TUGU JOGJA — Kebakaran melanda lahan perbukitan Gunung Alas Sepuhan, Padukuhan Pulegundes, Kalurahan Sidoharjo, Kapanewon Tepus, Gunungkidul, Kamis (3/9/2026) siang. Api yang pertama kali terlihat sekitar pukul 14.00 WIB tersebut membakar lahan milik empat warga dengan total luas sekitar 1.300 meter persegi.
Kebakaran cepat merambat karena kondisi lahan dipenuhi rumput dan dedaunan kering serta angin yang bertiup cukup kencang. Warga bersama anggota Polsek Tepus kemudian berupaya mengendalikan api hingga berhasil dipadamkan sekitar pukul 16.30 WIB.
Kebakaran Membakar Lahan Milik Empat Warga
Kapolsek Tepus AKP Suryanto mengatakan kebakaran lahan itu mulai diketahui sekitar pukul 14.00 WIB. Api pertama kali terlihat dari sisi barat kawasan perbukitan, tepatnya dari lahan milik Sigit.
“Api diketahui berasal dari sebelah barat, yaitu lahan milik Sigit. Angin yang bertiup cukup kencang dan kondisi lahan yang banyak rumput kering membuat api cepat menjalar,” kata Suryanto.
Kondisi lahan yang kering menjadi tantangan tersendiri. Rumput, daun, dan material vegetasi yang kehilangan kadar air selama musim kemarau berubah menjadi bahan bakar yang mudah terbakar. Ketika angin bertiup, api pun bergerak lebih cepat mengikuti hamparan vegetasi kering.
Warga tidak tinggal diam. Mereka bersama personel kepolisian berusaha memutus perambatan api sekaligus memadamkan titik-titik yang masih terbakar. Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil. Sekitar pukul 16.30 WIB, petugas bersama masyarakat berhasil memadamkan api.
Api Membakar Lahan Milik Empat Warga
Kebakaran tersebut tidak hanya menyentuh satu bidang lahan. Api merambat dan membakar sejumlah lahan milik warga di kawasan perbukitan Gunung Alas Sepuhan. Data kepolisian mencatat sedikitnya empat warga mengalami dampak akibat kebakaran tersebut.
Lahan milik Sigit terbakar sekitar 500 meter persegi. Kemudian, api membakar sekitar 200 meter persegi lahan milik Sugi. Kobaran api juga menjalar ke lahan milik Sugiyo dengan luas sekitar 300 meter persegi. Sementara itu, sekitar 300 meter persegi lahan milik Sastro Setu turut terdampak.
Jika seluruh luasan tersebut dijumlahkan, api membakar sekitar 1.300 meter persegi lahan. Kebakaran juga menimbulkan kerugian materiil berupa pohon hutan rakyat yang berada di kawasan tersebut. Namun, polisi memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu.
“Korban jiwa nihil,” ujar Suryanto.
Angin dan Rumput Kering Mempercepat Api
Kondisi geografis kawasan Gunung Alas Sepuhan turut memengaruhi proses perambatan api. Lokasi kebakaran berada di lahan perbukitan yang dikelola sejumlah warga. Di sisi selatan dan barat lokasi kebakaran terdapat Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS). Sementara itu, kawasan alas pegunungan membentang di sisi utara dan timur.
Situasi tersebut membuat petugas harus memperhatikan arah pergerakan api. Angin dapat membawa bara dan mempercepat rambatan api menuju vegetasi yang masih kering. Polisi menilai musim kemarau menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko kebakaran lahan. Vegetasi berupa rumput dan daun kering mudah menyala ketika bersentuhan dengan sumber api.
Meski demikian, polisi belum memastikan sumber api yang memicu kebakaran tersebut. Suryanto mengatakan petugas masih membutuhkan pendalaman untuk mengetahui penyebab pasti kebakaran.
“Penyebab kebakaran sampai saat ini belum dapat dipastikan dan masih diperlukan pendalaman lebih lanjut,” katanya.
