
TUGUJOGJA – Menjelang Hari Raya Iduladha, pertanyaan mengenai pilihan hewan kurban kembali mencuat di tengah masyarakat: lebih utama berkurban kambing atau sapi?
Perbedaan harga, jumlah penerima manfaat, hingga skema pelaksanaan kurban sering menjadi pertimbangan utama umat Islam dalam menentukan pilihan.
Dalam kajian fikih, para ulama telah memberikan penjelasan komprehensif terkait keutamaan masing-masing jenis hewan kurban, termasuk dari sisi kualitas, kuantitas, hingga ketakwaan pelaksana ibadah.
Ketentuan Dasar Hewan Kurban dalam Islam
Dalam praktiknya, umat Islam umumnya memilih antara kambing dan sapi sebagai hewan kurban. Secara syariat, terdapat perbedaan mendasar dalam pelaksanaannya. Seekor kambing atau domba hanya diperuntukkan bagi satu orang, sedangkan satu ekor sapi dapat dikurbankan secara kolektif oleh maksimal tujuh orang.
Hal ini sesuai dengan riwayat hadits:
“Kami berqurban bersama Nabi Saw di Hudaibiyah, satu unta untuk tujuh orang, satu sapi untuk tujuh orang.”
(HR Muslim, Abu Daud, Tirmidzi)
Dengan ketentuan ini, umat Islam memiliki fleksibilitas dalam menunaikan ibadah kurban sesuai kemampuan finansial masing-masing.
Perspektif Ulama: Urutan Keutamaan Hewan Kurban
Pengasuh Pesantren Raudlatul Qur’an Arjawinangun, Cirebon, Ustadz M Mubasysyarum Bih menjelaskan bahwa para ulama telah menyusun urutan keutamaan hewan kurban. Urutan tersebut dimulai dari unta, sapi, kambing domba, kambing kacang, unta kolektif, hingga sapi kolektif.
Penjelasan ini menunjukkan bahwa secara umum, hewan dengan ukuran lebih besar memiliki nilai keutamaan lebih tinggi jika dilihat dari aspek jumlah daging yang dihasilkan. Namun, terdapat pertimbangan lain yang tidak kalah penting.
Kualitas vs Kuantitas dalam Ibadah Kurban
Dalam menentukan pilihan antara kambing dan sapi, terdapat dua aspek utama yang sering dijadikan tolok ukur, yakni kualitas dan kuantitas.
Dari sisi kualitas, berkurban secara individu dinilai lebih utama dibandingkan kurban kolektif. Hal ini ditegaskan dalam hadits:
”Pada masa Rasulullah Saw ada seseorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai kurban bagi dirinya dan keluarganya.”
(HR Tirmidzi)
Artinya, satu ekor kambing yang dikurbankan secara pribadi memiliki nilai ibadah yang lebih tinggi dibandingkan patungan sapi, karena pelaksanaannya dilakukan secara utuh oleh satu individu.
Sementara itu, dari sisi kuantitas, sapi memiliki keunggulan karena ukuran tubuhnya lebih besar sehingga menghasilkan lebih banyak daging. Hal ini berdampak pada luasnya distribusi manfaat kepada masyarakat.
Penegasan Ulama: Kambing Lebih Utama dari Sapi Kolektif
Pendapat menarik disampaikan oleh Syekh Khathib al-Syarbini dalam kitabnya:
“Lebih utamanya macam-macam kurban dengan melihat pertimbangan syiar adalah unta kemudian sapi, karena daging unta lebih banyak. Kemudian domba, kemudian kambing kacang, sebab lezatnya daging domba melebihi kambing kacang, kemudian berkurban kolektif dalam unta atau sapi,” urai Syekh Khathib. “Adapun melihat daging, maka daging domba adalah yang terbaik. Tujuh ekor kambing lebih utama dari satu ekor unta atau sapi. Satu ekor kambing lebih utama dari kurban unta atau sapi secara kolektif, sebab menyendiri dalam mengalirkan darah,” imbuh Syekh Khathib.
Pernyataan ini mempertegas bahwa kurban kambing yang dilakukan sendiri lebih utama dibandingkan kurban sapi secara patungan.
Hukum Patungan Kurban Sapi
Dosen Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Hengki Ferdiansyah, menjelaskan bahwa praktik patungan kurban diperbolehkan oleh mayoritas ulama.
Syarat utamanya adalah:
- Hewan yang dikurbankan berupa sapi atau unta
- Jumlah peserta maksimal tujuh orang
Sementara itu, patungan untuk kambing tidak diperbolehkan jika diniatkan sebagai ibadah kurban.
Ketakwaan Jadi Penentu Utama
Di luar perdebatan soal jenis hewan, Islam menegaskan bahwa nilai utama ibadah kurban terletak pada ketakwaan. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.”
(QS. Al-Hajj: 37)
Ayat ini menegaskan bahwa ukuran hewan, harga, maupun jumlahnya bukanlah faktor utama yang menentukan diterimanya ibadah kurban, melainkan keikhlasan dan niat pelaksana.
Kurban Sesuai Kemampuan
Dalam praktiknya, umat Islam dianjurkan untuk menyesuaikan pilihan kurban dengan kemampuan masing-masing. Tidak ada keharusan untuk memaksakan diri di luar batas kemampuan.
Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW:
“Apa yang aku larang hendaklah kalian menjauhinya, dan apa yang aku perintahkan maka lakukanlah semampu kalian. Sesungguhnya binasanya orang-orang sebelum kalian adalah karena mereka banyak bertanya dan karena penentangan mereka terhadap para nabi mereka.”
(HR Bukhari dan Muslim)
Dengan demikian, seseorang yang berkurban kambing secara mandiri dapat memiliki nilai ibadah yang lebih tinggi dibandingkan kurban sapi patungan, selama dilakukan dengan penuh keikhlasan.
Tidak Sekadar Jenis Hewan
Perbandingan antara kurban sapi dan kambing tidak bisa disimpulkan secara sederhana. Dari sisi kualitas, kambing lebih utama jika dilakukan sendiri. Dari sisi kuantitas, sapi memberikan manfaat lebih luas. Namun, aspek paling menentukan tetaplah ketakwaan.
Pilihan terbaik adalah yang sesuai kemampuan, dilakukan dengan niat tulus, serta bertujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT.***
Agen Togel Terpercaya Sangkarbet