
TUGUJOGJA – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus mempercepat pengembangan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai energi alternatif pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG) bersubsidi tabung 3 kilogram.
Langkah ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG yang selama ini terus meningkat.
Salah satu inovasi yang tengah disiapkan adalah penggunaan tabung gas berbahan serat fiber atau komposit Tipe 4. Teknologi tersebut disebut menjadi terobosan baru karena dirancang khusus untuk kebutuhan tabung gas ukuran kecil dengan tingkat keamanan yang lebih tinggi.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengatakan pemerintah saat ini fokus menyelesaikan proses standardisasi dan hak paten agar tabung tersebut dapat segera digunakan masyarakat.
โPenelitian untuk kita menggunakan CNG ini sudah cukup lama dan ada dua komponen penting di bagian tabung dan valve ini yang membutuhkan teknologi yang akhirnya pada hari ini tuh sudah ditemukan dan sudah bisa diimplementasikan,โ jelasnya dalam diskusi energi yang diselenggarakan ASPEBINDO di Jakarta, dikutip Rabu (6/5/2026).
Tabung Fiber Dinilai Lebih Ringan dan Aman
Pemerintah menilai tabung konvensional atau Tipe 1 yang selama ini digunakan memiliki keterbatasan, terutama dari sisi berat dan distribusi. Karena itu, pengembangan tabung berbahan fiber dianggap mampu meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memudahkan penyaluran gas kepada masyarakat.
Selain lebih ringan, material komposit Tipe 4 juga diklaim memiliki kemampuan menahan tekanan tinggi secara lebih stabil dibanding tabung logam biasa.
Laode menjelaskan, pengawasan terhadap pengembangan tabung tersebut nantinya akan dilakukan oleh Lemigas guna memastikan setiap unit memenuhi standar keselamatan sebelum diproduksi massal.
โTabung itu sejak Tipe 1 sudah ditulis Pak, jurnal. Jadi dari Tipe 1-Tipe 4 itu dari ribuan jurnal dan tulisan tuh. Yang paling penting sekarang udah dipatenkan belum? Nah ini saya bilang makanya yang 3 bulan nanti itu itu harus sudah paten. Jadi bukan bikin-bikin baru merangkai terus ini nggak,โ tegasnya.
Pemerintah menargetkan seluruh proses administratif, termasuk paten desain tabung gas 3 kg berbahan fiber tersebut, dapat diselesaikan dalam waktu tiga bulan ke depan.
CNG Disebut Bisa Pangkas Subsidi Energi
Selain mengurangi impor, penggunaan CNG juga diproyeksikan mampu menekan beban subsidi energi nasional. Berdasarkan hasil simulasi pemerintah, biaya penggunaan CNG diperkirakan lebih hemat sekitar 30 persen dibanding LPG.
Hal itu karena sumber gas untuk CNG berasal dari lapangan gas domestik yang tersedia melimpah di Indonesia.
โMengapa harus ada tabung ini, cuma tabung ini kan yang belum ada itu cuma Tipe 4 untuk 3 kg. Itulah yang dikejar dalam waktu Pak Menteri sampaikan 3 bulan ke depan itu sudah ada Tipe 4 untuk 3 kg dan dari situ nanti kita sudah mulai memproduksi dalam jumlah yang lebih masif,โ tandas Laode.
Bahlil: Indonesia Harus Cari Energi Alternatif Dalam Negeri
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya menyampaikan bahwa pemerintah sedang mengkaji berbagai alternatif energi pengganti LPG, terutama di tengah situasi geopolitik global yang mempengaruhi rantai pasok energi dunia.
Menurut Bahlil, kebutuhan LPG Indonesia saat ini mencapai lebih dari 8 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 75 hingga 80 persen masih bergantung pada impor.
โPersoalannya sekarang adalah ketika gejolak politik seperti ini untuk mendapatkan kepastian impor LPG itu memang ada, tapi kan kita tergantung pada global. Maka kita merumuskan untuk mencari alternatif lain. CNG adalah salah satu alternatifnya,โ jelas Bahlil usai rapat terbatas di Istana Negara, Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Ia menambahkan, penggunaan CNG sebenarnya sudah berjalan di sejumlah sektor seperti hotel, restoran, hingga dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG), namun masih menggunakan tabung berukuran besar.
โNah CNG ini kan sudah dipakai oleh hotel, restoran, MBG, sudah ada, tapi pada klasifikasi yang 20 kilo gram ke atas, ada yang 10 kilo gram ke atas,โ ujarnya.
Ditargetkan Bisa Digunakan Masyarakat Tahun Ini
Pemerintah saat ini juga tengah melakukan simulasi penggunaan CNG dalam ukuran tabung 3 kilogram untuk kebutuhan rumah tangga. Bahlil memperkirakan proses uji coba tersebut dapat selesai dalam waktu 2 hingga 3 bulan.
โ2-3 bulan ini kita akan dapat hasilnya kemudian kalau itu sudah dinyatakan firm, kita akan melakukan konversi. Sebab apa? CNG ini bahan bakunya ada semua di kita. C1, C2 gas,โ ungkap Bahlil.
Ia kembali menegaskan bahwa penggunaan CNG dinilai lebih murah karena bahan bakunya tersedia di dalam negeri dan tidak memerlukan biaya impor serta transportasi tinggi.
โKenapa dia lebih murah? Karena yang pertama gasnya itu ada di kita dan industrinya kan ada di kita, di dalam negeri. Jadi tidak kita melakukan impor, cost transportasinya aja udah bisa meng-cover,โ katanya.
Sementara itu, Dirjen Migas Laode Sulaeman menyebut pemerintah menargetkan penggunaan CNG untuk masyarakat bisa dimulai tahun ini, terutama di kota-kota besar di Pulau Jawa yang infrastrukturnya dinilai lebih siap.
โDitargetkan tahun ini bisa dikonsumsi masyarakat,โ ujarnya.
Distribusi Akan Dilakukan Bertahap
Pada tahap awal, pemerintah akan memprioritaskan distribusi CNG di wilayah yang memiliki infrastruktur pendukung memadai. Implementasi dilakukan secara bertahap sebelum nantinya diperluas ke berbagai daerah lain di Indonesia.
โBertahap di kota-kota besar dulu di Jawa. Roadmap-nya adalah tentu kita ada karena ini belum diumumkan oleh Pak Menteri, tapi intinya ke depan kita akan mereduksi LPG kita, kita gantikan dengan CNG,โ tandasnya.
Pemerintah juga membuka kemungkinan pemberian subsidi untuk produk CNG tersebut. Namun hingga kini, skema dan besaran subsidinya masih dalam tahap kajian.
โSemuanya lagi dikaji. Opsinya subsidi masih haruslah, tinggal volumenya seperti apa yang kita perlu baca ya,โ imbuh Bahlil.
***