
TUGUJOGJA — Aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih tergolong tinggi dalam sepekan terakhir. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat sebanyak 122 kali guguran lava terjadi selama periode pengamatan 22 hingga 28 Mei 2026.
Meski demikian, status Gunung Merapi yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah masih ditetapkan pada Level III atau Siaga.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santosa, mengatakan suplai magma ke tubuh Gunung Merapi hingga saat ini masih berlangsung dan berpotensi memicu aktivitas erupsi efusif berupa guguran lava maupun awan panas guguran.
“Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung dan dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya,” kata Agus Budi Santosa dalam laporan aktivitas Gunung Merapi yang diterima pada Jumat (29/5/2026).
Selama periode pengamatan, Merapi beberapa kali mengeluarkan asap putih dengan intensitas tipis hingga tebal. Tinggi kolom asap teramati berkisar antara 10 meter hingga 650 meter dari puncak gunung.
Berdasarkan data BPPTKG, guguran lava paling banyak mengarah ke hulu Kali Sat/Putih dengan jumlah 70 kali dan jarak luncur maksimum mencapai dua kilometer.
Selain itu, tercatat 43 kali guguran menuju hulu Kali Krasak dengan jarak luncur maksimal 1,9 kilometer. Delapan kali guguran mengarah ke Kali Bebeng dengan jarak luncur hingga 1,7 kilometer, sedangkan satu kali guguran tercatat menuju hulu Kali Boyong dengan jarak luncur dua kilometer.
Aktivitas tersebut menunjukkan proses ekstrusi magma masih berlangsung dan memengaruhi perkembangan kubah lava di puncak Merapi.
Hasil analisis morfologi menggunakan kamera pemantau Ngepos dan Babadan 2 menunjukkan adanya perubahan kecil pada Kubah Barat Daya akibat aktivitas guguran lava serta perubahan volume kubah. Sementara itu, Kubah Tengah terpantau relatif stabil tanpa perubahan morfologi yang signifikan.
Berdasarkan hasil analisis foto udara pada 7 Mei 2026, volume Kubah Barat Daya tercatat sebesar 4.026.700 meter kubik. Adapun volume Kubah Tengah mencapai 2.368.800 meter kubik.
BPPTKG Minta Warga Waspadai Guguran dan Lahar
Selain aktivitas visual, BPPTKG juga mencatat aktivitas kegempaan yang masih cukup tinggi selama periode pengamatan.
Jaringan seismik merekam 27 gempa Vulkanik Dangkal, 449 gempa fase banyak, satu gempa low frequency, 802 gempa guguran, serta sembilan gempa tektonik.
Meski jumlah aktivitas kegempaan masih tinggi, BPPTKG menilai intensitasnya lebih rendah dibandingkan periode pengamatan sebelumnya.
“Deformasi Gunung Merapi yang dipantau menggunakan EDM dan GPS tidak menunjukkan adanya perubahan signifikan,” ujar Agus.
BPPTKG juga terus memantau potensi bahaya sekunder berupa banjir lahar, terutama saat curah hujan meningkat di kawasan lereng Merapi.
Pada periode pengamatan, curah hujan tertinggi tercatat di Pos Kaliurang pada 22 Mei 2026 dengan intensitas mencapai 43,04 milimeter per jam selama 44 menit.
Hingga akhir periode laporan, BPPTKG belum menerima laporan adanya tambahan aliran lahar di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi. Namun masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan karena material vulkanik yang menumpuk di lereng dan puncak gunung berpotensi terbawa aliran hujan.
Menurut BPPTKG, potensi bahaya utama saat ini masih berupa guguran lava dan awan panas guguran pada sektor selatan hingga barat daya.
Wilayah yang berpotensi terdampak meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal lima kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal tujuh kilometer dari puncak.
Sementara itu, pada sektor tenggara, potensi bahaya berada di alur Sungai Woro sejauh tiga kilometer dan Sungai Gendol sejauh lima kilometer.
BPPTKG juga mengingatkan adanya potensi lontaran material vulkanik apabila terjadi erupsi eksplosif. Material tersebut diperkirakan dapat menjangkau radius hingga tiga kilometer dari puncak Merapi.
Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas di kawasan potensi bahaya yang telah ditetapkan. Pemerintah daerah di Kabupaten Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten juga diminta terus memperkuat langkah mitigasi kebencanaan serta memastikan kesiapan jalur dan sarana evakuasi.
Warga yang tinggal di sekitar alur sungai berhulu Merapi diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas guguran maupun banjir lahar, terutama saat terjadi hujan di kawasan puncak.
Selain itu, masyarakat juga diminta mengantisipasi kemungkinan gangguan akibat hujan abu vulkanik yang dapat terjadi sewaktu-waktu seiring aktivitas erupsi Merapi yang masih berlangsung.
Hingga saat ini, Gunung Merapi masih dipantau secara intensif selama 24 jam oleh BPPTKG untuk memastikan perkembangan aktivitas vulkanik dapat terdeteksi lebih dini dan menjadi dasar langkah mitigasi bagi masyarakat.