
TUGUJOGJA – Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman mencatat sebanyak 2.542 kasus tuberkulosis (TB) sepanjang 2025.
Untuk menekan penularan, pemerintah daerah memperkuat program SIKAT TB (Sleman Sigap Kendali dan Atasi Tuberkulosis) hingga tingkat kalurahan dengan melibatkan Tim Penggerak PKK dan jaringan posyandu.
Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Sleman, Khamidah Yuliati, mengatakan jumlah kasus yang ditemukan sepanjang 2025 mendekati angka proyeksi dalam dokumen perencanaan daerah.
“Kalau kasus estimasi atau proyeksi yang tercantum dalam Rencana Strategis Dinas Kesehatan Sleman ada 2.589 kasus TB,” ujar Yuliati, Jumat (19/6/2026).
Menurutnya, data tersebut menunjukkan sistem penemuan kasus telah berjalan, namun upaya pemutusan rantai penularan masih perlu diperkuat.
SIKAT TB Perkuat Deteksi dan Pendampingan Pasien
Pemkab Sleman mengandalkan program SIKAT TB sebagai strategi utama pengendalian penyakit tersebut.
Program ini mencakup skrining aktif, pelacakan kontak erat, penemuan kasus, hingga pendampingan pasien selama menjalani pengobatan.
Dinas Kesehatan menilai pendampingan menjadi salah satu aspek penting karena pengobatan TB membutuhkan waktu yang panjang dan kedisiplinan tinggi dari pasien.
Ketidakpatuhan dalam menjalani pengobatan berisiko memunculkan TB resistan obat yang lebih sulit ditangani.
PKK dan Kalurahan Dilibatkan
Selain melalui fasilitas kesehatan, Pemkab Sleman memperluas upaya pengendalian TB melalui pendekatan berbasis komunitas.
Tim Penggerak PKK Kabupaten Sleman dilibatkan untuk membantu edukasi masyarakat mengenai gejala TB, pencegahan penularan, dan pentingnya pemeriksaan dini.
Edukasi dilakukan melalui jaringan dasawisma, posyandu, serta berbagai kegiatan kemasyarakatan di tingkat kalurahan.
Langkah tersebut diharapkan dapat mempercepat penemuan kasus sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya TB.
Keluarga Jadi Kunci Pencegahan
Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, menegaskan keluarga memiliki peran penting dalam mendeteksi gejala TB dan mendukung proses pengobatan pasien.
Menurutnya, penguatan edukasi melalui posyandu perlu terus dilakukan agar masyarakat semakin memahami langkah pencegahan dan penanganan penyakit menular.
“Jangan lupa juga dengan penguatan layanan posyandu. Posyandu bisa menjadi media yang baik untuk menyampaikan edukasi kepada orang tua agar memahami langkah yang tepat untuk membangun keluarga yang kuat,” kata Danang saat bertemu TP-PKK Kabupaten Sleman di Rumah Dinas Bupati Sleman, Kamis (18/6/2026).
Perlu Keterlibatan Masyarakat
Pemkab Sleman menilai pengendalian TB tidak dapat hanya mengandalkan tenaga kesehatan. Keterlibatan keluarga, kader kesehatan, PKK, posyandu, hingga pemerintah kalurahan menjadi faktor penting dalam mempercepat deteksi kasus dan memutus rantai penularan.
Selain itu, pemerintah juga terus mendorong pengurangan stigma terhadap penderita TB agar masyarakat tidak ragu menjalani pemeriksaan dan pengobatan.
Dengan 2.542 kasus yang tercatat sepanjang 2025, Sleman masih menghadapi tantangan besar dalam pengendalian tuberkulosis.
Pemerintah berharap kolaborasi lintas sektor dan partisipasi aktif masyarakat dapat memperkuat upaya pencegahan sekaligus menekan angka penularan di tahun-tahun mendatang.