
TUGUJOGJA – Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkanik berupa awan panas guguran dalam rentang waktu Sabtu hingga Minggu pagi.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat dua kejadian awan panas guguran yang meluncur dari puncak gunung, menegaskan bahwa suplai magma di tubuh Merapi masih berlangsung aktif.
Berdasarkan laporan resmi BPPTKG, dua kejadian awan panas guguran tersebut terjadi pada periode pengamatan Sabtu, 20 Desember 2025, pukul 00.00 hingga 24.00 WIB. Awan panas guguran tercatat memiliki amplitudo antara 25 hingga 42 milimeter dengan durasi kejadian berkisar 106 sampai 152 detik.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santosa, menjelaskan bahwa aktivitas tersebut mencerminkan dinamika magma yang masih aktif di dalam Gunung Merapi. Menurutnya, awan panas guguran meluncur sejauh 1.500 meter ke arah alur sungai yang tidak teramati secara visual.
“Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung dan kondisi ini berpotensi memicu awan panas guguran lanjutan di area berbahaya,” ujar Agus Budi Santosa dalam keterangan resminya.
Guguran Lava dan Aktivitas Kegempaan
Selain awan panas guguran, BPPTKG juga mencatat tingginya aktivitas guguran lava selama Sabtu. Dalam periode yang sama, tercatat 101 kali guguran lava dengan jarak luncur maksimum mencapai 1.700 meter ke arah barat daya.
Guguran lava tersebut mengarah ke sejumlah alur sungai, yakni Kali Krasak, Kali Sat atau Putih, serta Kali Bebeng. Aktivitas ini menunjukkan bahwa material lava masih terus mengalami suplai dari kubah lava di puncak gunung.
Dari sisi kegempaan, BPPTKG mencatat 60 kali gempa hybrid atau fase banyak. Jenis gempa ini mengindikasikan adanya pergerakan fluida magma di dalam tubuh gunung api.
Secara visual, Gunung Merapi teramati jelas meskipun sesekali tertutup kabut tipis. Asap kawah berwarna putih terpantau keluar dari puncak dengan intensitas tebal dan tinggi mencapai sekitar 80 meter di atas kawah.
Aktivitas Masih Terjadi hingga Minggu Pagi
Memasuki Minggu, 21 Desember 2025, aktivitas Gunung Merapi masih berlanjut. Dalam periode pengamatan pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, petugas kembali mencatat 12 kali guguran lava dengan jarak luncur maksimum yang meningkat hingga 1.800 meter ke arah barat daya.
Asap kawah masih terus teramati keluar dari puncak dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Tinggi kolom asap tercatat berada pada kisaran 50 hingga 100 meter di atas puncak.
Aktivitas kegempaan juga masih terjadi pada periode tersebut. BPPTKG mencatat 16 kali gempa hybrid, yang menunjukkan bahwa tekanan magma di dalam tubuh Gunung Merapi masih berlangsung.
Status Level III Siaga Masih Diberlakukan
Hingga laporan terakhir, BPPTKG menetapkan status Gunung Merapi berada pada Level III atau Siaga. Status ini mengharuskan peningkatan kewaspadaan bagi masyarakat dan seluruh pihak terkait, terutama yang berada di kawasan rawan bencana.
BPPTKG menyampaikan bahwa potensi bahaya utama saat ini berupa guguran lava dan awan panas guguran di sektor selatan hingga barat daya.
Kawasan rawan meliputi alur Sungai Boyong hingga jarak maksimal 5 kilometer, Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga maksimal 7 kilometer, Sungai Woro hingga maksimal 3 kilometer, serta Sungai Gendol hingga maksimal 5 kilometer dari puncak.
Selain itu, BPPTKG juga mengingatkan bahwa jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik berpotensi menjangkau radius hingga 3 kilometer dari puncak Gunung Merapi.
Imbauan kepada Masyarakat
BPPTKG mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di dalam zona potensi bahaya yang telah ditetapkan. Warga juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lahar dan awan panas guguran, terutama saat terjadi hujan di sekitar kawasan Gunung Merapi.
Masyarakat juga diingatkan untuk mengantisipasi dampak abu vulkanik, termasuk gangguan kesehatan, jarak pandang, serta aktivitas sehari-hari.
“Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, kami akan segera meninjau ulang tingkat aktivitas Gunung Merapi dan menyampaikan informasi terbaru kepada masyarakat,” tegas Agus Budi Santosa.
Pemantauan aktivitas Gunung Merapi terus dilakukan secara intensif oleh BPPTKG sebagai dasar penyampaian informasi dan rekomendasi kebencanaan kepada publik.