
TUGUJOGJA – Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta menyalakan alarm darurat sampah.
Kota budaya ini hanya mampu mengolah maksimal 190 ton sampah per hari di unit pengolahan, padahal volume yang masuk dari masyarakat sering melampaui batas.
Demi menghindari ancaman penumpukan, Pemkot menargetkan pengurangan sampah hingga 150 ton per hari agar semua dapat tertangani dengan baik.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan komitmen itu langsung di depan para Juru Pengawas Pemilahan Sampah (Jumilah) dan jajaran kelurahan.
Hasto mengingatkan, mulai Januari mendatang, Kota Yogyakarta tidak lagi bisa mengirim sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan.
“Kita harus bertindak sekarang. Jika volume sampah tidak segera ditekan, maka depo akan kewalahan,” tegasnya.
Hasto mendorong gerakan Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas JOS) sebagai benteng utama melawan krisis ini. Menurutnya, pemilahan sampah menjadi kunci.
Setiap rumah harus memisahkan organik dan anorganik. Emberisasi dan galonisasi wajib berjalan di tiap wilayah.
“Pemilahan sampah bukan sekadar ajakan, tetapi perang melawan mindset lama. Kita harus ubah pola pikir masyarakat. Sampah organik wajib masuk ember, penggerobak mengambilnya, dan offtaker mengolahnya. Jika masih ada sisa, kita buang ke biopori jumbo,” papar Hasto dengan nada serius.
Peran Strategis Jumilah dan Dukungan DLH
Hasto menuntut para Jumilah tidak hanya bertindak sebagai kapten yang memberi perintah, tetapi juga ikut terjun di lapangan.
“Saya tidak ingin Jumilah hanya mengawasi. Kalau ada kondisi darurat, mereka harus ikut turun tangan membantu penggerobak. Jumilah harus memastikan sampah benar-benar terpilah sebelum masuk depo,” tegasnya.
Ia bahkan mengingatkan agar Jumilah rajin melaporkan rumah tangga yang belum memiliki wadah organik.
Lurah wajib segera menindaklanjuti dan bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta.
Pemkot akan menggelar evaluasi besar-besaran pada 7 Oktober, bertepatan dengan HUT Kota Yogyakarta. Hasto berjanji akan mengawal langsung program Mas JOS, termasuk distribusi ember dan galon.
“Saya ingin saat ulang tahun kota, kita punya kabar baik: volume sampah bisa kita tekan, dan depo bisa bernapas lega,” ujarnya.
Sekretaris DLH Kota Yogyakarta, Lusiningsih, menegaskan pihaknya ingin membangun komunikasi yang erat dengan Jumilah. Ia menilai, tanpa komitmen bersama, program akan mandek.
“Kalau kita tidak saling menguatkan, program ini bisa berhenti di tengah jalan. Karena itu saya tegaskan, Jumilah punya kewenangan penting, dan mereka harus percaya diri,” ucapnya.
Sementara itu, Supriyanto, Kepala Bidang Pengembangan Kapasitas dan Pengawasan Lingkungan Hidup DLH Kota Yogyakarta, menyebut pihaknya sudah mulai mengangkut sampah organik di ember yang dikumpulkan warga.
“Kemarin kami ambil 135 ember sampah organik bersama Jumilah dan offtaker. Kami catat semua dengan sistem estimasi dan timbangan. Masyarakat memilah, penggerobak mengangkut, offtaker mengolah, dan Jumilah memastikan semuanya berjalan,” jelasnya.
Ancaman menumpuknya sampah mengintai jika target pengurangan tidak tercapai. Dengan kapasitas maksimal 190 ton per hari, sedikit saja ada tambahan volume, sistem pengolahan bisa lumpuh.
Yogyakarta berisiko menghadapi gunungan sampah di tengah kota, yang bukan hanya mengganggu keindahan, tetapi juga menimbulkan bau, penyakit, dan kerusakan lingkungan.
Karena itu, Pemkot Yogyakarta memilih bergerak cepat. Semua elemen masyarakat dilibatkan, dari rumah tangga hingga kelurahan, dari penggerobak hingga offtaker.
Target 150 ton per hari menjadi harga mati agar kota tetap bersih dan sehat.
“Ini bukan sekadar soal sampah. Ini soal masa depan kota kita. Kalau kita tidak bergerak bersama, Yogyakarta akan tenggelam oleh sampahnya sendiri,” pungkas Hasto.
https://frankspizzapalace.com/menu