M. Nur Kholis Setiawan Bongkar Mengapa Mengharap Pahala Masih Dianggap Orientasi Duniawi?

Bagikan :
Prof. Dr. M. Nur Kholis Setiawan membedah esensi ketulusan dalam beribadah pada hikmah ke-43 dari Kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah as-Sakandari. (Youtube/ Prof. Dr. M. Nur Kholis Setiawan Channel)

TUGU JOGJA – Dalam sebuah kajian spiritual yang mendalam, pakar studi Islam Prof. Dr. M. Nur Kholis Setiawan membedah esensi ketulusan dalam beribadah. Mengacu pada hikmah ke-43 dari Kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah as-Sakandari, ia mengungkapkan sebuah fakta mengejutkan bagi banyak kalangan: bahwa beribadah dengan motivasi mengharap pahala atau derajat di sisi Allah ternyata masih dikategorikan sebagai orientasi duniawi.

Menurut M. Nur Kholis Setiawan, pandangan ini berakar dari nasihat para ahli makrifat yang menekankan bahwa tujuan akhir dari setiap amal shaleh seharusnya hanyalah Allah semata (Lillahi Ta’ala), bukan balasan yang dijanjikan-Nya. Ketika seseorang masih terjebak dalam ekspektasi akan imbalan, ia dianggap belum sepenuhnya “beranjak” dari makhluk menuju Sang Pencipta.

Kritik Terhadap ‘Pamrih’ Spiritual

Dalam pemaparannya, M. Nur Kholis Setiawan menjelaskan bahwa orang yang melakukan aktivitas ibadah namun masih memiliki “pamrih”, baik itu pujian sesama manusia maupun janji pahala dari Allah, mendapatkan kritik dari para ulama tasawuf. Ia menegaskan bahwa dalam perspektif Arifun (orang-orang yang mengenal Allah), orientasi semacam ini masih dipandang negatif karena memposisikan pahala sebagai “objek” yang dicari, bukan Allah sebagai subjek tujuan.

Baca juga  Dicurigai Sering Punya Banyak Uang meski Menganggur, Dua Remaja di Gunungkidul Akui Hasil Pencurian usai Diinterogasi Warga

“Orang yang melakukan aktivitas ibadah tapi masih punya pamrih, apakah itu pamrih sesama makhluk misalnya, atau pamrih kepada Allah karena ada janji akan mendapatkan pahala, maka orang yang seperti ini masih dianggap negatif oleh ahli-ahli makrifat,” ujar M. Nur Kholis Setiawan.

Ia menambahkan bahwa mencari derajat mulia di hadapan Allah melalui amal perbuatan sebenarnya tidak disarankan jika hal tersebut menjadi satu-satunya motivasi. Hal ini menjadi bahan evaluasi bagi setiap Muslim agar tidak terjebak dalam formalitas ibadah yang kehilangan ruh keikhlasannya.

Analogi Keledai Gilingan: Stagnasi Spiritual

Untuk mempermudah pemahaman, M. Nur Kholis Setiawan memberikan ilustrasi yang tajam mengenai orang yang beribadah demi balasan. Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti seekor keledai yang terikat pada alat penggilingan. Keledai itu terus berjalan dan berputar, namun pada akhirnya ia tetap berada di titik yang sama tanpa ada kemajuan posisi yang berarti.

“Ilustrasinya adalah keledai yang dijadikan sebagai penarik dalam penggilingan. Jadi dia jalannya muter saja, tempat di mana dia beranjak, tujuan akhirnya tempat itu lagi, tidak ke sana kemari, tidak ada peningkatan yang signifikan sama sekali,” jelasnya menggambarkan stagnasi spiritual seseorang yang hanya mengejar pahala.

Baca juga  Polda DIY Borong Penghargaan di Apresiasi Kreasi Polri 2025, Sinergi Tiga Pilar Jatimulyo Jadi Sorotan Nasional

Secara implisit, M. Nur Kholis Setiawan ingin menyampaikan bahwa ibadah yang berorientasi pada “balasan” hanya akan membuat seseorang berputar-putar dalam ranah duniawi (al-aqwan). Sebab, pahala, surga, dan derajat adalah bagian dari makhluk (ciptaan), sementara tujuan sejati adalah Al-Mukawwin (Sang Pencipta).

