
TUGUJOGJA – Jadwal sidang isbat Lebaran 2026 lengkap dengan waktu pelaksanaan dan pengumuman resmi Kemenag. Simak juga prediksi Idul Fitri 1447 H.
Menjelang akhir Ramadan 1447 Hijriah, pertanyaan mengenai kapan Hari Raya Idul Fitri 2026 kembali menjadi perhatian masyarakat. Penetapan resmi tanggal Lebaran di Indonesia akan diputuskan melalui sidang isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama (Kemenag).
Sidang ini menjadi rujukan utama bagi masyarakat dalam menentukan kapan pelaksanaan 1 Syawal. Selain itu, hasil sidang isbat juga menjadi dasar penetapan hari libur nasional Idul Fitri secara serentak di seluruh Indonesia.
Jadwal Sidang Isbat Lebaran 2026
Berdasarkan jadwal resmi dari Kemenag, sidang isbat penetapan Lebaran 2026 akan dilaksanakan pada Kamis, 19 Maret 2026. Pelaksanaan sidang ini bertepatan dengan tanggal 29 Ramadan 1447 H.
Mengacu pada informasi dari laman Bimas Islam Kemenag, rangkaian sidang akan dimulai pada sore hari. Tahapan pertama berupa seminar pemaparan posisi hilal yang dijadwalkan berlangsung pukul 16.30 WIB.
Kegiatan seminar ini dapat disaksikan secara langsung melalui live streaming di kanal YouTube Bimas Islam TV, TikTok, serta Instagram Bimas Islam.
Setelah seminar, sidang isbat akan dilanjutkan pada pukul 18.00 WIB. Berbeda dengan sesi sebelumnya, sidang ini bersifat tertutup dan tidak dapat diikuti oleh publik secara langsung.
Waktu Pengumuman Hasil Sidang Isbat
Masyarakat tidak perlu menunggu lama untuk mengetahui hasil penetapan Lebaran 2026. Kemenag dijadwalkan mengumumkan hasil sidang isbat pada hari yang sama.
Pengumuman resmi akan disampaikan melalui konferensi pers pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 19.25 WIB. Siaran tersebut juga dapat diakses secara daring melalui kanal YouTube Bimas Islam TV, Kemenag RI, TikTok, dan Instagram Bimas Islam.
Melalui konferensi pers ini, pemerintah akan menetapkan secara resmi tanggal 1 Syawal 1447 H yang menjadi acuan nasional.
Proses Penentuan Awal Syawal
Sidang isbat tidak dilakukan secara sederhana, melainkan melalui beberapa tahapan yang melibatkan berbagai pihak.
Proses dimulai dengan pemaparan posisi hilal secara ilmiah oleh para ahli falak. Dalam tahap ini, data astronomi dikaji untuk mengetahui kemungkinan terlihatnya hilal.
Setelah itu, dilakukan verifikasi laporan rukyatul hilal dari berbagai wilayah di Indonesia. Hasil pengamatan langsung ini menjadi salah satu pertimbangan penting dalam penentuan awal bulan Syawal.
Seluruh data yang telah dikumpulkan kemudian dibahas dalam sidang tertutup sebelum diambil keputusan akhir.
Prediksi Lebaran 2026 Versi Pemerintah
Sebelum hasil sidang isbat diumumkan, pemerintah telah memberikan gambaran awal mengenai kemungkinan tanggal Lebaran.
Mengacu pada Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri tentang Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2026 serta kalender Hijriah, Idul Fitri 2026 diperkirakan jatuh pada 21 Maret 2026.
Namun demikian, masyarakat tetap diminta menunggu hasil sidang isbat sebagai penetapan resmi.
Penetapan Lebaran oleh Muhammadiyah
Sementara itu, Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan tanggal Lebaran melalui metode hisab.
Berdasarkan Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 Hijriah, Idul Fitri 2026 ditetapkan jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.
Perbedaan ini muncul karena metode penentuan awal bulan Hijriah yang digunakan berbeda.
Perbedaan Metode Penentuan
Dalam penentuan awal Syawal, terdapat dua pendekatan yang umum digunakan.
Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, yaitu perhitungan astronomi yang memungkinkan penentuan tanggal jauh hari sebelumnya.
Sementara itu, pemerintah bersama sejumlah pihak seperti Nahdlatul Ulama (NU), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), menggunakan kriteria MABIMS.
Kriteria ini menetapkan bahwa hilal dapat dinyatakan terlihat jika memenuhi syarat tinggi minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.
Berdasarkan analisis yang ada, pada 19 Maret 2026 posisi hilal diperkirakan belum memenuhi kriteria tersebut di wilayah Asia Tenggara. Hal ini membuka kemungkinan bulan Ramadan disempurnakan menjadi 30 hari.
Imbauan Menjaga Persatuan
Perbedaan dalam penetapan tanggal Idul Fitri merupakan hal yang kerap terjadi dan menjadi bagian dari dinamika keilmuan dalam Islam.
Masyarakat diimbau untuk tetap menunggu hasil sidang isbat sebagai acuan resmi pemerintah, sekaligus menjaga sikap saling menghormati atas perbedaan yang ada.
Dengan demikian, momen Idul Fitri tetap dapat dirayakan dengan penuh kebersamaan dan makna, terlepas dari adanya perbedaan metode penentuan.
***