TUGU JOGJA –ย Musim kemarau mulai menampakkan wajah kerasnya di sejumlah wilayah Kabupaten Bantul. Sumur-sumur warga mengering, sumber mata air menyusut, dan sebagian masyarakat kini harus menunggu datangnya bantuan untuk memenuhi kebutuhan paling mendasar: air bersih.
Hingga 24 Agustus 2026, sebanyak 1.268 kepala keluarga (KK) atau 5.662 jiwa di Bantul tercatat mengalami krisis air bersih. Mereka tersebar di 19 dusun, 11 kalurahan, dan enam kapanewon.
Kondisi tersebut membuat ribuan warga tidak bisa lagi sepenuhnya mengandalkan sumber air yang selama ini mereka gunakan. Sebagian warga terpaksa mengharapkan pasokan air bersih dari pemerintah, organisasi kemanusiaan, maupun pihak lain yang peduli terhadap kondisi mereka.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul, Mujahid Aminudin, mengatakan pemerintah bersama sejumlah lembaga terus menyalurkan air bersih untuk membantu warga menghadapi krisis tersebut.
“Total air bersih yang sudah disalurkan mencapai 1.318.000 liter atau sebanyak 265 tangki,” kata Mujahid.
Angka tersebut menggambarkan besarnya kebutuhan air bersih masyarakat Bantul selama musim kemarau. Ratusan tangki harus bergerak dari satu wilayah ke wilayah lain untuk memastikan warga tetap memperoleh air untuk kebutuhan sehari-hari.
BPBD Bantul tidak bekerja sendiri. Sejumlah lembaga ikut turun tangan menyalurkan bantuan. BPBD mengirimkan 35 tangki, Palang Merah Indonesia (PMI) menyalurkan 46 tangki, Taruna Siaga Bencana (Tagana) mengirimkan 13 tangki, sedangkan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO) menyalurkan 3 tangki.
Selain itu, bantuan dalam jumlah lebih besar datang dari berbagai pihak melalui donasi. Sebanyak 167 tangki air bersih berasal dari donasi pihak lain. Jika seluruh bantuan tersebut digabungkan, masyarakat telah menerima 265 tangki air bersih dengan total volume 1,318 juta liter.
Pundong Menjadi Wilayah dengan Kebutuhan Air Bersih Terbesar
Di antara enam kapanewon yang mengalami krisis air bersih, Pundong mencatat kebutuhan sekaligus distribusi air terbesar. Wilayah tersebut menerima sekitar 500 ribu liter air bersih. Jumlah itu menjadi yang tertinggi dibandingkan wilayah lain di Bantul.
Setelah Pundong, distribusi terbesar berlangsung di Dlingo dengan 348 ribu liter. Kemudian Imogiri menerima 288 ribu liter, Pajangan memperoleh 132 ribu liter, Piyungan mendapatkan 45 ribu liter, sedangkan Sedayu menerima 5 ribu liter.
Besarnya distribusi ke masing-masing wilayah menunjukkan perbedaan tingkat kebutuhan masyarakat. Kondisi sumber air, jumlah warga terdampak, serta karakter geografis wilayah ikut memengaruhi kebutuhan distribusi.
Pundong menjadi perhatian utama karena masyarakat di wilayah tersebut membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar. Dari total distribusi 1.318.000 liter, sekitar 500 ribu liter mengalir untuk memenuhi kebutuhan warga Pundong.
Data distribusi juga menunjukkan sejumlah kalurahan menjadi titik dengan kebutuhan air paling tinggi. Kalurahan Seloharjo, Kapanewon Pundong, menjadi wilayah dengan distribusi terbesar. Warga di wilayah tersebut menerima sekitar 500 ribu liter air bersih.
Posisi berikutnya ditempati Kalurahan Karangtengah, Kapanewon Imogiri, dengan distribusi sekitar 240 ribu liter. Sementara itu, Kalurahan Terong, Kapanewon Dlingo, menerima sekitar 178 ribu liter air bersih.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa krisis air tidak hanya menjadi persoalan dalam skala kapanewon. Di tingkat kalurahan dan dusun, warga menghadapi persoalan yang jauh lebih konkret: bagaimana memperoleh air untuk minum, memasak, mencuci, dan memenuhi kebutuhan rumah tangga lainnya.
Ratusan Tangki Bergerak Memenuhi Kebutuhan Warga
Distribusi air bersih juga terlihat dari jumlah tangki yang dikirimkan ke masing-masing kapanewon. Pundong menerima 100 tangki, menjadi wilayah dengan jumlah distribusi tangki terbanyak. Dlingo menyusul dengan 71 tangki, sedangkan Imogiri menerima 58 tangki.