Beranjak dari Dunia Menuju Sang Pencipta

Lebih lanjut, M. Nur Kholis Setiawan mengajak umat untuk melakukan transformasi niat. Ia menekankan pentingnya berpindah dari orientasi duniawi (termasuk mengharap pahala) menuju orientasi ketuhanan yang murni. Baginya, beribadah karena Allah berarti tidak lagi mempedulikan apakah amal tersebut akan dibalas atau tidak,.

“Beranjaklah dari duniawi menuju yang menciptakan duniawi, yang mengadakan duniawi. Artinya adalah beranjaklah dari aktivitas-aktivitas duniawi tadi itu yang kita lakukan semata-mata lillahi ta’ala, semata-mata karena Allah,” tegas M. Nur Kholis Setiawan.

Ia juga mengingatkan, terutama di momen penting seperti bulan Ramadan, agar umat tidak sekadar terobsesi pada informasi mengenai besarnya pahala ibadah tertentu, seperti salat malam atau tadarus Al-Qur’an,. Jika obsesi tersebut menutupi kerinduan kepada Allah, maka nilai ibadah tersebut masih dipandang rendah dalam kacamata tasawuf,.

Baca juga  Kapolda DIY Bantah Kabar Intimidasi Admin Merapi Uncover

Muhasabah dan Menjadi Hamba Allah Sejati

Sebagai penutup, M. Nur Kholis Setiawan menekankan pentingnya Muhasabah atau introspeksi diri. Perbedaan mendasar antara orang yang beribadah karena pamrih dan hamba Allah sejati terletak pada kemurnian tujuannya. Seseorang baru benar-benar disebut sebagai “Hamba Allah” ketika ia menyembah tanpa ada embel-embel kepentingan pribadi di dalamnya.

Tantangan bagi setiap individu saat ini adalah meningkatkan kualitas spiritual “satu tingkat lebih tinggi”, yakni berupaya mendekatkan diri kepada Allah tanpa mengharapkan apapun, termasuk pahala. Dengan demikian, ibadah bukan lagi menjadi transaksi antara hamba dan Pencipta, melainkan wujud cinta dan pengabdian yang tulus.***

situs hk

situs gacor

togel online

slot gacor

slot gacor

slot gacor hari ini

situs toto

link togel

situs hk

situs gacor

situs toto

situs gacor

toto togel

situs togel

slot gacor hari ini

togel 4d

situs toto

situs gacor

slot online

situs togel

bandar togel

situs gacor

situs togel

Berita Terbaru

tugu-diy
Inflasi DIY Naik 2,54 Persen pada Juli 2026, Emas Perhiasan hingga Beras Dongkrak Biaya Hidup
hb-x
Sri Sultan HB X Terima Dubes Qatar, DIY Sambut Delegasi Seni Peringati 50 Tahun Hubungan RI-Qatar
pp-qatar
Muhammadiyah dan Qatar Jalin Kolaborasi Pendidikan hingga Lapangan Kerja, Dimulai dari Yogyakarta
melon sumberharjo
BUMKal Sumberharjo Sleman Panen Melon Premium Perdana, Lahan Tidur Disulap Jadi Penggerak Ekonomi Desa
6305380052505399873
Rekayasa Lalu Lintas Jalan Bantul Hari Ini, Jembatan Winongo Berlakukan Sistem Buka-Tutup

Sedang Banyak Dibaca

rut-miit-mPaKMvE3sHg-unsplash

Tidak Lolos KIP Kuliah Apakah Bisa Daftar Lagi? Simak Ketentuannya Berikut Ini

solo-jogja

Jadwal Lengkap KRL Solo–Jogja Terbaru: Rute, Tarif, dan Waktu Keberangkatan dari Semua Stasiun

clars-puk-RLzwwA4EfxA-unsplash

Geopark Nasional Jogja Resmi Ditetapkan, Ini Daftar 24 Geosite, Biosite, dan Cultural Site Beserta Daya Tariknya

mufid-majnun-P4ONXslEkxM-unsplash

Cara Menukarkan Uang Baru 2026 di Bank: Panduan Lengkap untuk Masyarakat

film pendek mijil

Film Pendek “Mijil” Angkat Kisah Tiga Pemuda Candirejo Ubah Lahan Kering Jadi Sentra Bawang Merah