
GUNUNGKIDUL – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul belum menetapkan larangan distribusi hewan ternak dari dua kapanewon terdampak antraks, yakni Girisubo dan Rongkop.
Meskipun puluhan warga sudah terdata melakukan kontak langsung dengan hewan terinfeksi, dinas memastikan pergerakan hewan sehat masih diperbolehkan dengan pengawasan dokter hewan.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, Wibawanti, menegaskan bahwa pihaknya hanya membatasi pergerakan hewan yang menunjukkan gejala sakit. Pihaknya tidak melarang hewan keluar dari Girisubo dan Rongkop selama kondisi hewannya sehat dan mendapat pengawasan medis.
“Tapi kalau sakit, jelas tidak boleh keluar,” ujar Wibawanti, Selasa (15/4/2025).
Ia menjelaskan, Dinas Peternakan telah menetapkan Gunungkidul sebagai daerah tertular antraks, sesuai keputusan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Meski demikian, status itu tidak otomatis menjadikan seluruh wilayah dalam kondisi luar biasa (KLB), karena penetapan KLB menjadi kewenangan Kementerian Kesehatan dan hanya berlaku jika terjadi lonjakan kasus pada manusia.
Strategi Pencegahan dan Vaksinasi
Tim dari Dinas Peternakan saat ini tengah menghitung zona sebaran dan merancang strategi vaksinasi untuk mencegah penularan lanjutan. Pihaknya merencanakan vaksinasi pada akhir April ini, dimulai dari dua titik prioritas.
Petugas juga sudah memberikan antibiotik kepada ratusan ternak di lokasi kasus. Pihaknya memberikan antibiotik kepada 233 kambing dan 15 sapi yang berada di wilayah terdampak, terutama di desa-desa seperti Gombang, Kapanewon Ponjong, dan Kalurahan Candirejo, Kapanewon Semanu, yang pernah tercatat mengalami kejadian serupa.
“Jadi kita juga waspada di wilayah yang pernah muncul antraks,” ujar Wibawanti.
Edukasi Masyarakat dan Bantuan Ternak
Pihaknya juga terus melakukan edukasi kepada masyarakat agar tidak menjual ternak yang sakit. Karena ketika masyarakat menjual hewan sakit, kasus tidak akan pernah selesai. Ia juga menghimbau warga agar tidak memindahkan ternak secara sembarangan.
Wibawanti menambahkan bahwa Dinas Peternakan sudah menyiapkan bantuan tali asih untuk pemilik ternak yang mati akibat antraks. Pihaknya juga menyiapkan dukungan bagi warga terdampak.
“Selain penanganan hewan, kami juga mendukung upaya dari sektor kesehatan untuk menangani kasus pada manusia,” katanya.
Dinas berencana memperluas tracing dan pengambilan sampel, terutama terhadap hewan dan warga yang memiliki luka kulit mencurigakan. Ia berharap masyarakat bersikap terbuka agar upaya pengendalian penyakit dapat berjalan optimal.***