
TUGUJOGJA – Setiap tanggal 12 Rabiul Awal, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menggelar sebuah tradisi besar yang selalu ditunggu-tunggu masyarakat, yakni Grebeg Maulud.
Acara ini diselenggarakan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad, sekaligus sebagai ungkapan syukur Sultan Yogyakarta atas berkah kemakmuran yang dinikmati rakyat.
Pada tahun 2025, peringatan Grebeg Maulud jatuh pada Jumat, 5 September, dan kembali menghadirkan prosesi yang sakral sekaligus meriah.
Gunungan, Ikon Utama Grebeg Maulud
Hal yang paling dinanti dari Grebeg Maulud adalah kehadiran gunungan, yaitu tumpukan hasil bumi yang dibentuk menyerupai kerucut. Gunungan ini bukan sekadar hiasan, melainkan simbol sedekah Sultan kepada rakyatnya.
Masyarakat percaya bahwa siapa pun yang berhasil memperoleh bagian dari gunungan akan mendapatkan keberkahan hidup dan kelancaran rezeki.
Pada Grebeg Maulud Tahun Wawu 1953, misalnya, tercatat ada tujuh gunungan yang dikeluarkan dari Keraton. Gunungan tersebut berisi aneka hasil bumi dan dipersiapkan secara khusus oleh pihak Keraton.
Ratusan prajurit dengan pakaian kebesaran mengiringi arak-arakan gunungan dari Siti Hinggil Keraton Yogyakarta menuju tempat tujuan masing-masing.
Jenis-jenis Gunungan dan Tujuannya
Dalam prosesi Grebeg Maulud, tidak hanya ada satu jenis gunungan. Setidaknya terdapat beberapa macam dengan nama dan makna berbeda, di antaranya:
- Gunungan Kakung
- Gunungan Estri
- Gunungan Darat
- Gunungan Pawuhan
- Gunungan Gepak
Lima gunungan tersebut biasanya diarak menuju Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta dengan pengawalan prajurit Keraton. Sementara dua gunungan lainnya, yakni Gunungan Kakung, dikirim ke dua lokasi berbeda.
Satu menuju Kantor Kepatihan dengan pengawalan Bregada Bugis, dan satu lagi menuju Puro Pakualaman dengan iringan pasukan Pakualaman, termasuk Dragunder dan Plangkir.
Bahkan, dalam beberapa prosesi turut serta pasukan gajah dari Kebun Binatang Gembira Loka yang menambah kemegahan acara.
Prosesi Grebeg yang Penuh Makna
Tradisi Grebeg Maulud bukan hanya soal membagi hasil bumi, tetapi juga sarat dengan prosesi adat. Acara biasanya diawali dengan Miyos Gangsa, yaitu keluarnya gamelan dari dalam Keraton. Setelah itu, dilanjutkan dengan Numplak Wajik, yakni persiapan senjata dan pusaka Keraton.
Tahap berikutnya adalah prosesi Bethak, yaitu memasak nasi yang kemudian dibentuk bulatan kecil. Nasi tersebut diletakkan dalam pusaka besar bernama Kanjeng Kyai Blawong. Lalu, berlangsung acara Pesowanan Garebeg, saat gunungan yang telah dipersiapkan dikeluarkan untuk diarak ke tujuan masing-masing.
Prajurit Keraton dengan seragam khas berbaris rapi di depan rombongan. Ada yang membawa senjata, ada pula yang memainkan alat musik tradisional. Barisan berikutnya adalah pasukan berkuda, hingga akhirnya muncullah gunungan yang selalu disambut antusias oleh masyarakat.
Setelah tiba di masjid atau tempat tujuan lain, gunungan akan diperebutkan oleh masyarakat. Tradisi ini dikenal dengan istilah ngalap berkah. Ribuan orang rela berdesak-desakan di bawah terik matahari untuk mendapatkan sepotong sayur, buah, atau makanan dari gunungan.
Konon, hasil bumi yang diperoleh dari gunungan dipercaya membawa keberuntungan, keselamatan, dan rezeki yang melimpah.
Warisan Budaya yang Terus Hidup
Perlu diketahui, Grebeg Maulud bukan satu-satunya tradisi besar yang dilaksanakan Keraton Yogyakarta. Ada dua grebeg lain yang rutin digelar, yaitu Grebeg Syawal yang dilakukan usai Hari Raya Idulfitri, serta Grebeg Besar yang bertepatan dengan Iduladha.
Ketiganya menjadi perwujudan rasa syukur Sultan dan Keraton atas limpahan berkah yang harus dibagikan kepada rakyat.
Hingga kini, Grebeg Maulud tetap menjadi daya tarik utama baik bagi warga Yogyakarta maupun wisatawan. Selain mengandung makna spiritual yang mendalam, tradisi ini juga memperlihatkan bagaimana budaya Jawa diwariskan dari generasi ke generasi.
Gunungan yang dibagikan bukan hanya hasil bumi, tetapi juga simbol kerukunan, kebersamaan, dan hubungan erat antara Sultan dan rakyatnya.
***