TUGU JOGJA – Seekor monyet ekor panjang berkeliaran di permukiman Padukuhan Grojokan, Kalurahan Wirokerten, Kapanewon Banguntapan, Kabupaten Bantul, selama sekitar dua pekan terakhir.
Kemunculan hewan liar yang berpindah-pindah dari satu lokasi ke lokasi lain itu membuat warga resah, terutama karena monyet beberapa kali turun ke sekitar rumah dan muncul saat anak-anak bermain.
Permukiman tersebut berjarak sekitar 1 kilometer dari Terminal Giwangan, Kota Yogyakarta. Warga belum mengetahui secara pasti asal monyet maupun jumlahnya, sementara upaya penanganan disiapkan melalui jaringan SAR dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) agar hewan tersebut dapat dievakuasi dengan aman.
Monyet Diduga Berasal dari Dusun Botokenceng
Monyet itu tidak menetap di satu lokasi. Ia berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya, kemudian menghilang dan kembali muncul di lokasi berbeda. Pola pergerakan tersebut membuat warga kesulitan memastikan keberadaannya.
Warga Grojokan, Sugeng, mengatakan warga pertama kali mengetahui keberadaan monyet tersebut sekitar dua pekan lalu.
Sejak kemunculan pertama, warga beberapa kali melihat monyet itu berkeliaran di sejumlah titik di Padukuhan Grojokan.
โKurang lebih dua minggu yang lalu muncul. Terus tiap hari muncul, cuma tidak tentu tempatnya di mana. Tidak di situ terus, pindah-pindah,โ kata Sugeng, Jumat (28/8/2026).
Kemunculan monyet di Grojokan ternyata bukan menjadi peristiwa pertama di kawasan tersebut. Sugeng menyebut warga menerima informasi bahwa masyarakat sebelumnya melihat hewan serupa di wilayah Dusun Botokenceng.
Monyet itu kemudian diduga terus bergerak dari satu dusun ke dusun lainnya. Perjalanan tersebut akhirnya membawa hewan itu masuk ke kawasan permukiman Padukuhan Grojokan.
โInformasinya pertama muncul dari Dusun Botokenceng, keliling-keliling itu monyetnya, dari dusun ke dusun. Jumlahnya memang hanya satu atau dua, tapi tetap meresahkan,โ ujar Sugeng.
Warga tidak mengetahui secara pasti dari mana monyet tersebut berasal. Mereka juga belum dapat memastikan apakah hanya satu ekor yang berkeliaran atau terdapat lebih dari satu monyet di sekitar kawasan tersebut.
Namun, warga beberapa kali melihat monyet berada di lingkungan rumah. Kehadirannya pun cukup menarik perhatian karena hewan tersebut bergerak bebas di antara pepohonan, atap rumah, hingga kabel yang melintas di permukiman.
Monyet Turun Saat Anak-Anak Bermain
Kekhawatiran warga semakin terasa ketika monyet turun ke sekitar permukiman pada saat anak-anak bermain. Warga memang tidak melihat monyet tersebut secara khusus mengejar anak-anak.
Meski begitu, warga tetap memilih waspada. Mereka menyadari bahwa monyet yang hidup liar dapat menunjukkan perilaku tidak terduga ketika merasa terganggu, terancam, atau mencari makanan.
โBukan mengejar-ngejar. Anak-anak sedang main, dia turun. Namanya monyet kan usil,โ kata Hapri.
Warga kemudian lebih memperhatikan aktivitas anak-anak ketika bermain di luar rumah. Mereka juga mengamati pergerakan monyet agar tidak terjadi kontak langsung antara manusia dan hewan tersebut.
Selain turun ke sekitar rumah, monyet beberapa kali terlihat berjalan di atas genteng. Hewan itu juga sempat bergelantungan pada kabel yang melintas di kawasan permukiman.
Pergerakan yang cepat dan berpindah-pindah membuat warga kesulitan mengejar atau mengamankan monyet tersebut. Ketika warga mengetahui keberadaannya di satu titik, hewan itu bisa saja sudah berpindah ke lokasi lain.
Kondisi tersebut membuat keberadaan monyet menjadi semacam perhatian baru di tengah aktivitas harian warga Grojokan.
