
TUGUJOGJA – Suasana haru dan penuh semangat kebersamaan menyelimuti Ruang Bima, Kompleks Balai Kota Yogyakarta, saat Musyawarah Daerah Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Kota Yogyakarta digelar.
Acara itu bukan sekadar forum organisasi, melainkan momentum kebangkitan nilai keislaman, ukhuwah, dan kepedulian sosial.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, hadir langsung memberikan apresiasi sekaligus dorongan moral kepada jamaah haji untuk menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.
Hasto berdiri di hadapan ratusan jamaah dengan suara tegas namun penuh kelembutan.
Ia menegaskan bahwa haji bukanlah sekadar ritual spiritual, melainkan proses pembentukan akhlak mulia yang harus mewujud dalam kehidupan sehari-hari.
“IPHI telah berperan penting dalam memperkuat ukhuwah, memberdayakan umat, dan berkontribusi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Atas nama pemerintah dan masyarakat Kota Yogyakarta, saya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya,” ujar Hasto.
Dalam pidatonya, Hasto mengingatkan bahwa haji mabrur sejati terletak pada kemampuan jamaah membawa nilai ibadah itu ke dalam perilaku sosial.
Ia menekankan bahwa akhlak menjadi penentu utama kemajuan bangsa, lebih berharga dibanding kekayaan alam atau harta.
“Sejak saya memimpin Kulon Progo hingga kini, saya menyaksikan bahwa kemajuan bangsa ditentukan oleh akhlak manusianya. Dengan haji yang mabrur, InsyaAllah kita semua menjadi pribadi berakhlak mulia,” tegasnya.
Hasto kemudian menyinggung pentingnya personal mastery, kedewasaan dalam mengendalikan diri, yang menurutnya menjadi salah satu inti ajaran haji.
Ia menggambarkan ciri kedewasaan sebagai kemampuan menahan emosi dan bersikap bijak dalam menghadapi persoalan.
“Akhlakul karimah itu salah satunya adalah bisa menahan diri. Orang yang dewasa akan bijak dalam menyikapi persoalan,” tambahnya.
Tidak berhenti pada tataran spiritual, Hasto juga mengajak jamaah haji dan anggota IPHI untuk memperluas manfaat sosial dengan aktif menolong sesama.
Ia menggambarkan kondisi warga yang masih hidup dalam kesederhanaan, bahkan sebagian belum memiliki rumah layak huni.
“Kalau tadi saya berharap Bapak Ibu menjadi agen perubahan, maka yang kedua adalah menjadi bagian dari mereka yang suka menolong. Mari kita hadir untuk mereka, sebab masih banyak saudara kita yang sangat membutuhkan uluran tangan,” seru Hasto.
Ia berharap Musyawarah Daerah IPHI Kota Yogyakarta melahirkan semangat baru, pengurus yang solid, serta langkah-langkah strategis yang semakin bermanfaat bagi umat dan masyarakat luas.
Musyawarah Daerah IPHI Kota Yogyakarta tahun ini tidak hanya menghasilkan keputusan organisasi, tetapi juga memperlihatkan betapa kuatnya semangat kebersamaan para jamaah haji.
Dengan program-program bantuan sosial dan pemberdayaan umat, IPHI menegaskan eksistensinya sebagai organisasi yang tidak hanya menjaga silaturahmi, tetapi juga hadir nyata di tengah masyarakat.
Sementara itu, Ketua IPHI Kota Yogyakarta periode 2020–2025, Widjdan Al Arifin, menyampaikan rasa syukur atas berakhirnya masa kepemimpinannya.
Dengan suara bergetar namun penuh keyakinan, ia menegaskan bahwa kepemimpinan di IPHI bukan sekadar jabatan, melainkan panggilan hati untuk membina jamaah haji dan menggerakkan kiprah sosial di masyarakat.
“IPHI memiliki potensi besar untuk menjadi motor penggerak kebaikan, membangun solidaritas, dan memperkuat nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil alamin. Oleh karena itu, saya mengajak seluruh jajaran pengurus dan anggota untuk memperkuat sinergi, menjadikan IPHI sebagai organisasi yang inklusif, aktif, dan berdampak,” ucap Arifin.
Arifin juga mengucapkan terima kasih kepada Wali Kota Yogyakarta dan seluruh jajaran Pemkot atas dukungan nyata yang diberikan, termasuk kolaborasi dengan Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta dalam pembinaan jamaah haji.
“Semoga Musda ini menjadi titik awal bagi IPHI Kota Yogyakarta untuk melangkah lebih maju, lebih shaleh, dan lebih bermanfaat bagi umat, bangsa, dan negara,” pungkasnya.