Kemarau Panjang Hantam Gunungkidul, Petani Cabai di Panggang Gagal Panen dan Terancam Rugi Besar

Bagikan :
Kekeringan di Gunungkidul membuat para petani cabai terancam alami kerugian besar (Linangkung)

TUGU JOGJA – Fenomena kekeringan di Yogyakarta masih menjadi salah satu permasalahan yang belakangan cukup ramai disorot, terutama bagi warga masyarakat Gunungkidul.

Adapun dilaporkan bahwa kemarau panjang yang berlangsung sekitar tiga bulan menyebabkan petani cabai di kawasan Embung Dendeng, Kalurahan Giriharjo, Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul, mengalami gagal panen.

Sumber air utama yang selama ini digunakan untuk mengairi lahan mengering, sehingga ratusan tanaman cabai gagal berproduksi serta petani terancam menanggung kerugian besar.

Terkini, hamparan lahan yang sebelumnya dipenuhi tanaman cabai hijau, tampak berubah menjadi deretan tanaman layu dan mengering.

Daun menguning, batang mengeras, sementara buah cabai yang semestinya berkembang justru gagal tumbuh akibat kekurangan pasokan air pada masa penting pertumbuhan.

Kondisi tersebut menjadi pukulan bagi petani yang sebelumnya berharap dapat menikmati hasil panen pada musim tanam kali ini.

Embung Dendeng Tak Lagi Mampu Menyuplai Air

Selama musim penghujan, petani di sekitar Embung Dendeng mengandalkan cadangan air embung untuk memenuhi kebutuhan irigasi lahan cabai.

Baca juga  Tudingan Izin Drini Park Belum Lengkap: Iya, tapi Dalam Proses Melengkapi

Namun sejak akhir Mei, debit air terus berkurang seiring tidak turunnya hujan dalam waktu yang cukup lama.

Saat cadangan air habis, irigasi praktis berhenti. Tanaman yang membutuhkan pasokan air secara rutin mulai mengalami stres, kemudian mengering satu per satu hingga akhirnya mati.

Perubahan kondisi lahan terlihat jelas. Area yang sebelumnya hijau kini dipenuhi batang-batang cabai yang mengering dan tidak lagi produktif.

Panen Dua Kali Belum Menutup Modal

Sebelum kekeringan semakin parah, petani masih sempat melakukan panen sebanyak dua kali.

Namun hasil tersebut belum cukup untuk menutup seluruh biaya produksi yang telah dikeluarkan selama masa tanam.

Modal pembelian bibit, pupuk, obat tanaman, hingga biaya perawatan belum kembali, sementara sebagian besar tanaman yang tersisa gagal menghasilkan buah.

Situasi tersebut membuat potensi kerugian petani semakin besar karena siklus produksi terhenti sebelum mencapai hasil optimal.

Upaya Menyelamatkan Tanaman Tak Bertahan Lama

Sejumlah petani sempat mencoba mempertahankan tanaman dengan mendatangkan air menggunakan truk tangki.

Langkah tersebut hanya bertahan sementara karena biaya operasional dinilai terlalu tinggi.

Baca juga  Rahasia Sumur Gumuling Taman Sari, Ikon Bersejarah dengan Efek Suara Unik

Harga satu tangki air mencapai sekitar Rp150 ribu. Nilai tersebut dianggap tidak sebanding dengan potensi pendapatan dari hasil penjualan cabai apabila penyiraman terus dilakukan.

Akibatnya, banyak petani akhirnya menghentikan upaya penyelamatan tanaman dan memilih membiarkan ribuan batang cabai mengering di lahan.

Petani Berharap Hujan Segera Turun

Petani cabai di kawasan Embung Dendeng, Sukaryoto, mengatakan selama ini kebutuhan air pertanian sepenuhnya mengandalkan embung.

“Kalau sebelumnya mengandalkan air telaga itu. Air telaga kemarin waktu masih musim penghujan masih banyak,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi berubah setelah wilayah tersebut tidak diguyur hujan selama dua hingga tiga bulan.

“Tapi karena sudah dua sampai tiga bulan tidak hujan, airnya habis,” lanjutnya.

Sukaryoto mengaku sempat mempertimbangkan membeli air menggunakan truk tangki untuk menyelamatkan tanaman.

Namun biaya yang harus dikeluarkan jauh lebih besar dibandingkan nilai hasil panen yang mungkin diperoleh.

“Tidak sesuai dengan pengeluarannya, sehingga kalau sudah kering ya sudah,” katanya.

Kekeringan Masih Membayangi para Petani

Kemarau panjang tidak hanya mengurangi ketersediaan air di Embung Dendeng, tetapi juga mengancam keberlanjutan usaha pertanian cabai di wilayah Panggang.

Baca juga  Jalan 4 Kilometer Demi Air Bersih, Derita Warga Duwet Gunungkidul Saat Kemarau Kian Mencekam

Tanpa pasokan air yang memadai, petani belum bisa memulai musim tanam berikutnya. Harapan mereka kini tertuju pada datangnya hujan agar embung kembali terisi dan lahan pertanian dapat diolah kembali.

Selama hujan belum turun, risiko gagal panen serta kerugian ekonomi masih membayangi petani cabai di wilayah selatan Gunungkidul. (ef linangkung)

Berita Terbaru

Sejarah Monumen Serangan Umum 1 Maret di Jogja
Fakta Sejarah Monumen Serangan Umum 1 Maret, Simbol Perlawanan Indonesia yang Mendunia
Fenomena Kekeringan Gunungkidul
Derita Warga Klayu Tepus, Pipa Air Bersih Bertahun-tahun Terpasang tetapi Tak Mengalir
tol jogja bawen
Update Tol Yogyakarta-Bawen Terkini: Seksi Ambarawa-Bawen Rampung Konstruksi, Ruas Jogja-Banyurejo Capai 97 Persen
kebakaran lahan kota jogja
Damkarmat Kota Jogja Catat 44 Kasus Kebakaran hingga Agustus 2026, Pemkot Imbau Warga Stop Bakar Sampah
pexels-defrinomaasy-31679224 (2)
Cara Cek PIP 2026 yang Belum Cair Lewat HP, Ini Penyebab Dana Belum Masuk Rekening

Sedang Banyak Dibaca

solo-jogja

Jadwal Lengkap KRL Solo–Jogja Terbaru: Rute, Tarif, dan Waktu Keberangkatan dari Semua Stasiun

clars-puk-RLzwwA4EfxA-unsplash

Geopark Nasional Jogja Resmi Ditetapkan, Ini Daftar 24 Geosite, Biosite, dan Cultural Site Beserta Daya Tariknya

falaq-lazuardi-o1RFviW3km4-unsplash (1)

Jadwal Lengkap KRL Jogja–Solo Semua Stasiun: Update Terbaru untuk Perjalanan Harian

mufid-majnun-P4ONXslEkxM-unsplash

Cara Menukarkan Uang Baru 2026 di Bank: Panduan Lengkap untuk Masyarakat

Bisnis Truk Tangki Air Gunungkidul

Krisis Air Bersih Meluas, Pengusaha Truk Tangki Gunungkidul Panen Permintaan