
TUGUJOGJA–Setelah bertahun-tahun hanya hadir sebagai muatan lokal di sebagian sekolah, Bahasa Inggris kini resmi menjadi bagian dalam pembelajaran di Sekolah Dasar (SD).
Kebijakan nasional tersebut mulai diterjemahkan ke tingkat daerah, termasuk di Kabupaten Gunungkidul. Pemkab saat ini bergerak cepat menyesuaikan kurikulum dan menyiapkan tenaga pendidik.
Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Gunungkidul memastikan penerapan mata pelajaran Bahasa Inggris di jenjang SD akan segera berjalan seiring implementasi kebijakan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Kepala Dinas Pendidikan Gunungkidul, Nunuk Setyowati, menjelaskan bahwa kebijakan tersebut mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 13 Tahun 2025. Regulasi itu menempatkan Bahasa Inggris sebagai salah satu prioritas dalam pembangunan pendidikan nasional.
“Jadi ini merupakan program dari Kemendikdasmen secara nasional,” ujar Nunuk, Senin (8/6/2026).
Pentingnya Bahasa Inggris dalam Kurikulum
Kebijakan ini lahir di tengah perubahan dunia yang berlangsung sangat cepat. Globalisasi membuka batas antarnegeri, sementara teknologi digital menghadirkan persaingan yang semakin ketat.
Dalam situasi tersebut, kemampuan berbahasa Inggris tidak lagi menjadi keahlian tambahan, melainkan kebutuhan dasar generasi muda.
Pemerintah menilai penguasaan Bahasa Inggris sejak usia dini akan memberikan kesempatan lebih besar bagi anak-anak Indonesia untuk mengakses ilmu pengetahuan, teknologi, serta berbagai peluang pendidikan dan pekerjaan di masa depan.
Menurut Nunuk, pemerintah memiliki target besar melalui kebijakan ini. Indonesia ingin menciptakan generasi yang mampu berkompetisi di tingkat internasional menjelang terwujudnya visi Indonesia Emas 2045.
Bahasa Inggris saat ini menjadi bahasa yang paling banyak digunakan dalam berbagai sektor strategis dunia. Dunia kerja internasional, penelitian ilmiah, teknologi informasi, industri digital, hingga sektor pariwisata masih menjadikan Bahasa Inggris sebagai alat komunikasi utama.
Oleh karena itu, pemerintah mulai memperkuat fondasi kemampuan berbahasa Inggris sejak pendidikan dasar. Harapannya, anak-anak Indonesia tidak hanya menjadi penonton dalam persaingan global, tetapi mampu tampil sebagai pelaku utama yang membawa inovasi dan perubahan.
Dorongan untuk memperkuat pembelajaran Bahasa Inggris juga muncul dari semakin eratnya hubungan antarnegara di kawasan Asia Tenggara. Integrasi ekonomi ASEAN membuka peluang kerja dan mobilitas tenaga kerja yang lebih luas.
Dalam berbagai forum dan komunikasi resmi antarnegara ASEAN, Bahasa Inggris menjadi bahasa utama. Kondisi tersebut membuat kemampuan berbahasa Inggris semakin penting bagi generasi muda Indonesia yang kelak akan memasuki dunia kerja regional maupun internasional.
Selain itu, meningkatnya arus investasi asing ke Indonesia juga menciptakan kebutuhan baru terhadap tenaga kerja yang mampu berkomunikasi dalam Bahasa Inggris. Banyak perusahaan multinasional menjadikan kemampuan bahasa asing sebagai salah satu syarat utama dalam proses rekrutmen.
Dengan membekali siswa sejak bangku sekolah dasar, pemerintah berharap kualitas sumber daya manusia Indonesia dapat meningkat secara signifikan dalam beberapa dekade mendatang.
Era Digital dan AI
Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) turut menjadi faktor yang memperkuat urgensi kebijakan ini.
Saat ini sebagian besar referensi teknologi dunia masih menggunakan Bahasa Inggris. Literatur pemrograman komputer, jurnal penelitian internasional, dokumentasi perangkat lunak, hingga berbagai platform pembelajaran digital didominasi oleh bahasa tersebut.
Akibatnya, siswa yang memiliki kemampuan Bahasa Inggris lebih baik akan lebih mudah mengakses informasi, memahami perkembangan teknologi terbaru, serta meningkatkan kemampuan literasi digital.
Nunuk menegaskan bahwa penguatan Bahasa Inggris tidak hanya bertujuan menjadikan siswa sebagai pengguna teknologi.
“Melalui penguatan literasi digital, siswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menciptakan inovasi teknologi di masa depan,” jelasnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan arah baru pendidikan Indonesia yang ingin melahirkan generasi kreatif, inovatif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Penerapan Bahasa Inggris di sekolah dasar juga sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka yang saat ini berjalan secara bertahap di berbagai daerah.
Jika pada masa lalu pembelajaran Bahasa Inggris sering berfokus pada hafalan kosakata dan tata bahasa, pendekatan baru justru mengutamakan kemampuan komunikasi nyata.
Siswa akan belajar melalui aktivitas yang lebih aktif dan menyenangkan. Mereka akan berlatih berbicara, mendengarkan, membaca, berdiskusi, membuat proyek sederhana, hingga melakukan presentasi.
Metode pembelajaran tersebut akan meningkatkan rasa percaya diri siswa dalam menggunakan Bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari.
Di Gunungkidul, mata pelajaran Bahasa Inggris akan diterapkan pada Fase B dan Fase C atau mulai kelas III hingga kelas VI sekolah dasar. Nunuk menjelaskan bahwa kurikulum akan berfokus pada beberapa kompetensi utama.
“Kurikulum difokuskan pada aspek menyimak dan berbicara, membaca dan memirsa, serta menulis dan mempresentasikan,” katanya.
Dengan pendekatan tersebut, siswa tidak hanya memahami teori bahasa, tetapi juga mampu menggunakan Bahasa Inggris sebagai sarana komunikasi yang efektif.
Tantangan Besar: Kesiapan Guru di Sekolah Dasar
Di balik optimisme terhadap kebijakan baru ini, pemerintah daerah juga menghadapi tantangan yang tidak ringan. Salah satu persoalan utama terletak pada ketersediaan guru Bahasa Inggris di tingkat sekolah dasar.
Selama ini tidak semua SD memiliki guru khusus Bahasa Inggris. Banyak sekolah masih mengandalkan guru kelas untuk mengajar berbagai mata pelajaran.
Kondisi tersebut membuat Disdik Gunungkidul harus bergerak cepat melakukan penyesuaian. Saat ini pemerintah pusat bersama pemerintah daerah tengah menyelenggarakan pelatihan dan pendidikan khusus bagi para guru yang nantinya akan mengajar Bahasa Inggris.
Pelatihan bertahap agar kualitas pembelajaran tetap terjaga ketika kebijakan mulai berjalan secara penuh. Untuk sementara waktu, guru kelas yang telah mengikuti pelatihan akan menjadi ujung tombak pelaksanaan pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah masing-masing.
“Kendala utama saat ini adalah penyesuaian kurikulum dan kesiapan guru. Karena di SD belum semua sekolah memiliki guru mata pelajaran Bahasa Inggris, sehingga sementara akan diampu oleh guru kelas yang mengikuti pelatihan,” pungkas Nunuk.
Masuknya Bahasa Inggris ke dalam kurikulum sekolah dasar menandai babak baru dalam dunia pendidikan Indonesia. Kebijakan ini tidak hanya berbicara tentang kemampuan berbahasa, tetapi juga tentang strategi besar negara dalam menyiapkan generasi masa depan. (ef linangkung)