
TUGUJOGJA – Pemerintah Kota Yogyakarta kembali bergerak menyentuh denyut nadi kehidupan warganya yang selama ini terpinggirkan oleh kerasnya himpitan ekonomi.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, turun langsung memimpin program Bedah Rumah Tak Layak Huni di dua titik wilayah Kemantren Wirobrajan, Minggu, 24 Agustus 2025.
Dua rumah milik keluarga sederhana, yakni kediaman Dwi Cahya Nugraha di Kampung Patangpuluhan WB III/364 RT 10 RW 02 serta rumah Mujiyati di RT 25 RW 06 Kampung Pakuncen, menjadi saksi nyata gerilya kemanusiaan tersebut.
Suasana haru menyeruak ketika warga melihat rombongan Wali Kota Yogyakarta datang dengan semangat gotong royong. Bagi banyak orang, rumah hanyalah bangunan fisik, tetapi bagi keluarga Dwi Cahya dan Mujiyati, rumah merupakan mimpi panjang yang tertunda karena himpitan biaya.
Puluhan tahun mereka bertahan dengan dinding rapuh, kayu keropos, dan atap bocor. Kini, tangan-tangan solidaritas hadir membalikkan keadaan.
Dukungan CSR dan Kolaborasi Komunitas
“Saya selalu meminta agar CSR dari Bank BPD dialokasikan untuk membantu warga yang kesulitan membangun rumah. Banyak warga sudah puluhan tahun ingin memperbaiki rumah, tapi belum mampu. Karena itu, setiap Minggu kita berusaha melakukan bedah rumah,” tegas Hasto.
Dalam aksi kali ini, bantuan mengalir dari Bank BPD DIY, Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IBI), serta donasi dari Anisku Grup dan beberapa OPD terkait. Hasto menyebut dukungan dari IBI sebagai momentum perdana di Kota Yogyakarta.
“Alhamdulillah, ini perdana dari jemaah IBI untuk Yogyakarta. Setelah ini akan dilanjutkan ke Tegalrejo. Mudah-mudahan bisa terwujud hingga 10 rumah. Kalau satu rumah biasanya butuh Rp40 juta, IBI bisa bantu Rp20 juta, sisanya kita gotong-royong bersama. Itu jadi amal jariyah,” jelasnya.
Hasto menegaskan bahwa program Bedah Rumah bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan bentuk nyata dari filosofi Segoro Amarto: gotong royong untuk kemuliaan Kota Yogyakarta. Semangat itu menjadi pondasi agar warga tidak sekadar menerima bantuan, tetapi juga turut menjaga dan merawat kebersamaan.
Rumah Layak Huni untuk Masa Depan Keluarga
Hasto juga mengingatkan bahwa rumah layak huni memiliki peran besar dalam tumbuh kembang anak-anak. Hunian yang sehat akan menopang kualitas hidup generasi muda agar terbebas dari masalah gizi dan stunting.
“Kalau rumahnya layak, anak-anak juga tumbuh sehat, insyallah tidak stunting. Jadi manfaatnya bukan hanya rumah, tapi juga untuk masa depan keluarga,” ungkapnya.
Hasto menambahkan, Pemkot Yogyakarta akan terus menjalankan program Bedah Rumah secara berkelanjutan dengan menggandeng berbagai pihak.
“Yang terpenting itu gotong royong. Pemerintah, lembaga, komunitas, dan masyarakat saling bersinergi agar warga bisa tinggal di rumah yang lebih layak,” imbuhnya.
Mujiyati: “Rumah Saya Bocor, Kayunya Keropos, Kini Ada Harapan Baru”
Di tengah kerumunan warga, wajah haru sekaligus bahagia terpancar dari Mujiyati, salah satu penerima bantuan. Ia tak mampu menahan rasa syukurnya saat rumah rapuh yang lama ia tinggali akhirnya mendapatkan perhatian.
“Terima kasih sekali kepada pemerintah. Rumah saya bocor dan kayunya sudah keropos. Harapannya setelah ini bisa lebih nyaman dan tidak bocor lagi,” ucap Mujiyati.
Gerilya Pemkot Yogyakarta dalam program Bedah Rumah kini tidak hanya menjadi solusi bagi warga kurang mampu, tetapi juga simbol solidaritas sosial yang membangkitkan optimisme.
Program ini menyulut kesadaran bahwa membangun kota bukan hanya soal infrastruktur besar, tetapi juga memastikan setiap warga memiliki tempat tinggal yang layak, sehat, dan bermartabat.