daerah.
- 3 Oktober Malam: Malam tirakatan dan panggung budaya di Bangsal Projotamansari, dihadiri warga lintas generasi dalam suasana penuh syukur.
- 4 Oktober: Puncak peringatan dengan upacara resmi di Alun-Alun Wonosari. Seluruh peserta mengenakan pakaian adat Jawa, menciptakan suasana khidmat dan penuh kebanggaan.
Sri Suharyanta menekankan bahwa Hari Jadi ke-195 bukan hanya peringatan usia, tetapi juga momentum untuk memperkuat komitmen pembangunan.
“Melalui peringatan ini, kami ingin seluruh masyarakat memahami bahwa pembangunan tidak lepas dari perlindungan, ketentraman, dan peningkatan kesejahteraan. Itulah makna sejati logo hari jadi kali ini,” jelasnya.
Dengan filosofi mendalam dan rangkaian acara yang meriah, Hari Jadi Gunungkidul ke-195 menjadi refleksi sekaligus langkah strategis menuju masa depan.
Dari doa bersama hingga semarak budaya, seluruh elemen masyarakat menyatu dalam semangat “Gunungkidul yang guyub, sejahtera, dan berdaya.”