
TUGUJOGJA— Suasana di Gedhong Pare Anom, Kompleks Kepatihan, Rabu pagi itu, penuh semangat intelektual dan kebanggaan budaya. Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X, menyambut rombongan Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta (UPN Veteran Yogyakarta).
Sri Paduka menyampaikan pesan mendalam: membaca adalah ibu kandung kebudayaan. Ia menegaskan bahwa kebiasaan membaca bukan sekadar kegiatan akademik, melainkan fondasi peradaban.
Baginya, membaca adalah cara paling sederhana tapi paling kuat untuk menjaga jati diri bangsa. Menghancurkan negara lebih cepat dengan menghancurkan budaya.
Pesan Sri Paduka
“Membaca itu adalah ibu kandung kebudayaan,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh elemen pendidikan tinggi agar tidak berhenti hanya pada pengajaran ilmu, tetapi juga aktif menanamkan kesadaran budaya kepada masyarakat.
“Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar. Tidak cukup mencerdaskan mahasiswa, tetapi juga harus mencerdaskan masyarakat,” lanjutnya.
Menurut Sri Paduka, pendidikan sejati adalah yang mampu menyalakan obor kebijaksanaan di tengah kehidupan rakyat.
Dalam pertemuan tersebut, Sri Paduka mendorong UPN Veteran Yogyakarta untuk memperluas kontribusi dalam penguatan literasi masyarakat. Ia mengapresiasi berbagai program pengabdian kampus yang berakar pada nilai budaya lokal dan berharap agar semangat itu terus dijaga.
“Literasi adalah bagian dari perjuangan menjaga jati diri bangsa,” tuturnya.
Ia percaya, budaya membaca dapat menjadi benteng yang kuat menghadapi derasnya arus globalisasi yang kerap mengikis identitas lokal.
Semangat Olahraga dalam Jiwa Kebudayaan
Sejalan dengan pesan Sri Paduka, UPN Veteran Yogyakarta juga tengah menyiapkan Kejuaraan Karate Nasional antar mahasiswa. Kegiatan bergengsi ini akan memperebutkan Piala Paku Alam, sekaligus menjadi bagian dari perayaan Dies Natalis ke-67 kampus tersebut.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama, Hendro Widjanarko, menuturkan bahwa ajang ini bukan hanya perlombaan fisik, tetapi juga wadah pembentukan karakter.
“Harapannya, mahasiswa tidak hanya bersemangat dalam olahraga karate, tetapi juga dalam menumbuhkan semangat budaya dan memahami nilai-nilai luhur di baliknya,” jelas Hendro.
Ia menambahkan, Piala Paku Alam Cup akan menjadi kegiatan tahunan yang mempertemukan atlet-atlet muda dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
“Nama Paku Alam kami pilih bukan sekadar penghormatan, tetapi karena beliau adalah sosok inspiratif, pemimpin yang mengakar pada nilai budaya dan kebangsaan,” ujarnya.
Kejuaraan ini rencananya digelar Desember mendatang di GOR Amangrogo, Yogyakarta. Ajang tersebut akan menjadi momentum penting bagi mahasiswa untuk menyalurkan semangat bela negara melalui jalur olahraga yang menjunjung sportivitas dan kehormatan.
Melalui kegiatan ini, UPN Veteran Yogyakarta ingin menunjukkan bahwa olahraga dan budaya sejatinya memiliki satu napas: membentuk manusia yang tangguh, berkarakter, dan berjiwa nasionalis.
“Harapan kami, Piala Pakualam Cup ini menambah semangat adik-adik mahasiswa. Tidak hanya dalam olahraga, tetapi juga dalam membangun kebudayaan,” pungkas Hendro. (ef linangkung)