
TUGU JOGJA – Kasus rubella di Kabupaten Bantul mengalami lonjakan signifikan sepanjang Januari hingga 30 Juli 2026. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul mencatat 35 kasus rubella atau meningkat sekitar 150 persen dibandingkan periode tahun sebelumnya yang hanya mencapai 14 kasus. Peningkatan ini mendorong Dinkes mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama guna melindungi balita dan ibu hamil dari risiko infeksi.
Meski jumlah kasus meningkat, Dinkes Bantul menyebut penyebaran rubella tidak menunjukkan keterkaitan secara epidemiologis. Masyarakat tetap diminta melengkapi imunisasi Measles Rubella (MR), menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala demam yang disertai ruam untuk mencegah penularan lebih luas.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Bantul, Samsu Aryanto, mengungkapkan peningkatan kasus memang terjadi selama periode Januari hingga 30 Juli 2026.
“Memang terjadi kenaikan kasus, tetapi tidak ada kaitan secara epidemiologi,” kata Samsu, Minggu (2/8/2026).
Rubella merupakan penyakit yang sering dianggap ringan karena gejalanya menyerupai demam biasa. Padahal, virus ini dapat membawa dampak serius apabila menyerang kelompok rentan. Penderita umumnya mengalami demam yang disertai ruam makulopapular atau bercak kemerahan pada kulit.
Data Dinkes Bantul menunjukkan sebagian besar kasus menyerang balita. Kondisi tersebut terjadi karena anak-anak belum memiliki kekebalan tubuh yang optimal, memiliki riwayat kontak erat dengan penderita, atau daya tahan tubuh yang sedang menurun.
Karena itu, Dinkes Bantul terus mengingatkan para orang tua agar tidak menunda pemberian imunisasi Measles Rubella (MR). Vaksin menjadi perlindungan utama untuk membentuk kekebalan tubuh sekaligus memutus rantai penyebaran virus di tengah masyarakat.
“Pemberian vaksin MR sesuai jadwal usia anak yakni sembilan bulan, 18 bulan, dan saat kelas satu sekolah dasar,” ujar Samsu.
Komitmen memperkuat perlindungan masyarakat juga diwujudkan melalui program imunisasi yang terus berjalan sepanjang tahun. Dinkes Bantul telah menyiapkan vaksin MR bagi 8.410 bayi, 9.418 anak bawah dua tahun (baduta), serta 12.710 anak yang menjadi sasaran Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).
Distribusi vaksin telah dilakukan ke seluruh puskesmas sebelum pelaksanaan BIAS tahap pertama yang berlangsung pada Agustus. Selanjutnya, BIAS tahap kedua dijadwalkan berlangsung pada November 2026.
Samsu menegaskan vaksin rubella tidak hanya melindungi anak-anak. Vaksin juga memiliki peran penting bagi perempuan, terutama sebelum memasuki masa kehamilan. Perlindungan tersebut mampu mencegah ibu hamil tertular virus rubella yang dapat mengganggu perkembangan janin.
“Vaksin rubella ini penting karena dapat melindungi ibu hamil, yakni mencegah ibu hamil tertular virus yang dapat berdampak fatal pada janin,” tuturnya.
Infeksi rubella pada masa kehamilan berisiko menyebabkan Sindrom Rubella Kongenital. Kondisi tersebut dapat memicu bayi lahir dengan kelainan jantung bawaan, gangguan pendengaran, hingga katarak kongenital.
Selain memberikan perlindungan individu, vaksin MR juga membangun kekebalan kelompok atau herd immunity. Semakin tinggi cakupan imunisasi, semakin kecil peluang virus menyebar luas di lingkungan masyarakat.
Dinkes Bantul pun meminta masyarakat tetap disiplin menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat. Kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, menerapkan etika batuk, mengonsumsi makanan bergizi, serta segera memeriksakan diri ketika mengalami gejala demam dan ruam menjadi langkah sederhana yang dapat membantu mencegah penyebaran rubella.
Di tengah meningkatnya kasus, kewaspadaan seluruh elemen masyarakat menjadi kunci. Imunisasi yang lengkap, pola hidup sehat, dan deteksi dini diharapkan mampu menahan laju penyebaran rubella sehingga kelompok paling rentan, terutama balita dan ibu hamil, dapat terlindungi dari ancaman penyakit tersebut. (ef linangkung)