
TUGUJOGJA— Pasokan gas LPG 3 kg di wilayah Kabupaten Gunungkidul mengalami keterlambatan serius selepas libur Lebaran 2026. Kondisi ini memicu kelangkaan di tingkat pangkalan dan membuat warga kesulitan mendapatkan gas melon, terutama di sejumlah wilayah seperti Patuk.
Seorang warga Patuk bernama Puji mengungkapkan harus berkeliling ke beberapa pangkalan hanya untuk mencari gas LPG 3 kg. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil karena hampir seluruh pangkalan yang ia datangi mengaku kehabisan stok.
“Selepas Lebaran ini sulit sekali cari gas melon. Saya sudah ke beberapa pangkalan, tapi semuanya bilang stok habis karena kiriman belum datang,” ujarnya.
Pasokan Gas LPG 3 Kg di Gunungkidul
Keterlambatan ini terjadi akibat mundurnya jadwal pengiriman dari agen ke pangkalan. Jika sebelumnya distribusi berjalan sesuai jadwal rutin, kini pengiriman justru tertunda hingga satu hari setelah Lebaran.
Dampaknya langsung terasa di lapangan, di mana pangkalan tidak memiliki cadangan stok untuk melayani permintaan masyarakat yang kembali meningkat.
Situasi ini semakin parah dengan kendala teknis di tingkat distribusi. Seorang kru armada pengantar gas dari agen ke pangkalan, yang enggan disebutkan namanya, mengungkapkan bahwa ia bersama rekan-rekannya harus bekerja ekstra keras dalam beberapa hari terakhir.
Ia menjelaskan bahwa pengisian gas di SPBE (Stasiun Pengisian Bulk Elpiji) baru bisa berlangsung mulai pukul 15.00 WIB. Kondisi ini memaksa para kru untuk mengantre panjang sebelum akhirnya bisa membawa muatan.
“Sering kali kami baru keluar dari SPBE sekitar pukul 22.00 WIB untuk mulai pengiriman ke pangkalan,” jelasnya.
Dengan waktu yang sudah larut, tantangan semakin besar. Medan di wilayah Gunungkidul yang berbukit, gelap, dan memiliki banyak ruas jalan rusak membuat proses distribusi tidak bisa berjalan cepat.
“Tidak jarang kami sampai di pangkalan sudah tengah malam,” tambahnya.
Karena pertimbangan teknis dan keamanan, pengiriman yang tiba terlalu malam sering kali ditunda hingga keesokan harinya. Hal ini justru menambah beban bagi pemilik pangkalan.
Mereka terpaksa bekerja dua kali. Pertama, mengeluarkan tabung kosong dari gudang untuk persiapan distribusi, lalu memasukkannya kembali karena kiriman belum datang. Keesokan harinya, mereka harus mengulang proses yang sama.
Kondisi ini memicu keluhan dari para pemilik pangkalan yang merasa dirugikan secara tenaga dan waktu.
“Mau tidak mau kami harus kerja dua kali. Ini sangat merepotkan,” keluh salah satu pemilik pangkalan.
Harapan Solusi dari Pemerintah dan Pertamina
Para pelaku distribusi berharap pihak terkait segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan ini. Salah satu solusi yang diusulkan adalah mengoperasikan SPBE tambahan yang saat ini belum difungsikan.
“Kalau SPBE yang sekarang sudah kewalahan, seharusnya yang satunya bisa segera dioperasikan,” ujar sumber tersebut.
Sementara itu, Anang, salah satu operator SPBU di wilayah Bejiharjo, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas keterlambatan pasokan gas LPG 3 kg.
“Kami mohon maaf kepada konsumen karena terjadi keterlambatan pasokan ke pangkalan,” kata Anang, Jumat (27/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa keterlambatan tersebut terjadi akibat pasokan dari SPBE yang juga mengalami kendala.
Di sisi lain, pihak Pertamina melalui perwakilan PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Tengah dan Yogyakarta menyatakan akan segera melakukan koordinasi internal untuk menindaklanjuti keluhan yang terjadi di wilayah Gunungkidul.
“Izin mas, kami akan coba tanyakan dan koordinasikan dengan tim terkait,” ujar perwakilan Pertamina.
Hingga kini, masyarakat Gunungkidul masih menanti kepastian perbaikan distribusi agar pasokan gas LPG 3 kg kembali normal. Dengan meningkatnya kebutuhan pasca-Lebaran, keterlambatan distribusi tidak hanya mengganggu aktivitas rumah tangga, tetapi juga berdampak pada pelaku usaha kecil. (ef linangkung)