Banyak Pepohonan Jadi Jalur Pergerakan Monyet
Padukuhan Grojokan sendiri tidak berada di kawasan yang berdekatan langsung dengan hutan. Permukiman warga lebih banyak mendominasi kawasan tersebut.
Namun, Sugeng menyebut masih terdapat sejumlah pepohonan yang cukup rimbun. Warga juga masih menemukan bagian kawasan yang memiliki karakter seperti hutan kecil.
Kondisi itu kemungkinan memberikan ruang bagi monyet untuk berpindah dan mencari makanan.
Sugeng menduga monyet tersebut turun ke permukiman karena mencari makanan, terutama buah-buahan. Kondisi kemarau yang berlangsung belakangan ini juga kemungkinan memengaruhi pergerakan hewan tersebut.
Warga belum mengetahui secara pasti jenis makanan yang menjadi tujuan monyet ketika memasuki permukiman. Mereka hanya mengamati bahwa hewan itu terus bergerak dari satu lokasi ke lokasi lainnya.
Pergerakan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa monyet tidak sepenuhnya merasa asing dengan lingkungan permukiman. Ia dapat memanfaatkan pepohonan, genteng, maupun kabel sebagai jalur berpindah.
Warga Tak Ingin Mengusir dengan Cara Sembarangan
Untuk sementara, warga memilih tidak melakukan tindakan berlebihan terhadap monyet tersebut. Mereka tidak langsung mengejar atau mengusirnya selama hewan itu masih berada di luar rumah dan tidak menimbulkan gangguan serius.
Warga justru mengkhawatirkan kemungkinan monyet masuk ke dalam rumah. Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Sejumlah warga Grojokan memelihara burung di rumah. Jika monyet masuk, warga khawatir hewan tersebut mengganggu atau memangsa burung peliharaan.
โKalau yang ditakutkan warga itu masuk rumah. Banyak yang pelihara burung,โ tutur Sugeng.
Karena itu, warga memilih meningkatkan kewaspadaan sambil menunggu langkah penanganan dari pihak yang memiliki kewenangan menangani satwa liar.
Warga juga berharap proses penanganan berlangsung dengan cara yang aman, baik bagi masyarakat maupun bagi monyet tersebut.
SAR DIY dan BKSDA Disiapkan untuk Evakuasi
Anggota SAR DIY Distrik Bantul sekaligus warga setempat, Hapri Antoro, kemudian mengambil langkah untuk membantu penanganan keberadaan monyet tersebut.
Hapri menghubungi jaringan SAR dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat setelah warga semakin resah dengan keberadaan hewan tersebut.
Petugas rencananya memasang perangkap untuk menangkap monyet. Langkah tersebut menjadi pilihan agar warga tidak perlu menangkap atau mengejar monyet secara langsung.
Hapri berharap petugas dapat segera mengevakuasi monyet tersebut dari kawasan permukiman. Menurutnya, langkah cepat diperlukan agar hewan itu tidak semakin jauh masuk ke lingkungan rumah warga.
โHarapannya segera dievakuasi, supaya tidak semakin masuk ke permukiman dan warga tidak semakin resah,โ kata Hapri.
Kehadiran monyet ekor panjang di Grojokan selama dua pekan terakhir akhirnya menjadi perhatian bersama.
Warga tetap menjalankan aktivitas sehari-hari, tetapi kini mereka harus lebih sering memperhatikan pepohonan, genteng, dan kabel di sekitar rumah.
Mereka tidak ingin keberadaan satwa liar itu berujung pada konflik dengan manusia.
Bagi warga, persoalan tersebut bukan sekadar tentang monyet yang muncul di tengah permukiman. Mereka juga ingin memastikan keselamatan anak-anak, hewan peliharaan, dan warga tetap terjaga.
Sambil menunggu proses evakuasi, warga memilih menjaga jarak dan tidak melakukan tindakan yang dapat memancing monyet menjadi agresif.
Monyet yang selama dua pekan berpindah dari satu titik ke titik lain itu pun masih menjadi teka-teki bagi warga Grojokan. Dari mana asalnya dan ke mana tujuan akhirnya belum diketahui. (ef linangkung).





