
TUGUJOGJA– Di balik gemuruh pantai selatan Gunungkidul, tersimpan rahasia besar: habitat abalon, kerang laut eksotis yang dunia kenal sebagai santapan mewah.
Keberadaan abalon bukan hanya membawa cerita tentang hidangan kelas atas di berbagai negara, tetapi juga membuka pintu peluang ekonomi, kesehatan, hingga industri kreatif yang menunggu untuk digarap.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dwi Eny Djoko Setyono, mengungkap fakta mengejutkan. Dia menegaskan perairan Gunungkidul memiliki posisi strategis sebagai habitat penting abalon.
Dari tujuh spesies abalon yang tercatat di Indonesia, empat di antaranya tumbuh subur di laut selatan Yogyakarta. Spesies itu antara lain Haliotis asinina, Haliotis squamata, Haliotis varia, dan Haliotis ovina.
“Garis pantai Gunungkidul yang panjang dan ekologi lautnya yang khas menciptakan ruang hidup ideal untuk pertumbuhan abalon,” ujar Djoko dalam keterangan resmi, Jumat (5/9/2025).
Kandungan Gizi Abalon
Abalon juga menyimpan kandungan nutrisi luar biasa. Dalam setiap 100 gram abalon terdapat 20 gram protein berkualitas tinggi, lemak sangat rendah hanya 0,1 gram, serta hampir tanpa kolesterol. Kandungan asam lemak omega 3 dan 6 menjadikan abalon sahabat jantung, sementara mineral kalsium, fosfor, dan zat besi memperkuat tulang.
Tak berhenti di situ, vitamin A, B12, dan E yang tersimpan di dalam daging abalon mampu menjaga kesehatan mata, saraf, kulit, hingga sistem imun tubuh. Dunia medis menaruh perhatian lebih.
Penelitian terbaru menunjukkan isi perut abalon menyimpan enzim penting, sedangkan lendirnya mengandung zat antiperadangan yang berpotensi dikembangkan untuk produk farmasi dan kosmetik.
“Abalon punya prospek besar, tidak hanya untuk pangan tetapi juga kesehatan dan industri kreatif. Lendirnya bahkan bisa diolah untuk inovasi anti-aging,” tegas Djoko.
Budidaya Abalon di Laut Gunungkidul
Namun, harapan besar itu masih terhalang kerasnya kenyataan. Gelombang tinggi khas Laut Selatan membuat budi daya abalon di Gunungkidul tidak mudah. Nelayan hanya bisa menangkap abalon ketika laut surut panjang. Itu pun pasokannya tidak stabil dan sulit diprediksi.
“Selama ini pemanfaatan abalon di Gunungkidul belum optimal. Kondisi laut menjadi tantangan besar,” ungkap Djoko.
Ketergantungan pada penangkapan liar tanpa regulasi bisa menjadi ancaman serius. Abalon berisiko punah bila eksploitasi tidak terkendali.
Djoko menawarkan solusi dengan pendekatan berkelanjutan. Dia menekankan pentingnya restocking, yaitu penebaran benih abalon secara masif agar populasi tetap terjaga. Selain itu, regulasi ketat wajib diberlakukan.
“Kita perlu membuat aturan agar nelayan hanya menangkap abalon dengan ukuran cangkang lebih dari lima sentimeter. Pada ukuran itu, abalon sudah sempat bertelur dan berkontribusi terhadap regenerasi populasi,” jelasnya.
Upaya ini perlu diiringi budi daya terkontrol yang memadukan teknologi dan kearifan lokal. Dengan begitu, abalon bisa menjadi penopang ekonomi nelayan sekaligus menjaga kelestarian laut Gunungkidul.
Jika langkah ini berhasil, Gunungkidul bisa tampil bukan hanya sebagai destinasi wisata pantai, melainkan juga pusat penghasil abalon bernilai tinggi. Dunia mengenal abalon sebagai santapan mewah di meja restoran Jepang, Korea, hingga Eropa. Bayangkan jika Gunungkidul mampu menguasai pasar ini.
Nelayan yang kini hidup pas-pasan bisa meraih kesejahteraan lebih baik. Industri kreatif bisa memanfaatkan lendir dan enzim abalon untuk inovasi farmasi dan kosmetik. Di saat yang sama, ekosistem laut tetap terjaga.
Gunungkidul sudah memiliki modal: garis pantai panjang, ekosistem laut kaya, dan empat spesies abalon yang berharga. Tinggal menunggu langkah nyata agar abalon tidak sekadar menjadi cerita, tetapi benar-benar menjadi aset strategis.
Abalon adalah mutiara tersembunyi laut selatan. Jika dijaga dengan bijak, kerang laut ini bisa mengubah wajah ekonomi pesisir sekaligus mengangkat nama Gunungkidul di panggung dunia. (ef linangkung)