
TUGUJOGJA – Harga minyak dunia melonjak pasca serangan AS ke Iran pada awal Maret 2026. Brent sempat tembus USD 82 per barel, dengan potensi naik hingga USD 100–120 jika gangguan Selat Hormuz berlanjut.
Pergerakan harga minyak dunia pada awal Maret 2026 menunjukkan lonjakan signifikan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pasar energi global merespons keras eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran, termasuk kekhawatiran gangguan distribusi minyak melalui Selat Hormuz.
Lonjakan ini terjadi setelah gelombang serangan udara besar-besaran yang dilancarkan oleh AS dan Israel terhadap Iran. Situasi tersebut memicu spekulasi pasar bahwa konflik berpotensi meluas dan berdampak langsung pada pasokan minyak global.
Harga Brent dan WTI Menguat Tajam
Berdasarkan data perdagangan terbaru, harga minyak mentah Brent sempat menyentuh sekitar USD 82 per barel. Angka tersebut menjadi level tertinggi dalam lebih dari satu tahun terakhir. Sementara itu, rata-rata harga diperkirakan tetap berada di kisaran tinggi sepanjang pekan ini akibat sentimen geopolitik yang memanas.
Sebelumnya, pada akhir Februari 2026, harga minyak Brent tercatat berada di sekitar USD 71 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga telah menunjukkan tren kenaikan dalam beberapa hari sebelum lonjakan terbaru.
Dikutip dari CNBC pada Senin (2/3/2026), pasar memperkirakan peluang sebesar 79% bahwa harga minyak mentah AS akan mencapai setidaknya USD 73 per barel atau lebih. Pada penutupan perdagangan Jumat sebelumnya, harga minyak mentah AS berada di USD 67,02 per barel setelah naik 17% sepanjang tahun ini sebagai antisipasi potensi serangan Iran.
Kontrak berjangka energi mulai diperdagangkan pukul 18.00 ET. Sementara itu, harga berjangka Brent ditutup pada Jumat di level USD 73,21 per barel, naik 20% sepanjang tahun berjalan.
Selat Hormuz Jadi Titik Krusial
Kekhawatiran utama pasar tertuju pada kemungkinan terganggunya lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan titik strategis perdagangan minyak global.
Menurut data perusahaan konsultan energi Kpler, rata-rata lebih dari 14 juta barel per hari melewati selat tersebut sepanjang 2025, atau sekitar sepertiga dari total ekspor minyak mentah dunia melalui jalur laut. Sekitar tiga perempat dari volume tersebut dikirim ke China, India, Jepang, dan Korea Selatan.
Potensi Tembus USD 100 hingga USD 120
Sejumlah analis memperingatkan bahwa jika gangguan pasokan berlangsung lama, harga minyak berpotensi menembus USD 90 hingga USD 100 per barel. Bahkan, dalam skenario ekstrem, harga spot Brent dapat melampaui USD 120 per barel.
UBS menilai terdapat kemungkinan pasar menghadapi gangguan signifikan terhadap pasokan global. Ketidakpastian mengenai siapa yang akan memimpin produsen minyak terbesar keempat di OPEC juga menambah ketegangan.
Dampak ke Pasar Saham dan Ekonomi Global
Kenaikan harga minyak secara langsung memengaruhi saham sektor energi di berbagai bursa dunia. Perusahaan minyak dan pengolah energi berpotensi mencatatkan peningkatan pendapatan ketika harga komoditas naik.
Namun, kenaikan biaya energi juga berisiko menekan sektor lain yang bergantung pada bahan bakar fosil. Inflasi global dan biaya produksi industri dapat terdampak jika harga minyak bertahan di level tinggi.
Sentimen pasar turut dipengaruhi oleh spekulasi konflik internasional yang lebih luas. Meski sebagian analis menilai skenario perang global penuh masih bersifat spekulatif, ketidakpastian geopolitik tetap menjadi faktor utama penggerak harga.
Investor kini terus memantau perkembangan konflik serta kebijakan produksi OPEC+ sebagai indikator utama arah pasar energi dalam beberapa pekan mendatang.***