
TUGU JOGJA – Kajian mendalam mengenai tasawuf sering kali dianggap sebagai perjalanan personal yang eksklusif. Namun, dalam ulasan terbaru mengenai Kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah as-Sakandari, M. Nur Kholis Setiawan menegaskan bahwa pencapaian spiritual tertinggi atau makrifat justru membawa tanggung jawab sosial yang besar.
Berdasarkan Hikmah ke-30, terdapat penekanan bahwa mereka yang telah “sampai” kepada Allah memiliki kewajiban untuk membagikan anugerah pengetahuan tersebut kepada sesama.
Memahami Konsep Al-Wasilun dan Kewajiban Berbagi
Dalam perspektif Kitab Al-Hikam, M. Nur Kholis Setiawan menjelaskan adanya kategorisasi antara Al-Wasilun (mereka yang sudah sampai pada derajat makrifat) dan As-Sairun atau As-Salik (mereka yang masih dalam perjalanan),. Bagi kelompok Al-Wasilun, keluarnya mereka dari “penjara” pandangan selain Allah menuju puncak tauhid menuntut sebuah kepekaan sosial.
M. Nur Kholis Setiawan menekankan bahwa ketika seseorang telah dianugerahi kejernihan mata batin (bashirah), maka anugerah tersebut tidak boleh dinikmati sendiri.
“Orang-orang ini (Al-Wasilun) memiliki kewajiban untuk peka untuk kemudian memiliki kepedulian kepada orang lain. Jadi diminta untuk menafkahkan mensedekahkan pengetahuannya kepada orang-orang lain,โ ujarnya.
Kewajiban ini didasarkan pada ayat Al-Qur’an, liyunfiq dhu sa’atin min sa’atih, yang memerintahkan setiap orang untuk menafkahkan apa yang dikaruniakan kepadanya. Dalam konteks ini, “harta” yang dimaksud bukan sekadar materi bendawi, melainkan ilmu pengetahuan dan anugerah makrifat.
Sufistik Tidak Egois: Kepedulian Terhadap Sesama
Salah satu poin penting yang disampaikan M. Nur Kholis Setiawan adalah bantahan terhadap pandangan bahwa dunia sufistik bersifat individualis. Sebaliknya, kematangan spiritual diukur dari sejauh mana seseorang mampu memberikan kontribusi bagi orang lain.
“Dunia sufistik itu tidak egois, tidak hanya mementingkan dirinya sendiri tapi justru memiliki kepedulian terhadap sesama,” ujar M. Nur Kholis Setiawan.
Bagi para guru spiritual atau Mursyid yang telah mencapai maqam Al-Arif Billah, membagikan ilmu adalah bentuk bimbingan agar para murid juga dapat merasakan kedekatan dengan Sang Pencipta,. Proses “menularkan” pengalaman spiritual ini menjadi sangat penting agar transformasi batin tidak berhenti pada satu individu saja.
Ilmu untuk Kemanusiaan dan Peradaban
Lebih lanjut, M. Nur Kholis Setiawan menjelaskan bahwa setiap profesi, baik itu ASN, pengusaha, maupun petani, memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi Al-Wasil atau orang yang dekat dengan Allah,. Kuncinya terletak pada bagaimana setiap individu menjadikan profesinya sebagai piranti untuk beribadah dan berkontribusi bagi kemanusiaan.
“Bagi yang dianugerahi ilmu pengetahuan maka ibadah yang bisa dilakukan dengan optimal adalah bagaimana mentasarufkan pengetahuan menjadi ilmu tidak hanya untuk ilmu tapi juga untuk kemanusiaan. Science is not only for science, but also for humanism,โ tutur M. Nur Kholis Setiawan.
Perbedaan Peran Al-Wasilun dan As-Sairun
Meskipun semua pihak didorong untuk berupaya, M. Nur Kholis Setiawan mengingatkan bahwa terdapat perbedaan kapasitas antara mereka yang sudah sampai (Al-Wasilun) dengan yang masih berproses (As-Sairun). Kelompok yang masih berproses sering kali menghadapi keterbatasan, baik dari segi pemahaman maupun rezeki,. Namun, keterbatasan tersebut justru harus dijadikan modal dan pemicu untuk terus mendekatkan diri kepada Allah melalui evaluasi diri atau muhasabah secara rutin.
Dengan demikian, ajaran dalam Hikmah 30 ini memberikan wawasan bahwa ilmu makrifat bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari pengabdian yang lebih luas kepada umat manusia melalui sedekah ilmu. M. Nur Kholis Setiawan mengajak semua pendengar untuk terus melakukan introspeksi agar kualitas diri meningkat dari hari ke hari demi mencapai kedekatan dengan-Nya.