
TUGUJOGJA – Kapan malam Lailatul Qadar 2026? Simak perkiraan tanggal, dalil Al-Qur’an dan hadis, tanda-tandanya, serta amalan yang dianjurkan untuk meraih kemuliaan malam seribu bulan.
Malam Lailatul Qadar selalu menjadi momen yang paling dinanti pada bulan Ramadan. Umat Islam meyakini malam ini sebagai waktu penuh kemuliaan, bahkan nilainya disebut lebih baik daripada seribu bulan. Keistimewaan tersebut ditegaskan dalam Al-Qur’an melalui Surah Al-Qadr ayat 1 sampai 5:
اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ سَلٰمٌ ۛهِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ࣖ
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatul Qadar. Tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar.”
Ayat tersebut menegaskan bahwa Lailatul Qadar adalah malam diturunkannya Al-Qur’an sekaligus malam yang penuh keberkahan hingga terbit fajar.
Makna Lailatul Qadar Menurut Tafsir
Berdasarkan Tafsir Al-Qur’an Kementerian Agama Republik Indonesia, Lailatul Qadar dimaknai sebagai malam kemuliaan. Pada malam inilah wahyu pertama Al-Qur’an diturunkan. Nilai ibadah yang dilakukan saat itu melampaui ibadah selama seribu bulan.
Frasa “seribu bulan” tidak dimaksudkan sebagai hitungan matematis semata, melainkan menggambarkan jumlah yang sangat banyak. Hal ini sejalan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Surah Al-Baqarah ayat 96:
يَوَدُّ اَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ اَلْفَ سَنَةٍۚ
Artinya: “Masing-masing dari mereka ingin diberi umur seribu tahun.”
Dengan demikian, Lailatul Qadar dipahami sebagai malam yang menghadirkan limpahan pahala dan kemuliaan yang tidak terhingga.
Anjuran Mencari Lailatul Qadar
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memberikan perhatian khusus terhadap malam ini. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah Radhiyallahu Anha disebutkan:
وَعَنْ عَائِشَةَ ، قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ، ﷺ يُجَاوِرُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ، وَيَقُولُ : تَحرُّوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ. (متفق عليه)
Artinya: “Dari Aisyah, dia bercerita, Rasulullah giat sekali beriktikaf pada sepuluh malam yang terakhir Ramadan. Beliau bersabda, ‘Bersungguh-sungguhlah kalian mencari Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan.’ (Muttafaq ‘Alaih, shahih)”
Dalam riwayat lain yang tercantum dalam Shahih Bukhari disebutkan:
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ وَعَنْ عَائِشَةَ فِي الْوَتْرِ مِنَ العَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Artinya: “Bersungguh-sungguhlah kalian mencari Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.” (Hadis Riwayat Bukhari, shahih)
Riwayat Muslim juga menegaskan bahwa Rasulullah meningkatkan intensitas ibadahnya pada sepuluh malam terakhir, bahkan lebih bersungguh-sungguh dibanding malam-malam sebelumnya.
Perkiraan Tanggal Lailatul Qadar 2026
Para ulama berbeda pendapat mengenai tanggal pasti terjadinya Lailatul Qadar. Ada yang berpendapat malam ke-21, sebagian lainnya malam ke-27 Ramadan, sebagaimana hadis riwayat Ahmad dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma yang menyebut anjuran mencari pada malam kedua puluh tujuh.
Meski terdapat perbedaan pandangan, mayoritas ulama sepakat bahwa Lailatul Qadar berada di salah satu malam ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadan.
Apabila Ramadan 1447 Hijriah diperkirakan dimulai pada 19 Februari 2026, maka malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir jatuh pada:
Malam 21 Ramadan: 10 Maret 2026 malam
Malam 23 Ramadan: 12 Maret 2026 malam
Malam 25 Ramadan: 14 Maret 2026 malam
Malam 27 Ramadan: 16 Maret 2026 malam
Malam 29 Ramadan: 18 Maret 2026 malam
Walaupun demikian, kepastian waktunya hanya diketahui oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Tanda-tanda Lailatul Qadar
Sejumlah literatur menyebut adanya tanda-tanda yang menyertai Lailatul Qadar. Beberapa di antaranya adalah suasana malam yang terasa lebih tenang, udara yang sejuk tanpa rasa panas atau dingin berlebihan, serta perasaan damai yang dirasakan orang beriman.
Selain itu, pagi harinya matahari terbit dengan sinar yang lembut dan tidak menyilaukan. Ibadah salat pada malam tersebut juga terasa lebih khusyuk dan menghadirkan ketenangan batin yang mendalam.
Amalan yang Dianjurkan
Apabila seseorang meyakini telah bertemu Lailatul Qadar, Rasulullah menganjurkan memperbanyak doa memohon ampunan. Dalam hadis riwayat At-Tirmidzi disebutkan bahwa Aisyah Radhiyallahu Anha pernah bertanya tentang doa yang sebaiknya dibaca saat Lailatul Qadar. Rasulullah menjawab:
“Ya Allah, sungguh Engkau Maha Pengampun yang menyukai ampunan. Aku mohon kepada-Mu, ampunilah aku.”
Doa tersebut dalam lafaz Arab berbunyi:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Allāhumma innaka afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annī
Artinya: “Ya Allah, sungguh Engkau Maha Pengampun yang menyukai ampunan. Aku mohon kepada-Mu, ampunilah aku.”
Malam Lailatul Qadar bukan sekadar waktu untuk menunggu tanda, melainkan momentum memperbanyak ibadah, introspeksi diri, dan memperkuat hubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semangat yang dicontohkan Rasulullah pada sepuluh malam terakhir Ramadan menjadi teladan bagi umat Islam dalam meraih keberkahan malam yang lebih baik dari seribu bulan.***