Pernyataan tersebut menjadi penting karena polisi tidak ingin langsung menyimpulkan sumber api sebelum mendapatkan informasi dan bukti yang memadai.
Polisi, Damkar, BNPB, dan Warga Bergerak Bersama
Pemadaman kebakaran melibatkan sejumlah unsur. Personel Polsek Tepus bersama warga Sidoharjo berada di lokasi untuk mengendalikan api. Petugas Pemadam Kebakaran Kabupaten Gunungkidul juga turun tangan. Selain itu, unsur Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) turut berada di lokasi.
Personel Polsek Tepus yang terlibat dalam penanganan antara lain Iptu Sukrisno, Aiptu Sulistiyono, Aiptu Wawan, Brigadir Vendi, Briptu Bryan, dan Briptu Chandiga. Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam proses pemadaman. Warga yang mengenali medan sekitar membantu petugas bergerak di kawasan perbukitan. Kolaborasi tersebut membuat api dapat dikendalikan sebelum meluas lebih jauh.
Kepala Dukuh Karangasem, Susanto, dan Wakido, warga Padukuhan Pulegundes, tercatat sebagai saksi dalam peristiwa tersebut. Keduanya memberikan informasi mengenai kondisi kebakaran yang terjadi di kawasan Gunung Alas Sepuhan.
Musim Kemarau Masih Menyimpan Ancaman
Petugas tidak berhenti setelah api padam. Polisi tetap melakukan pemantauan di sekitar lokasi untuk memastikan tidak ada titik api yang kembali menyala. Langkah itu penting karena material yang terbakar tidak selalu langsung kehilangan seluruh bara. Angin dapat menghidupkan kembali bara yang tersisa dan memicu kebakaran susulan.
Polsek Tepus juga berkoordinasi dengan Pemadam Kebakaran dan perangkat Kalurahan Sidoharjo. Polisi turut menggandeng tokoh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan warga.
Petugas mengingatkan masyarakat agar tidak meninggalkan sumber api di kawasan yang memiliki banyak vegetasi kering. Masyarakat juga perlu berhati-hati ketika membersihkan lahan dengan cara membakar. Warga harus mengawasi proses pembakaran secara langsung dan memastikan api benar-benar padam sebelum meninggalkan lokasi.
Imbauan tersebut menjadi semakin penting selama musim kemarau. Cuaca panas dan material vegetasi yang kering dapat menciptakan kondisi yang sangat mudah memicu kebakaran.
Warga Diminta Waspadai Kebakaran Lahan
Polisi memprediksi potensi kebakaran lahan masih dapat terjadi di wilayah Tepus maupun kawasan lain yang memiliki karakteristik serupa. Rumput kering, daun kering, cuaca panas, serta hembusan angin dapat mempercepat rambatan api. Sumber api yang kecil sekalipun berpotensi berubah menjadi kebakaran besar apabila warga tidak segera mengendalikannya.
Karena itu, polisi mendorong masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Bhabinkamtibmas bersama perangkat kalurahan juga akan terus menyampaikan imbauan kepada masyarakat. Petugas meminta warga tidak meninggalkan sumber api tanpa pengawasan.
Selain itu, masyarakat perlu melakukan pemantauan secara berkala terhadap lahan perbukitan dan kawasan yang memiliki banyak vegetasi kering. Kebakaran di Gunung Alas Sepuhan menjadi pengingat bahwa musim kemarau tidak hanya membawa persoalan kekeringan. Di balik rerumputan yang menguning dan daun-daun yang mengering, tersimpan potensi api yang dapat bergerak cepat ketika angin bertiup.
Pada Kamis sore itu, warga dan petugas berhasil menghentikan kobaran api sekitar pukul 16.30 WIB. Namun, kewaspadaan harus tetap menyala. Sebab, setelah satu kebakaran padam, ancaman berikutnya masih dapat muncul jika masyarakat lengah menjaga sumber api di tengah musim kemarau.(ef linangkung)





