
TUGUJOGJA – Ratusan warga memadati kompleks pertanian dan peternakan Padukuhan Ngeburan, Kalurahan Sumberharjo, Prambanan, Minggu (2/8/2026).
Mereka datang untuk mengikuti wisata petik melon yang digelar Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) Sumberharjo Sejahtera, sebuah program yang lahir dari transformasi lahan kas kalurahan yang sebelumnya kurang produktif.
Kegiatan tersebut menjadi penyelenggaraan kedua wisata petik melon yang digelar BUMKal. Sejak pagi, kawasan greenhouse sudah dipenuhi pengunjung yang ingin memetik langsung buah melon premium dari kebun.
Acara diawali dengan senam bersama, dilanjutkan hiburan organ tunggal, dan ditutup pembagian doorprize bagi peserta yang beruntung.
Di balik ramainya wisata petik melon itu, tersimpan cerita perubahan sebuah lahan yang sebelumnya belum memberikan manfaat ekonomi signifikan.
Kini, lahan tersebut mulai menghasilkan komoditas hortikultura premium sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat desa.
Pada hari yang sama, Kelompok Sumber Tumuwuh di bawah pengelolaan BUMKal Sumberharjo Sejahtera melaksanakan panen perdana melon premium varietas Kaori dan Dalmatian. Hasil panen awal mencapai lebih dari 50 kilogram.
Meski volumenya belum besar, keberhasilan tersebut menjadi langkah awal pengembangan kawasan pertanian modern berbasis greenhouse yang didukung pendanaan Dana Keistimewaan DIY.
Dari Kebun Melon hingga Wisata Edukasi
Direktur BUMKal Sumberharjo Sejahtera, Khoirun Sutrisno, mengatakan pengembangan melon premium bukan sekadar mengejar hasil panen.
Menurutnya, kawasan pertanian di Ngeburan sedang diarahkan menjadi destinasi wisata edukasi yang mampu menghadirkan nilai tambah bagi desa.
“Kami ingin potensi pertanian yang ada tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga berkembang menjadi wisata edukasi yang bisa memberikan manfaat ekonomi lebih luas bagi masyarakat,” ujarnya.
Khoirun menjelaskan, saat ini BUMKal Sumberharjo mengelola enam unit usaha yang bergerak di berbagai sektor.
Usaha tersebut meliputi layanan shuttle dan parkir bus menuju kawasan wisata Obelix, toko alat tulis kantor dan jasa fotokopi, kedai kopi, penyediaan beras dan tempe untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), peternakan kambing perah, serta budidaya melon premium.
Diversifikasi usaha itu dilakukan untuk memperkuat pendapatan kalurahan sekaligus menciptakan sumber ekonomi baru yang tidak bergantung pada satu sektor saja.
Antusiasme Warga Jadi Sinyal Positif
Ramainya wisata petik melon menjadi indikator bahwa konsep agrowisata yang dikembangkan mulai mendapat respons positif dari masyarakat.
Pengunjung tidak hanya membeli hasil panen, tetapi juga dapat melihat langsung proses budidaya melon di dalam greenhouse, mengenal teknik pertanian modern, hingga menikmati suasana kawasan pertanian yang terintegrasi dengan peternakan.
Model usaha seperti ini dinilai memiliki peluang berkembang karena menggabungkan tiga aspek sekaligus, yakni produksi pangan, wisata, dan edukasi.
Keberadaan pengunjung juga menciptakan perputaran ekonomi baru bagi warga sekitar melalui sektor kuliner, jasa, hingga penjualan produk lokal.
Lahan Kas Kalurahan Mulai Menghasilkan
Lurah Sumberharjo, Kurniawan Widiyanto, menyambut baik perkembangan usaha yang dijalankan BUMKal.
Menurutnya, optimalisasi aset desa menjadi salah satu strategi untuk memperkuat kemandirian ekonomi kalurahan.
“Pemerintah Kalurahan Sumberharjo senantiasa mendukung optimalisasi pengembangan usaha BUMKal. Kerja sama semua pihak terkait akan mempercepat pencapaian tujuan BUMKal,” kata Kurniawan.
Ia menilai keberhasilan pengembangan melon premium menunjukkan bahwa aset desa yang sebelumnya belum produktif dapat diubah menjadi usaha yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Potensi Besar untuk Dikembangkan
Bupati Sleman Harda Kiswaya yang hadir dalam panen perdana menilai langkah yang dilakukan BUMKal Sumberharjo menjadi contoh pemanfaatan aset desa yang mampu menciptakan nilai ekonomi baru.
Menurutnya, pengembangan pertanian modern masih memiliki prospek besar untuk menggerakkan perekonomian kawasan perdesaan.
“Saya apresiasi dan bangga. BUMKal harus bekerja sebaik-baiknya sesuai program yang ada sehingga benar-benar memberikan manfaat, termasuk membantu meningkatkan keuangan desa,” ujar Harda.
Ia melihat peluang pengembangan masih terbuka karena kawasan tersebut memiliki potensi lahan yang cukup luas untuk diperluas pada masa mendatang.
“Ini sangat potensial. Pak Lurah bisa menjalankan roda ekonomi melalui pertanian. Saya berharap panen berikutnya bisa lebih baik lagi,” katanya.
Harda juga mendorong kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah kalurahan, BUMKal, dan Pemerintah Kabupaten Sleman agar pengembangan sektor pertanian dapat berlangsung berkelanjutan, termasuk melalui dukungan bibit unggulan dan pendampingan teknis.
Desa Tak Lagi Hanya Menjual Hasil Panen
Panen perdana melon premium di Ngeburan menunjukkan perubahan cara desa mengelola potensi ekonominya.
Jika sebelumnya lahan hanya dipandang sebagai tempat produksi pertanian, kini kawasan tersebut mulai dikembangkan menjadi ekosistem usaha yang menghubungkan sektor pertanian, peternakan, perdagangan, hingga pariwisata.
Tingginya minat masyarakat pada wisata petik melon memberi sinyal bahwa desa memiliki peluang besar untuk menciptakan destinasi berbasis pengalaman (experience-based tourism) yang sedang berkembang di berbagai daerah.
Bagi Sumberharjo, panen perdana ini bukan sekadar menghasilkan puluhan kilogram melon. Momentum tersebut menjadi titik awal lahirnya model ekonomi desa yang mengubah lahan tidur menjadi ruang produktif, menarik pengunjung, dan membuka sumber pendapatan baru bagi masyarakat setempat. (Gal)