
TUGU JOGJA – Harga daging ayam di Kabupaten Gunungkidul melonjak tajam dalam dua hari terakhir hingga mencapai Rp35 ribu per kilogram. Kenaikan harga yang terjadi di Pasar Argosari Wonosari ini mulai berdampak pada daya beli masyarakat sekaligus menekan pelaku usaha kuliner yang mengandalkan daging ayam sebagai bahan baku utama. Pedagang menduga meningkatnya kebutuhan pasokan untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu faktor yang mendorong lonjakan harga.
Lonjakan harga tersebut langsung dirasakan pedagang maupun konsumen. Sejumlah pembeli memilih mengurangi jumlah pembelian, bahkan menunda berbelanja karena harga dinilai terlalu tinggi. Di sisi lain, pelaku usaha kuliner tetap harus membeli daging ayam dalam jumlah yang sama agar kualitas produk dan pelayanan kepada pelanggan tetap terjaga, meski biaya produksi terus meningkat.
Suasana Pasar Argosari Wonosari masih terlihat ramai oleh aktivitas jual beli. Namun di balik ramainya pasar, pedagang dan pembeli sama-sama dihadapkan pada kenyataan baru, yaitu melonjaknya harga daging ayam dalam dua hari terakhir.
Kenaikan harga tersebut langsung terasa di lapak-lapak pedagang daging ayam. Banyak pembeli memilih mengurangi jumlah pembelian, bahkan sebagian menunda membeli karena harga dinilai sudah terlalu tinggi.
Sarmi / Pedagang Pasar
Salah satu pedagang daging ayam mengaku, kenaikan harga kali ini menjadi salah satu yang paling tinggi dalam beberapa pekan terakhir. Jika saat masa libur sekolah harga daging ayam masih berkisar Rp25 ribu hingga Rp26 ribu per kilogram, kini harganya meningkat menjadi Rp34 ribu hingga Rp35 ribu per kilogram.
Akibat kenaikan tersebut, daya beli masyarakat langsung menurun. Dari stok sekitar 25 kilogram yang disediakan setiap hari, kini pedagang hanya mampu menjual sekitar 19 hingga 20 kilogram. Padahal dalam dua pekan terakhir, penjualan masih berkisar 25 hingga 30 kilogram per hari. Salah satu faktor yang disebut pedagang adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kembali beroperasi.
Menurunnya daya beli masyarakat membuat pedagang harus menyesuaikan target penjualan. Mereka menyebut penurunan penjualan mencapai hingga 30 persen dibandingkan saat harga daging ayam masih normal.
Lik Priyana Saputro / Pedagang Daging Ayam
Dampak kenaikan harga ini tidak hanya dirasakan pedagang daging ayam. Pelaku usaha kuliner yang menggunakan daging ayam sebagai bahan baku utama juga ikut tertekan.
Salah satunya pedagang mie ayam di Gunungkidul. Meski harga daging ayam terus meningkat, ia tetap harus membeli dalam jumlah yang sama untuk memenuhi kebutuhan usahanya. Menurutnya, daging ayam menjadi bahan pokok yang tidak bisa dikurangi karena berkaitan langsung dengan kualitas dan pelayanan kepada pelanggan.
Rini Setriyani / Pedagang Mie Ayam
Di tengah keluhan pedagang dan pelaku usaha kuliner, permintaan daging ayam di pasar justru disebut terus meningkat. Pedagang menilai salah satu penyebabnya adalah bertambahnya kebutuhan daging ayam untuk memenuhi pasokan dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah wilayah.
Meningkatnya permintaan tersebut diduga membuat pasokan menjadi semakin ketat sehingga harga daging ayam di tingkat pasar ikut terdongkrak. Pedagang berharap harga dapat segera kembali stabil agar daya beli masyarakat pulih dan penjualan dapat kembali normal.