
TUGUJOGJA – Siang itu, Jumat (8/8/2025), halaman Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 19 Bantul berubah menjadi lautan semangat. Yel-yel lantang seperti teriakan pasukan tentara RI menggema menyambut kedatangan Kepala Staf Kepresidenan RI, Letjen TNI (Purn) Anto Mukti Putranto.
Para siswa berdiri rapi, senyumnya merekah, sorot matanya penuh rasa bangga menyambut tamu penting yang datang membawa kabar baik untuk masa depan mereka.
Anto Mukti Putranto tidak sekadar datang untuk melihat. Ia hadir membawa pesan besar dari Presiden Prabowo Subianto: pendidikan adalah hak setiap anak bangsa, termasuk mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu.
“Yang beliau sasar itu bukan hanya orang yang sudah mapan. Presiden ingin memberikan yang terbaik untuk seluruh rakyat, khususnya masyarakat kecil yang membutuhkan akses pendidikan berkualitas,” tegasnya di hadapan awak media.
63 Sekolah Rakyat Telah Berjalan dari Target 200 Sekolah
Dalam paparannya, Anto Mukti Putranto menjelaskan bahwa program sekolah rakyat yang dimotori Kementerian Sosial RI menargetkan pendirian 200 sekolah di seluruh Indonesia. Hingga kini, 63 sekolah rakyat telah beroperasi, termasuk SRMA 19 Bantul yang menjadi contoh nyata keberhasilan program tersebut.
Sekolah rakyat bukan sekadar tempat belajar. Setiap sekolah dilengkapi fasilitas asrama, tempat tidur layak, serta penyediaan makan tiga kali sehari. Konsep ini dirancang agar anak-anak tidak hanya mendapatkan ilmu, tetapi juga gizi, kedisiplinan, dan pembinaan karakter.
“Anak-anak ini tidak hanya sekolah. Mereka tinggal di asrama, makan tiga kali sehari, tidur di tempat yang memadai, dan belajar di lingkungan yang kondusif,” jelasnya.
Kunjungan kali ini juga bertepatan dengan pelantikan 22 guru PPPK SRMA 19 Bantul. Anto menegaskan, Presiden Prabowo tidak hanya memikirkan masa depan siswa, tetapi juga kesejahteraan guru.
“Ini sangat luar biasa. Guru juga mendapatkan hak sesuai porsinya. Tolong hal-hal positif seperti ini disampaikan ke masyarakat,” ujarnya.
Tinjau Menu Makan Siswa Sekolah Rakyat Bantul
Usai berbicara dengan guru dan siswa, Anto menyempatkan diri meninjau menu makan siang untuk 200 siswa SRMA 19 Bantul. Ia mencoba langsung nasi, sayur, dan lauk yang tersaji.
“Kalau nasi itu dingin, rasanya hilang. Maka saya minta nasi disajikan hangat, supaya enak dan gizinya terserap optimal,” katanya sambil tersenyum.
Ia mengakui menu siang itu cukup mewah, yaitu ayam krispy berukuran besar, sayur berbumbu, kerupuk, bahkan kadang nasi goreng. Variasi menu, menurutnya, penting untuk menjaga selera makan anak-anak.
Beberapa siswa sempat bercanda memintanya menambahkan mi goreng ke menu harian. Anto merespons santai, “Boleh, tapi malam hari, supaya tidak mengganggu kegiatan siang.”
Lebih dari sekadar sekolah, SRMA 19 Bantul menerapkan sistem bapak dan ibu asuh. Setiap 10 siswa memiliki satu pendamping yang mengawasi kehidupan mereka sejak bangun tidur hingga kembali ke kasur pada malam hari.
“Yang penting adalah semangat mereka untuk mau belajar. Dengan pengawasan sepanjang tahun, saya yakin mereka akan lulus dengan bekal ilmu dan karakter yang kuat,” kata Anto.
Anto berharap keberadaan sekolah rakyat benar-benar mengangkat derajat anak-anak dari keluarga tidak mampu, sehingga mereka tidak kembali pada lingkungan lama yang membatasi mimpi.
“Kami tidak ingin anak-anak ini menjadi liar atau kembali ke tempat semula. Mereka harus meningkat kehidupannya,” pintanya. (ef linangkung)