Selanjutnya, Pajangan memperoleh 26 tangki, Piyungan mendapatkan 9 tangki, dan Sedayu menerima 1 tangki. Setiap tangki yang tiba menjadi penyangga bagi warga yang sumber airnya tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Bagi sebagian masyarakat, kedatangan truk tangki air bukan sekadar aktivitas distribusi bantuan. Mereka menunggu air tersebut karena sumur yang biasanya menjadi sumber utama kebutuhan rumah tangga sudah tidak mencukupi.
Krisis air bersih juga memaksa masyarakat menyesuaikan pola kehidupan mereka. Air yang tersedia harus digunakan secara lebih hemat. Warga perlu menentukan prioritas penggunaan air agar persediaan yang mereka dapatkan mampu bertahan hingga bantuan berikutnya datang.
Pemerintah pun harus menjaga agar distribusi tidak berhenti pada satu kali pengiriman. Selama sumber air warga belum kembali normal, kebutuhan air bersih akan terus muncul.
5.662 Jiwa Masih Menghadapi Ancaman Kekeringan
Hingga 24 Agustus, data BPBD Bantul mencatat 5.662 jiwa masih berada dalam situasi krisis air bersih. Mereka tersebar di 19 dusun yang berada di 11 kalurahan pada enam kapanewon.
Jumlah tersebut menunjukkan bahwa dampak musim kemarau telah menyentuh ribuan warga. Persoalan air bersih tidak lagi sekadar persoalan berkurangnya debit sumur, tetapi sudah masuk ke ranah kebutuhan dasar masyarakat.
Pemerintah bersama lembaga kemanusiaan dan para donatur terus berupaya mengisi kekurangan tersebut melalui distribusi air bersih. Mujahid mengatakan bantuan dari berbagai pihak menjadi bagian penting dalam memenuhi kebutuhan warga terdampak.
Kolaborasi tersebut terlihat dari jumlah tangki yang dikirim. BPBD memberikan dukungan melalui 35 tangki, PMI 46 tangki, Tagana 13 tangki, dan BBWSO tiga tangki. Sementara itu, pihak lain melalui donasi menyumbang 167 tangki.
Kontribusi para pihak tersebut membuat distribusi air bersih bisa menjangkau lebih banyak warga.
Namun, tingginya kebutuhan di sejumlah wilayah menunjukkan bahwa persoalan kekeringan membutuhkan perhatian berkelanjutan. Bantuan tangki air memang dapat menjawab kebutuhan dalam jangka pendek, tetapi masyarakat tetap membutuhkan sumber air yang mampu bertahan menghadapi musim kemarau.
Ketika Air Menjadi Penentu Kehidupan
Di tengah musim kemarau, air berubah menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi warga Bantul yang terdampak kekeringan. Setiap liter air yang masuk ke tempat penampungan memiliki arti penting. Air tersebut menjadi bekal warga untuk menjalani aktivitas sehari-hari.
Kondisi ini sekaligus memperlihatkan bagaimana perubahan musim dapat memberikan tekanan besar kepada masyarakat yang tinggal di wilayah dengan keterbatasan sumber air.
Sebanyak 1.318.000 liter air yang telah disalurkan memang menjadi bantuan besar. Namun, angka 5.662 jiwa yang masih menghadapi krisis menunjukkan bahwa kebutuhan belum berhenti.
Truk-truk tangki masih menjadi salah satu harapan warga. Ketika kendaraan pengangkut air memasuki dusun, warga bersiap menerima pasokan yang akan mereka gunakan untuk bertahan menghadapi hari-hari kemarau.
Dari Pundong hingga Dlingo, dari Imogiri hingga Sedayu, distribusi air bersih terus bergerak mengikuti kebutuhan masyarakat. Pundong menjadi wilayah dengan distribusi terbesar, sementara Seloharjo menjadi kalurahan dengan volume bantuan tertinggi. Di sisi lain, wilayah seperti Sedayu menerima distribusi dalam jumlah jauh lebih kecil.
Perbedaan angka itu tidak menghapus satu fakta: air bersih menjadi kebutuhan mendesak bagi ribuan warga Bantul selama musim kemarau 2026. Pemerintah, lembaga kemanusiaan, relawan, dan para donatur kini memiliki pekerjaan yang sama. Mereka harus memastikan air tetap mengalir kepada warga yang sumber airnya mengering.
Sebab bagi masyarakat yang mengalami krisis air, satu tangki bukan sekadar angka dalam laporan distribusi. Satu tangki berarti kesempatan untuk kembali menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih tenang. Dan selama kemarau belum berakhir, kebutuhan itu akan terus mengetuk pintu. (ef linangkung)





