
TUGU JOGJA – Dalam sebuah kajian spiritual yang mendalam, pakar studi Islam Prof. Dr. M. Nur Kholis Setiawan membedah esensi ketulusan dalam beribadah. Mengacu pada hikmah ke-43 dari Kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah as-Sakandari, ia mengungkapkan sebuah fakta mengejutkan bagi banyak kalangan: bahwa beribadah dengan motivasi mengharap pahala atau derajat di sisi Allah ternyata masih dikategorikan sebagai orientasi duniawi.
Menurut M. Nur Kholis Setiawan, pandangan ini berakar dari nasihat para ahli makrifat yang menekankan bahwa tujuan akhir dari setiap amal shaleh seharusnya hanyalah Allah semata (Lillahi Ta’ala), bukan balasan yang dijanjikan-Nya. Ketika seseorang masih terjebak dalam ekspektasi akan imbalan, ia dianggap belum sepenuhnya “beranjak” dari makhluk menuju Sang Pencipta.
Kritik Terhadap ‘Pamrih’ Spiritual
Dalam pemaparannya, M. Nur Kholis Setiawan menjelaskan bahwa orang yang melakukan aktivitas ibadah namun masih memiliki “pamrih”, baik itu pujian sesama manusia maupun janji pahala dari Allah, mendapatkan kritik dari para ulama tasawuf. Ia menegaskan bahwa dalam perspektif Arifun (orang-orang yang mengenal Allah), orientasi semacam ini masih dipandang negatif karena memposisikan pahala sebagai “objek” yang dicari, bukan Allah sebagai subjek tujuan.
“Orang yang melakukan aktivitas ibadah tapi masih punya pamrih, apakah itu pamrih sesama makhluk misalnya, atau pamrih kepada Allah karena ada janji akan mendapatkan pahala, maka orang yang seperti ini masih dianggap negatif oleh ahli-ahli makrifat,” ujar M. Nur Kholis Setiawan.
Ia menambahkan bahwa mencari derajat mulia di hadapan Allah melalui amal perbuatan sebenarnya tidak disarankan jika hal tersebut menjadi satu-satunya motivasi. Hal ini menjadi bahan evaluasi bagi setiap Muslim agar tidak terjebak dalam formalitas ibadah yang kehilangan ruh keikhlasannya.
Analogi Keledai Gilingan: Stagnasi Spiritual
Untuk mempermudah pemahaman, M. Nur Kholis Setiawan memberikan ilustrasi yang tajam mengenai orang yang beribadah demi balasan. Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti seekor keledai yang terikat pada alat penggilingan. Keledai itu terus berjalan dan berputar, namun pada akhirnya ia tetap berada di titik yang sama tanpa ada kemajuan posisi yang berarti.
“Ilustrasinya adalah keledai yang dijadikan sebagai penarik dalam penggilingan. Jadi dia jalannya muter saja, tempat di mana dia beranjak, tujuan akhirnya tempat itu lagi, tidak ke sana kemari, tidak ada peningkatan yang signifikan sama sekali,” jelasnya menggambarkan stagnasi spiritual seseorang yang hanya mengejar pahala.
Secara implisit, M. Nur Kholis Setiawan ingin menyampaikan bahwa ibadah yang berorientasi pada “balasan” hanya akan membuat seseorang berputar-putar dalam ranah duniawi (al-aqwan). Sebab, pahala, surga, dan derajat adalah bagian dari makhluk (ciptaan), sementara tujuan sejati adalah Al-Mukawwin (Sang Pencipta).
Beranjak dari Dunia Menuju Sang Pencipta
Lebih lanjut, M. Nur Kholis Setiawan mengajak umat untuk melakukan transformasi niat. Ia menekankan pentingnya berpindah dari orientasi duniawi (termasuk mengharap pahala) menuju orientasi ketuhanan yang murni. Baginya, beribadah karena Allah berarti tidak lagi mempedulikan apakah amal tersebut akan dibalas atau tidak,.
“Beranjaklah dari duniawi menuju yang menciptakan duniawi, yang mengadakan duniawi. Artinya adalah beranjaklah dari aktivitas-aktivitas duniawi tadi itu yang kita lakukan semata-mata lillahi ta’ala, semata-mata karena Allah,” tegas M. Nur Kholis Setiawan.
Ia juga mengingatkan, terutama di momen penting seperti bulan Ramadan, agar umat tidak sekadar terobsesi pada informasi mengenai besarnya pahala ibadah tertentu, seperti salat malam atau tadarus Al-Qur’an,. Jika obsesi tersebut menutupi kerinduan kepada Allah, maka nilai ibadah tersebut masih dipandang rendah dalam kacamata tasawuf,.
Muhasabah dan Menjadi Hamba Allah Sejati
Sebagai penutup, M. Nur Kholis Setiawan menekankan pentingnya Muhasabah atau introspeksi diri. Perbedaan mendasar antara orang yang beribadah karena pamrih dan hamba Allah sejati terletak pada kemurnian tujuannya. Seseorang baru benar-benar disebut sebagai “Hamba Allah” ketika ia menyembah tanpa ada embel-embel kepentingan pribadi di dalamnya.
Tantangan bagi setiap individu saat ini adalah meningkatkan kualitas spiritual “satu tingkat lebih tinggi”, yakni berupaya mendekatkan diri kepada Allah tanpa mengharapkan apapun, termasuk pahala. Dengan demikian, ibadah bukan lagi menjadi transaksi antara hamba dan Pencipta, melainkan wujud cinta dan pengabdian yang tulus.***