
TUGUJOGJA – Masa sekolah yang semestinya menjadi ruang belajar dan bertumbuh justru meninggalkan pengalaman pahit bagi seorang alumni SMA Negeri 2 Bantul.
Siswa yang dikenal memiliki kemampuan di bidang teknologi informasi itu mengaku mengalami perundungan dan pengucilan setelah terlibat dalam upaya mengungkap dugaan kebocoran soal ujian di sekolahnya.
Pendamping korban, Dini Sandra, mengatakan peristiwa tersebut bermula saat korban masih duduk di kelas XII.
Ketika itu, pihak sekolah mencurigai adanya kebocoran soal ujian dan meminta bantuan korban untuk menelusuri sumber kebocoran karena kemampuannya di bidang teknologi informasi.
“Karena memang ada indikasi kebocoran soal ujian, korban diminta untuk mencari siapa yang membocorkan. Korban berhasil menemukan siapa pelakunya, bahkan mengetahui alamat IP yang digunakan,” ujar Dini.
Menurut Dini, kemampuan korban dalam menelusuri jejak digital membuatnya berhasil mengidentifikasi pihak yang diduga terlibat.
Namun situasi kemudian berubah. Korban justru dituduh sebagai pihak yang membocorkan soal ujian.
Tuduhan tersebut, kata Dini, menjadi awal dari pengucilan yang dialami korban di lingkungan sekolah.
Hubungan sosialnya dengan teman-teman sekelas mulai memburuk hingga akhirnya ia merasa terasing.
“Korban kemudian dikucilkan di kelas maupun di sekolah. Dia tidak punya teman,” katanya.
Kondisi itu berlangsung hingga menjelang kelulusan. Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi saat penyusunan buku kenangan angkatan.
Korban mengaku tidak pernah dilibatkan dalam proses pembuatan buku tersebut.
Akibatnya, ketika buku kenangan selesai dicetak, tidak ada satu pun foto dirinya yang tercantum di dalamnya.
Menurut Dini, peristiwa itu masih meninggalkan luka emosional bagi korban hingga kini.
“Ketika topik itu saya singgung, korban masih terlihat kecewa dan marah dengan teman-teman sekelasnya waktu itu,” ujarnya.
Sementara itu, seorang teman yang mengenal korban sejak SMP hingga SMA mengatakan korban dikenal sebagai pribadi yang cenderung pendiam.
Interaksi mereka saat SMP memang terbatas karena berlangsung pada masa pandemi COVID-19 dan lebih banyak dilakukan melalui aplikasi WhatsApp.
Meski demikian, korban dikenal memiliki kemampuan di bidang teknologi informasi.
Ia bahkan sempat menjadi perhatian publik setelah berhasil meretas situs milik Kapolda dan mendapat apresiasi atas kemampuannya.
Saat memasuki SMA, korban disebut aktif mengikuti berbagai kegiatan sekolah.
Ia berpartisipasi dalam Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), mengikuti perlombaan, dan memiliki cukup banyak teman.
Namun, menurut teman korban, persoalan mulai muncul ketika terjadi sejumlah polemik terkait pelaksanaan ujian di sekolah.
Sebelum kasus dugaan kebocoran soal ujian berbasis Computer Based Test (CBT) yang kini menjadi sorotan, pernah terjadi kasus lain yang melibatkan seorang siswa berinisial F.
Saat itu sekolah masih menggunakan Google Form sebagai media ujian.
Menurut keterangan teman korban, praktik menyontek cukup marak terjadi di kalangan siswa.
F kemudian mengeluhkan nilai yang diperolehnya kepada sang ibu karena merasa dirugikan. Keluhan tersebut selanjutnya dilaporkan kepada pihak sekolah.
Alih-alih mendapat dukungan, F justru disebut mengalami perundungan karena dianggap sebagai pelapor atau “cepu” oleh sebagian siswa.
Dalam situasi tersebut, korban bersama beberapa temannya, termasuk HK, berupaya membantu meredakan konflik yang terjadi.
Persoalan akhirnya tidak berlanjut setelah F memilih untuk tidak memperpanjang kasus tersebut.
Namun, pengalaman itu diduga menjadi salah satu faktor yang membentuk stigma negatif terhadap siswa yang melaporkan pelanggaran di lingkungan sekolah.
Tidak lama kemudian muncul dugaan kebocoran soal ujian CBT. Dalam kasus inilah korban kembali terlibat karena membantu menelusuri sumber kebocoran.
Menurut pihak pendamping, keterlibatan korban dalam mengungkap dugaan pelanggaran akademik tersebut justru berujung pada tuduhan dan pengucilan yang berkepanjangan.
Rangkaian peristiwa itu, menurut mereka, membuat korban kehilangan banyak relasi pertemanan dan merasa tersisih dari lingkungan sekolah hingga masa kelulusan.
Salah satu simbol pengucilan yang paling diingat adalah tidak adanya foto dirinya dalam buku kenangan angkatan.