
TUGUJOGJA – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi kembali mengalami eskalasi pada Minggu (12/4/2026) pagi. Setelah sempat meluncurkan awan panas pada dini hari, gunung api aktif ini kembali memuntahkan dua kali awan panas guguran (APG) dalam rentang waktu kurang dari satu jam dengan jarak luncur yang semakin menjauh ke arah hulu Kali Boyong.
Berdasarkan data Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), rentetan aktivitas pagi ini menunjukkan peningkatan energi dibandingkan guguran sebelumnya.
Kronologi Awan Panas Guguran Pagi Hari
BPPTKG mencatat dua kejadian APG dengan rincian teknis sebagai berikut:
-
Pukul 07.41 WIB: Awan panas meluncur sejauh 1.400 meter (1,4 km). Peristiwa ini terekam dengan durasi 132,1 detik.
-
Pukul 08.21 WIB: Terjadi luncuran susulan dengan intensitas lebih besar. Jarak luncur mencapai 2.000 meter (2 km) dengan durasi lebih lama, yakni 154,4 detik.
Arah luncuran kedua APG tersebut konsisten menuju sektor barat daya, tepatnya di hulu Kali Boyong. Secara visual, kolom asap putih setinggi 500 meter teramati membumbung dari puncak Merapi, menandakan tekanan magma yang masih fluktuatif namun signifikan.
Data Aktivitas Sejak Dini Hari
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santosa, menjelaskan bahwa rentetan pagi ini melengkapi aktivitas yang terpantau sejak pergantian hari. Pada periode pengamatan pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, Merapi telah mencatatkan:
-
1 kali awan panas guguran (jarak 1.500 meter).
-
34 kali guguran lava pijar.
-
16 kali gempa hybrid/fase banyak.
-
9 kali guguran lava ke arah Kali Krasak dan Kali Bebeng dengan jarak maksimal 1.900 meter.
Rekomendasi Zona Bahaya dan Level Siaga
Hingga saat ini, status Gunung Merapi tetap berada pada Level III (Siaga). Mengingat jarak luncur APG yang mulai mencapai 2 km, BPPTKG memberikan imbauan tegas agar masyarakat mematuhi radius bahaya yang telah ditetapkan:
-
Sektor Selatan-Barat Daya: Meliputi Kali Boyong (5 km), Kali Bedog, Krasak, Bebeng (7 km).
-
Sektor Tenggara: Meliputi Kali Woro (3 km) dan Kali Gendol (5 km).
-
Radius Lontaran Eksplosif: 3 km dari puncak.
Masyarakat juga diminta mewaspadai potensi bahaya sekunder berupa lahar hujan di sungai-sungai yang berhulu di Merapi, terutama jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi di area puncak.
Selain itu, warga diimbau menyiapkan masker untuk mengantisipasi potensi hujan abu vulkanik yang dapat terjadi sewaktu-waktu mengikuti arah angin.